Sensatia Program kerja · 90 hari
Usulan untuk pembahasan Revisi

Pilih poin untuk membaca rincian. Gunakan daftar isi untuk berpindah pembahasan.

Panduan penekananArah utamaPrioritas / keputusanRisiko tinggi / eskalasi segeraCatatan pendukung
BAB 1 · RINGKASAN · RENCANA 90 HARI

Integrated Production Planning, Inventory & Warehouse Excellence

Perencanaan produksi terpadu, pengendalian persediaan, dan keunggulan operasional Warehouse.

Yasa KaryadaCompliance & Internal AuditUsulan untuk HR dan pimpinan Operations
GAMBARAN MENYELURUH

1.1 Peta program kerja

Peta struktur kerja dan rencana pelaksanaan

Pilih tautan untuk menuju pembahasan ↗
MULAI DARI MASALAHKekosongan toko & risiko kesiapan bahanValidasi bukti → temukan penyebab → tetapkan tindakan
01

Siapa yang menjalankan?

Struktur kerja ↗

Melaporkan kepada: Ni Luh Somawati — Deputy COO (wakil pimpinan operasional)
Akuntabilitas eksekutif: I Nengah Riadi — COO

Manajer PPIC & WarehouseRencana produksi · kebutuhan bahan · integritas stok
PPIC SPVKoordinator PPIC → Staf

Rencana · material · kapasitas · parameter stok

Warehouse SPVKoordinator Bahan Kemas, Bahan Baku & In Out → staf masing-masing

Stok bahan akurat · penerimaan · pengeluaran bahan/retur

Usulan: tiga SPV sejajar melapor kepada Manager. PPIC menangani rencana; Warehouse menangani bahan awal; Stock Control menangani produk jadi. Struktur dan delegasi berlaku setelah disahkan perusahaan.

  1. 01–30 HARIValidasi & pulihkanData awal · PIC (penanggung jawab pekerjaan) · stok kritis · target disahkan
  2. 31–60 HARIJalankan & binaUji coba · perbaikan · pembinaan PPIC & Warehouse
  3. 61–90 HARIUji hasil & evaluasiBukti efektivitas · tren kinerja · risiko tersisa

Urutan pembahasan: 1 Ringkasan → 2 Kerangka Kerja → 3 Struktur & Tugas → 4 Perencanaan & Pasokan → 5 Kontrol & Risiko → 6 Rencana 90 Hari → 7 Evaluasi Hasil → 8 Kesiapan & Keputusan. Nomor bagian seperti 4.1 menunjukkan letak pembahasan; Tahap 01–10 menunjukkan urutan proses pada bagan.

Bab 1 · Ringkasan / Ringkasan untuk pengambilan keputusan

1.2 Mandat kerja dan hasil 90 hari

Disampaikan kepada HR (fungsi pengelolaan SDM), Deputi COO (wakil pimpinan operasional), dan COO.

01 · Masalah bisnis

Kekosongan produk di toko perlu ditelusuri dari permintaan, akurasi stok, kesiapan bahan dan produksi hingga pengiriman. Langkah awal: verifikasi kasus prioritas dan pulihkan pasokan yang paling terdampak.

Lihat diagnosis dan tindakan →

02 · Prioritas kerja

Selaraskan rencana produksi dan material, cocokkan stok fisik dengan Stockwiz, lalu koordinasikan pemenuhan bersama tim Warehouse, Production, Quality, Purchasing dan Logistics. Tiga SPV (koordinasi dan pengawasan pekerjaan area) merangkum rencana, pelaksanaan serta hambatan area.

Lihat mandat dan pembagian tugas →

03 · Hasil 90 hari

Hari 30: kondisi awal, prioritas dan target disepakati. Hari 60: uji coba berjalan dengan tindakan terverifikasi. Hari 90: evaluasi layanan, kesiapan bahan, akurasi stok, produktivitas serta biaya menjadi dasar keputusan perluasan.

Lihat indikator dan evaluasi →

04 · Dukungan pelaksanaan

Akses Stockwiz dan data kebutuhan, waktu koordinasi lintas fungsi, penanggung jawab area serta petugas pengganti. In Out, Admin, Stock Keeper, Sortir dan pemenuhan B2B (penjualan kepada pelanggan bisnis) mengikuti jalur koordinasi yang jelas.

Lihat usulan koordinasi tugas →

05 · Keputusan yang diminta

Sepakati penugasan Manager, cakupan lokasi, delegasi, tim dan lokasi uji coba; lalu jalankan review hari 30, 60 dan 90 bersama HR, Deputi COO dan COO. Target numerik mengikuti kondisi awal yang terverifikasi. Perbaikan dimulai dengan data yang tersedia; biaya atau sistem tambahan diajukan berdasarkan kebutuhan dan manfaat.

Lihat kesepakatan penugasan →

Bab 1 · Ringkasan / Program prioritas bisnis

1.3 Diagnosis kekosongan stok retail

Tujuan: meningkatkan ketersediaan produk yang layak jual di rak toko, dengan pengendalian modal kerja, kapasitas, dan risiko kedaluwarsa.

Telusuri setiap kasus stok kosong dari rak, stok fisik, transaksi, rencana pasokan hingga produksi. Tetapkan tindakan setelah titik kegagalannya terbukti.

Pendekatan ini berangkat dari pengalaman audit retail dan bahan kemas: lihat kasus Mal Ratu Indah dan Warehouse A&B serta rencana tindak lanjutnya.

PETA PENJELASAN

Dari kebutuhan sampai produk tersedia di rak

Ikuti arah panah untuk melihat urutan proses. Pilih satu langkah untuk membaca proses, pelaksana, pengawas, bukti kerja dan tindak lanjut masalah.

Nomor adalah urutan langkah dalam bagan. Pilih langkah untuk membuka rincian.

  1. Retail dan tim e-commerce memvalidasi kebutuhan toko serta pesanan online. Stock Control merangkum produk jadi yang layak dialokasikan di Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, dan DC JKT, termasuk stok toko dan e-commerce, reservasi, barang dalam perjalanan serta umur stok. PPIC memakai data pada waktu acuan yang sama untuk menghitung kebutuhan pengisian dan produksi bersih; stok yang sama tidak dihitung dua kali.

    Pelaksana
    Koordinator PPIC dan Staf; Koordinator Stockroom Jasri atau DC terkait beserta staf; Retail dan tim e-commerce. Warehouse menyediakan saldo bahan baku dan bahan kemas.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV memeriksa perhitungan; Stock Control SPV memvalidasi kesiapan produk jadi; Manager menetapkan prioritas dalam mandat.
    Bukti kerja
    Daftar kebutuhan per SKU–lokasi–tanggal, saldo per batch/status, proyeksi penjualan, reservasi, pasokan terbuka dan rencana dengan nomor versi yang jelas.
    Jika ada masalah
    Selisih saldo ke Stock Control SPV; kekurangan bahan ke Warehouse SPV dan PPIC; konflik prioritas ke Manager. Kebutuhan belum ditutup sebelum penerimaan terbukti.
  2. PPIC menerjemahkan rencana produksi menjadi jumlah dan tanggal kebutuhan bahan. Procurement/Purchasing menerbitkan pesanan sesuai kewenangan dan mengonfirmasi kesanggupan pemasok. Warehouse mengonfirmasi ruang serta kesiapan penerimaan; tanggal tiba dibedakan dari tanggal bahan dapat digunakan setelah keputusan mutu.

    Pelaksana
    Staf PPIC menyiapkan kebutuhan; Procurement/Purchasing menangani pesanan dan pemasok; Koordinator In Out menyiapkan penerimaan.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV memeriksa kebutuhan; pimpinan Purchasing/pejabat berwenang mengotorisasi pembelian; Warehouse SPV memeriksa kesiapan Warehouse.
    Bukti kerja
    Permintaan pembelian, PO sah, konfirmasi jumlah/tanggal, daftar pesanan terbuka dan perkiraan kesiapan bahan.
    Jika ada masalah
    Pasokan terlambat atau parsial ke PPIC dan Manager untuk evaluasi jadwal; perubahan pemasok, biaya atau spesifikasi mengikuti persetujuan fungsi terkait.
  3. In Out memeriksa dokumen, jumlah, identitas dan kondisi bahan datang. Koordinator Bahan Baku/Bahan Kemas mengatur penempatan, identitas batch, lokasi dan kondisi simpan. Admin/petugas yang ditetapkan mencatat penerimaan satu kali. Quality menetapkan status mutu sebelum bahan dinyatakan siap digunakan.

    Pelaksana
    Koordinator dan Staf In Out, tim Bahan Baku/Bahan Kemas, Stock Keeper serta Admin sesuai penugasan.
    Pengawas / keputusan
    Warehouse SPV mengawasi penerimaan dan penyimpanan; Quality memutuskan pelulusan, penahanan atau penolakan.
    Bukti kerja
    Bukti terima, hasil pemeriksaan, label batch/status, lokasi simpan, catatan kondisi dan transaksi yang sesuai fisik.
    Jika ada masalah
    Selisih ke Warehouse SPV dan Purchasing; kondisi/status diragukan dipisahkan dan dilaporkan ke Quality. Bahan hold tidak dikeluarkan untuk produksi.
  4. Pengeluaran bahan adalah penyerahan bahan dari Warehouse ke Production berdasarkan order produksi. Warehouse menyiapkan bahan yang telah diluluskan, memeriksa jumlah, batch dan satuan, lalu mencatat pengeluaran serta bukti penerimaannya. Setelah menerima dan memverifikasi bahan, Production menjalankan manufaktur, yaitu proses mengolah bahan menjadi produk sesuai instruksi produksi, lalu mencatat pemakaian, hasil, sisa, retur serta kehilangan proses. PPIC membandingkan realisasi dengan jadwal dan kebutuhan awal.

    Pelaksana
    Koordinator Bahan Baku/Bahan Kemas dan staf menyiapkan pengeluaran bahan dan retur bahan; Admin mencatat; tim Production melaksanakan manufaktur.
    Pengawas / keputusan
    Warehouse SPV memeriksa kesiapan bahan; pimpinan Production mengawasi proses; PPIC SPV memantau jadwal; Quality menangani status mutu.
    Bukti kerja
    Permintaan dan bukti pengeluaran, batch/UOM, penerima, catatan produksi, retur bahan serta rencana dibanding aktual.
    Jika ada masalah
    Shortage atau deviasi ke PPIC SPV dan Manager; penyimpangan mutu ke Quality. Substitusi bahan dan perubahan proses mengikuti persetujuan yang berlaku.
  5. Production menyerahkan hasil dengan referensi order dan batch. Koordinator Stockroom Jasri atau DC terkait beserta staf memeriksa jumlah, kondisi dan dokumen lalu menempatkan produk sesuai status. Stock Control merangkum saldo produk jadi; hanya produk yang telah diluluskan dan tidak terikat reservasi lain dapat dialokasikan.

    Pelaksana
    Production, Koordinator dan staf Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG dan DC JKT; Admin/petugas pencatatan transaksi yang ditetapkan.
    Pengawas / keputusan
    Stock Control SPV mengawasi penerimaan, lokasi dan saldo; Quality menetapkan pelulusan; PPIC menerima realisasi hasil.
    Bukti kerja
    Serah terima hasil produksi, jumlah/batch/expiry, lokasi/status, hasil pemeriksaan, bukti posting dan selisih terhadap order.
    Jika ada masalah
    Hasil kurang atau terlambat ke PPIC dan Manager; kemasan rusak atau status belum jelas ke Quality. Produk hold tetap terpisah dari stok siap distribusi.
  6. Stock Control SPV mengatur pemenuhan toko, e-commerce dan pelanggan bisnis dari Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG atau DC JKT sesuai alokasi yang disepakati bersama PPIC. Koordinator lokasi membagi tugas pengambilan barang, pemeriksaan jumlah/batch/kedaluwarsa, pengemasan dan serah terima. Logistics menerima kiriman dan menangani transportasi sampai tujuan. Stok yang sudah dicadangkan untuk pesanan lain tidak dialokasikan kembali.

    Pelaksana
    Koordinator dan staf Stockroom Jasri atau DC terkait melakukan pick, check dan pack; Admin menyiapkan dokumen; Logistics mengangkut.
    Pengawas / keputusan
    Stock Control SPV memeriksa kesiapan, pekerjaan yang belum selesai dan transfer; Logistics mengendalikan pengiriman; Manager mengoordinasikan konflik alokasi dengan Commercial sesuai kewenangan.
    Bukti kerja
    Order/alokasi, pick list, pemeriksaan jumlah/batch/expiry, surat jalan, penerima serah terima serta saldo barang dalam perjalanan.
    Jika ada masalah
    Kekurangan atau salah pick ke Koordinator DC dan Stock Control SPV; kendala angkut ke Logistics. Transfer baru ditutup setelah tujuan mengonfirmasi jumlah aktual.
  7. Untuk toko, petugas memeriksa kiriman, mencatat jumlah yang diterima dan mengisi rak. Untuk e-commerce, tim pemenuhan mencocokkan barang dengan pesanan online, memastikan pencatatan stok serta bukti pengiriman dan penerimaan pelanggan. Stock Control mencocokkan stok keluar dari Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG atau DC JKT dengan bukti tujuan. PPIC memperbarui kebutuhan yang belum terpenuhi berdasarkan hasil aktual. Stok e-commerce yang dialokasikan dari Jasri atau DC tidak ditambahkan lagi sebagai stok fisik baru.

    Pelaksana
    Staf toko, Store Manager dan tim e-commerce; Koordinator Stockroom Jasri atau DC pengirim, Admin dan Logistics menindaklanjuti bukti penerimaan.
    Pengawas / keputusan
    Retail Operations mengawasi penerimaan dan pengisian rak toko; tim e-commerce memeriksa pemenuhan pesanan online; Stock Control SPV mengawasi rekonsiliasi distribusi; PPIC SPV memantau sisa kebutuhan.
    Bukti kerja
    Bukti terima tujuan, jumlah/batch, selisih/rusak, waktu refill, pemeriksaan rak serta pembaruan saldo dan pekerjaan yang belum selesai.
    Jika ada masalah
    Barang kurang/rusak ke Retail, Logistics dan Stock Control; masalah mutu ke Quality. Kebutuhan parsial tetap terbuka dan recall mengikuti keputusan Quality.
Alur pasokan · Langkah 1 dari 7

Kebutuhan & rencana

Retail dan tim e-commerce memvalidasi kebutuhan toko serta pesanan online. Stock Control merangkum produk jadi yang layak dialokasikan di Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, dan DC JKT, termasuk stok toko dan e-commerce, reservasi, barang dalam perjalanan serta umur stok. PPIC memakai data pada waktu acuan yang sama untuk menghitung kebutuhan pengisian dan produksi bersih; stok yang sama tidak dihitung dua kali.

Pelaksana
Koordinator PPIC dan Staf; Koordinator Stockroom Jasri atau DC terkait beserta staf; Retail dan tim e-commerce. Warehouse menyediakan saldo bahan baku dan bahan kemas.
Pengawas / keputusan
PPIC SPV memeriksa perhitungan; Stock Control SPV memvalidasi kesiapan produk jadi; Manager menetapkan prioritas dalam mandat.
Bukti kerja
Daftar kebutuhan per SKU–lokasi–tanggal, saldo per batch/status, proyeksi penjualan, reservasi, pasokan terbuka dan rencana dengan nomor versi yang jelas.
Jika ada masalah
Selisih saldo ke Stock Control SPV; kekurangan bahan ke Warehouse SPV dan PPIC; konflik prioritas ke Manager. Kebutuhan belum ditutup sebelum penerimaan terbukti.

Warehouse SPV menangani bahan awal; Stock Control SPV menangani produk jadi dan Bulk sesuai cakupan yang disahkan. Commercial mengonfirmasi kebutuhan B2B dan Logistics mengangkut. Jasri, DC PG dan DC JKT memakai ID lokasi berbeda; alokasi toko/e-commerce tidak menambah stok fisik.

Lihat arti istilah pada daftar A–Z →

Prinsip diagnosis: telusuri kasus dari rak ke hulu; perbaiki pasokan dari hulu ke rak. Pisahkan stok Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG dan DC JKT berdasarkan ID lokasi. Cocokkan stok toko dan e-commerce dengan sumber barangnya agar saldo dan kebutuhan transfer tidak dihitung dua kali.

Peta penyebab dan tindakan korektif

Rak kosong, stok ada di Warehouse toko

Bukti

Hitung rak dan Warehouse toko; cek waktu penerimaan, jadwal refill, kapasitas display, dan PIC (penanggung jawab pekerjaan) per shift.

Tindakan / penanggung jawab

Retail melakukan refill sebelum jam ramai dan pemeriksaan rak SKU (kode unik jenis atau varian barang) prioritas. Store Manager memimpin; Inventory Control memverifikasi pencatatan.

Sistem menunjukkan stok, barang layak jual tidak tersedia

Bukti

Blind count; cek tester, sampel, rusak, retur, kehilangan, salah lokasi, serta penjualan atau transfer yang belum tercatat.

Tindakan / penanggung jawab

Inventory Control dan toko merekonsiliasi dengan bukti; pisahkan status non-saleable; lakukan adjustment sesuai otorisasi dan tutup penyebab selisih.

Toko kosong, DC punya stok available

Bukti

Cek parameter minimum, permintaan toko, persetujuan, cut-off, alokasi kanal, pekerjaan yang belum selesai (pekerjaan yang belum selesai) pengambilan barang (pengambilan barang sesuai pesanan), dan kapasitas angkut.

Tindakan / penanggung jawab

Planning dan Retail memperbaiki replenishment (pengisian ulang stok); DC dan Logistics menyepakati jadwal serta SLA (kesepakatan standar layanan dan waktu penyelesaian) pesanan hingga penerimaan. Pantau pesanan terlambat setiap hari.

DC PG atau DC JKT kosong, Stockroom Jasri masih memiliki produk yang sudah diluluskan

Bukti

Cek transfer dari Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) ke DC PG atau DC JKT, status reservasi, jumlah tersedia bersih, usia antrean, dan bukti penerimaan DC.

Tindakan / penanggung jawab

PPIC & Warehouse Manager menyelaraskan prioritas melalui PPIC SPV (pengawas pelaksanaan kerja area) dan Stock Control SPV. Koordinator DC pengirim/penerima menyiapkan serta merekonsiliasi transfer; Logistics memastikan transportasi dan serah terima. Gunakan ID lokasi pengirim dan penerima yang berbeda saat transfer dari Stockroom Jasri ke DC PG atau DC JKT. Barang dalam perjalanan tetap ditelusuri dengan satu referensi transfer.

Produk ada tetapi masih quarantine / blocked

Bukti

Cek waktu FG (produk jadi) penerimaan, kelengkapan dokumen batch, alasan hold, dan antrean pemeriksaan QA (pemastian mutu)/QC (pengawasan mutu).

Tindakan / penanggung jawab

Warehouse dan QA/QC menuntaskan dokumen dan penyebab hold. Pelepasan kualitas tetap kewenangan QA/QC; stok hold tidak dihitung sebagai stok siap jual.

Produk jadi habis di Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG dan DC JKT

Bukti

Cek forecast, promosi, jadwal produksi, kapasitas, ketersediaan bahan/kemasan, yield, dan keterlambatan release.

Tindakan / penanggung jawab

PPIC menyusun recovery plan bersama Production, Procurement, dan QA/QC; Warehouse menyediakan saldo tervalidasi dan prioritas shortage per SKU.

Toko tertentu habis, toko lain berlebih

Bukti

Bandingkan laju penjualan, days of cover, musim/promosi, lead time (waktu tunggu pemenuhan), umur stok, dan parameter tiap SKU–toko.

Tindakan / penanggung jawab

Retail dan Planning menyeimbangkan alokasi; transfer antartoko hanya jika stok toko pengirim tetap mencukupi, umur simpan cukup, dan biaya pengiriman layak.

Penyebab ditetapkan setelah pemeriksaan fisik, transaksi dan bukti pendukung pada tiap kasus.

BAB 2 · KERANGKA KERJA TERPADU

2.1 Satu alur, setiap tahap punya hasil

Masukan → pekerjaan → hasil
Ikuti Tahap 01–10, lalu kembali ke 01

Cara membaca: Ikuti panah dari pemeriksaan masalah sampai perbaikan. Hasil satu tahap digunakan untuk menjalankan tahap berikutnya. Pilih kartu untuk membaca rincian.

Hasil tahap 10 menjadi masukan untuk tahap 01
Koordinasi, kontrol & rencana 90 hari
KOORDINASI & KEPUTUSANPPIC & Warehouse ManagerPPIC SPV · Warehouse SPV · Stock Control SPV
Pelaporan operasional: Ni Luh Somawati
Risiko yang berdampak besar / di luar mandat: Ni Luh Somawati & I Nengah Riadi

PPIC (Production Planning and Inventory Control): perencanaan produksi dan pengendalian persediaan.

Pembagian kerja: Manager menetapkan prioritas; SPV mengendalikan areanya; koordinator membagi dan memeriksa tugas; staf melaksanakan. Satu petugas mencatat tiap transaksi. Pemeriksa stok dipisahkan dari pemegang stok sesuai risiko. Rincian tugas ada pada Bab 3.

KONTROL DI SETIAP TAHAP

Stockwiz & bukti transaksi · pemisahan tugas · rotasi sesuai kedaluwarsa/penerimaan · keputusan mutu oleh Quality · persetujuan sesuai delegasi · pemeriksaan independen

Ukuran hasil: akurasi stok · kepatuhan jadwal · kesiapan bahan · produktivitas · umur stok · penyelesaian selisih · modal kerja. Target ditetapkan setelah kondisi awal terverifikasi.

Bab 3 · Struktur & Tugas / Struktur dan koordinasi pelaksanaan

3.1 Manager, tiga SPV, koordinator dan staf

Gunakan bagan untuk menjelaskan peran dan jalur pelaporan. Pilih nama jabatan untuk membuka rincian tugasnya.

USULAN STRUKTUR · TIGA SUPERVISOR

Struktur koordinasi PPIC & Warehouse

Manager berkoordinasi dengan tiga SPV (koordinasi dan pengawasan pekerjaan area) sejajar; setiap SPV merangkum pekerjaan melalui koordinator dan staf area.

MELAPORKAN KEPADA · NI LUH SOMAWATI — DEPUTY COO | AKUNTABILITAS EKSEKUTIF · I NENGAH RIADI — COOPPIC & Warehouse Manager

Memimpin rencana produksi/material, integritas stok, sumber daya dan kinerja ketiga jalur supervisi.

01 · PERENCANAANPPIC Supervisor

Stok FG (produk jadi) Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, DC JKT, serta stok toko dan e-commerce + histori penjualan → kebutuhan produksi/material → jadwal dan kendali perubahan.

02 · BAHAN AWALWarehouse Supervisor
↓ Koordinator Bahan Kemas↓ Staf Bahan Kemas

Data bahan awal yang akurat, penerimaan, penyimpanan, kesiapan bahan released, pengeluaran bahan serta retur bahan produksi.

03 · PRODUK JADIStock Control SPV
↓ Koordinator Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat)↓ Staf Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat)
↓ Koordinator DC PG↓ Staf DC PG
↓ Koordinator DC JKT↓ Staf DC JKT

Saldo produk jadi per lokasi di Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG dan DC JKT dan Bulk Supply Amenities, batch/status, transfer, pengambilan dan pemeriksaan barang serta serah terima ke Logistics. Ruang lingkup bulk dan batas dengan bahan awal diselaraskan dengan PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan), Production dan Quality.

Pelaksanaan bersama: Admin, Stock Keeper dan Sortir berkoordinasi dengan koordinator area sesuai barang dan lokasi. Warehouse SPV merangkum serta mengawasi pekerjaan bahan awal; pekerjaan produk jadi dan pemenuhan B2B (penjualan kepada pelanggan bisnis) dirangkum dan diawasi Stock Control SPV.

Pelaporan: staf → koordinator → SPV area → Manager → Ni Luh Somawati. Risiko yang berdampak besar atau keputusan di luar kewenangan dikoordinasikan dengan Ni Luh Somawati dan I Nengah Riadi. Struktur, penugasan orang dan pembagian kewenangan ini masih berupa usulan yang memerlukan persetujuan perusahaan.

Hasil yang diperiksa setiap SPV dan pembagian tugas tim

PPIC SPV
  • Memastikan tim menggunakan rencana produksi dan kebutuhan bahan yang terbaru.
  • Memeriksa perhitungan kebutuhan bersih.
  • Memantau kesiapan bahan sesuai tanggal kebutuhan.
  • Memeriksa perbedaan jadwal rencana dengan pelaksanaan dan menindaklanjuti penyebabnya.
Warehouse SPV
  • Memeriksa akurasi stok bahan awal.
  • Mengawasi penerimaan bahan baku dan bahan kemas.
  • Memeriksa kondisi serta ketertiban penyimpanan.
  • Mengawasi pengeluaran bahan ke produksi dan retur bahan.
  • Menindaklanjuti transaksi yang belum dicatat atau diselesaikan.
Stock Control SPV
  • Memeriksa saldo produk jadi di Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, DC JKT dan area Bulk sesuai cakupan yang disahkan.
  • Memeriksa stok yang sudah dicadangkan untuk pesanan tertentu.
  • Memantau umur stok dan risiko kedaluwarsa.
  • Mengatur pembagian stok produk jadi sesuai rencana yang disepakati.
  • Mengawasi pengambilan barang sesuai pesanan dan pemeriksaan sebelum pengiriman.
  • Memantau pemindahan barang antar-lokasi sampai penerimaannya dikonfirmasi.
  • Memastikan bukti penerimaan di tujuan tersedia dan cocok.
Tugas bersama seluruh SPV
  • Mengatur kapasitas dan prioritas pekerjaan area.
  • Memeriksa laporan koordinator.
  • Membina staf melalui koordinator area.
  • Membawa hambatan atau keputusan di luar kewenangan kepada Manager.
Koordinator
  • Membagi tugas dan mengatur pelaksanaan pekerjaan area.
  • Memeriksa hasil staf serta kelengkapan bukti kerja.
Staf
  • Melaksanakan pekerjaan sesuai penugasan dan prosedur.
  • Mencatat realisasi serta menyerahkan bukti kerja kepada koordinator.

Admin Warehouse

Berkoordinasi dengan koordinator area untuk kelengkapan dokumen dan arsip. Tetapkan petugas yang bertanggung jawab mencatat setiap jenis transaksi ke Stockwiz agar tidak terjadi pencatatan ganda. Admin merangkum hasil pencatatan dan transaksi tertunda untuk diperiksa SPV area.

Stock Keeper

Bekerja bersama koordinator area untuk menata barang, memastikan label lokasi jelas, menjaga kondisi barang dan mencatat perpindahannya. Laporkan hasil pekerjaan serta selisih stok kepada koordinator area.

Sortir

Menerima arahan dari Koordinator Bahan Kemas, Bahan Baku atau DC sesuai barang dan lokasi kerja. Petugas sortir memisahkan barang sesuai prosedur. Quality tetap menentukan kelayakan mutu barang.

Pemenuhan B2B

Commercial/Sales menyampaikan kebutuhan pelanggan bisnis. Koordinator Stockroom Jasri atau DC terkait mengatur penyiapan barang dan melaporkan kesiapan kepada Stock Control SPV. Logistics mengatur pengangkutan. Petugas In Out produk jadi bekerja bersama Koordinator DC saat barang masuk atau keluar.

PENERAPAN SOP INTERNAL

Menjalankan struktur sambil menyelaraskan dokumen

Bagan tiga supervisor di atas adalah usulan organisasi. JD PPIC Coordinator yang ditelaah masih menetapkan pelaporan langsung kepada Logistic Operations Manager, sedangkan PPIC Staff melapor kepada Coordinator. JD juga memberi Coordinator wewenang menyetujui dan mengubah jadwal sesuai kondisi operasional. Pelaksanaan mengikuti penugasan dan delegasi yang berlaku sampai struktur, JD dan SOP diselaraskan.

Warehouse dan Stock Control Supervisor sama-sama disebut pada LO.012/LO.013. Pengalihan seluruh produk jadi atau bulk ke Stock Control dalam bagan perlu menetapkan batas bahan ruahan/WIP dan produk jadi, pemilik lokasi, serta bukti serah terima. Nama jabatan baru tidak otomatis memberikan hak membeli, membayar, meluluskan mutu atau menyetujui koreksi stok.

Acuan internal: JD_PPIC Coordinator; JD_PPIC Staff; LO.012 rev 05; LO.013 rev 07. Revisi tertinggi yang ditemukan perlu dicocokkan dengan daftar induk dokumen sebelum digunakan sebagai ketentuan berlaku.

Bab 3 · Struktur & Tugas / Mandat kerja

3.2 Mandat utama dan tanggung jawab

Memimpin PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan) serta Warehouse & Persediaan sebagai satu fungsi: mengubah permintaan, kapasitas dan stok menjadi rencana pasokan yang dapat dilaksanakan, lalu memastikan penerimaan hingga serah terima berjalan akurat. Menyeimbangkan layanan, persediaan dan modal kerja dalam anggaran serta kebijakan yang disetujui.

Mandat ManagerUsulan tugas tim
“
Saya bertanggung jawab atas integritas rencana dan stok serta kinerja seluruh tim. Saya memastikan kebutuhan produksi dan material direncanakan berdasarkan data yang valid, stok terlindungi dan tertelusur, serta setiap pergerakan dan serah terima dapat dibuktikan.
Pelaksanaan mengikuti anggaran, kebijakan dan delegasi yang disetujui

Lingkup kepemilikan Manajer PPIC & Warehouse

Asumsi perencanaan, jadwal, kebutuhan material, parameter persediaan, penjagaan fisik stok, catatan lokasi, penghitungan, alur kerja Warehouse dan kinerja fungsi. Manager bertanggung jawab atas personel, proses, keputusan rutin, sumber daya yang disetujui dan tindak lanjut kinerja kedua fungsi.

PPIC: validasi kebutuhan → rencana produksi & kapasitas → kebutuhan bahan → kendali pasokan dan perubahan.

Receiving (penerimaan barang)→Put Away (penempatan barang ke lokasi simpan)→Storage (penyimpanan)→Pengeluaran bahan (penyerahan bahan ke produksi)→Manufaktur (pengolahan oleh Production)→Penerimaan produk jadi (penerimaan produk jadi)→Pick & pack (pengambilan dan pengemasan)→Serah terima ke Logistics
Cakupan pekerjaan timPPIC; Warehouse/In Out; Raw Material dan bahan kemas; Bulk Supply Amenities; Stock Control untuk Stockroom Jasri dan DC PG/DC JKT; Admin dan Stock Keeper. Rekonsiliasi serta cycle count adalah fungsi kontrol dengan petugas yang ditetapkan, bukan otomatis jabatan baru.
Cakupan area dan batas kewenanganMencakup Warehouse bahan baku, bahan kemas, produk jadi di Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) dan DC PG/DC JKT, warehouse B2B, dan area produk jadi terkait. Pemenuhan B2B dikoordinasikan Stock Control SPV melalui Koordinator Stockroom Jasri atau DC terkait yang ditunjuk, bersama Commercial/Sales dan Logistics. ID lokasi, personel, otorisasi transaksi serta keputusan mutu ditetapkan sebelum pelaksanaan.

Usulan tanggung jawab utama

  • Menyusun jadwal produksi, kebutuhan material dan skenario kapasitas dari data tervalidasi; menerbitkan prioritas serta mengendalikan perubahan jadwal.
  • Memelihara parameter perencanaan, kebutuhan pengisian kembali dan cakupan stok; mengenali kekurangan serta kendala pasokan sejak dini.
  • Memimpin penerimaan, penempatan, penyimpanan, pengambilan, pengemasan, pengeluaran dan serah terima terdokumentasi kepada Produksi serta Logistik.
  • Menjaga ketertelusuran batch dan lokasi, rotasi, pemisahan, kondisi simpan dan akses; mematuhi keputusan penahanan serta pelepasan oleh Quality.
  • Menjaga akurasi stok dan ketepatan transaksi; memimpin penghitungan, investigasi serta rekonsiliasi bersama Akuntansi hingga perbaikan selesai.
  • Meninjau umur, kelambatan pergerakan, kelebihan, keusangan dan risiko kedaluwarsa stok; menjalankan tindakan yang disetujui untuk ketersediaan serta efisiensi modal kerja.
  • Memimpin tim PPIC serta Warehouse & Persediaan melalui pembagian tugas, pembinaan, pelatihan dan evaluasi; menjaga keselamatan, kerapian, kapasitas serta produktivitas.
  • Memelihara SOP (Standard Operating Procedure — prosedur kerja baku) terkendali dan data sistem yang andal; mengoordinasikan perubahan dengan IT (Information Technology — teknologi informasi) serta pemilik proses sambil menjaga akses dan jejak audit.
  • Memantau kepatuhan rencana serta KPI (Key Performance Indicator — indikator kinerja utama); membedakan kegagalan perencanaan dan pelaksanaan serta memimpin perbaikan.
  • Merekomendasikan tambahan Supervisor/Manager atau pemisahan tanggung jawab berdasarkan beban kerja, kemampuan, biaya serta kebutuhan kontrol, melalui Ni Luh Somawati untuk persetujuan I Nengah Riadi dengan HR (Human Resources — pengelolaan SDM) dan Keuangan bila relevan.
Bab 3 · Struktur & Tugas / Kewenangan dan pengendalian

3.3 Batas tanggung jawab dan kewenangan keputusan

PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan) & Warehouse Manager memimpin integritas rencana dan stok. Penyesuaian rencana rutin dilakukan dalam parameter yang disetujui; pilihan lintas fungsi yang belum terselesaikan dibawa kepada Ni Luh Somawati. Risiko yang berdampak besar segera dilaporkan kepada Ni Luh Somawati dan I Nengah Riadi.

Manager bertanggung jawab atas rencana, stok dan operasi Warehouse. Production menangani manufaktur; Purchasing menangani pembelian dan komitmen pemasok; Logistics menangani transportasi; Quality menetapkan status mutu. Finance/Accounting menangani penilaian serta pemeriksaan keuangan independen.

BAGAN KEPUTUSAN DAN ESKALASI

Pilih jalur berdasarkan kewenangan dan tingkat risiko

Manager menangani pekerjaan rutin sesuai anggaran, aturan dan kewenangan yang telah disetujui. Ni Luh Somawati membantu menyelesaikan masalah yang melibatkan beberapa bagian. I Nengah Riadi bertanggung jawab atas keseluruhan kegiatan operasional. Semakin besar dampak masalah, semakin cepat masalah perlu dilaporkan kepada pimpinan.

01 · RUTIN DALAM MANDATManager memutuskan → seluruh tim melaksanakan

Manager menetapkan prioritas harian, membagi petugas dan fasilitas yang telah disetujui, mengatur alur serta lokasi Warehouse, dan menjadwalkan penghitungan fisik stok. Penyesuaian rencana mengikuti prioritas, kemampuan kerja dan aturan yang telah disetujui.

Libatkan bagian yang terdampak dan simpan bukti keputusan. Keputusan rutin dalam kewenangan Manager tidak perlu selalu menunggu persetujuan pimpinan berikutnya.
02 · PERLU PENYELESAIAN LINTAS FUNGSIManager → Ni Luh Somawati — Deputy COO

Bawa masalah kepada Ni Luh Somawati jika kebutuhan belum terpenuhi, rencana belum dapat dijalankan, beberapa bagian belum sepakat, atau masalah terus berulang. Sertakan fakta, dampak, pilihan penyelesaian dan saran tindakan.

Ni Luh Somawati mengoordinasikan penyelesaian masalah dan memeriksa hasilnya. Keputusan besar atau penggunaan sumber daya utama mengikuti kewenangan I Nengah Riadi.
03 · BERDAMPAK BESAR / DI LUAR KEWENANGANSegera kepada Ni Luh Somawati dan I Nengah Riadi — COO

Segera laporkan kerugian yang berdampak besar, selisih stok yang belum diketahui penyebabnya, penyimpanan yang tidak aman, riwayat barang yang tidak dapat ditelusuri, masalah mutu atau keputusan di luar kewenangan.

Batasi kegiatan yang bermasalah sesuai kewenangan, amankan bukti, dan libatkan Quality, Finance atau HR sesuai kebutuhan. Laporkan segera tanpa menunggu rapat rutin.

Perubahan organisasi: kebutuhan tambahan Supervisor/Manager atau pemisahan tanggung jawab → analisis beban kerja, kemampuan, biaya dan kontrol → usulan melalui Ni Luh Somawati → persetujuan I Nengah Riadi, dengan HR (fungsi pengelolaan SDM)/Finance bila relevan.
Batas fungsi: Procurement membeli; Production menjalankan manufaktur; Logistics mengangkut; Quality menetapkan status; Finance/Accounting menjaga otorisasi serta penilaian. Batas biaya dan target kinerja ditetapkan melalui persetujuan perusahaan.

Jalur keputusan: staf → koordinator → SPV area → Manager. Selesaikan pekerjaan rutin sesuai delegasi; bawa hambatan lintas area kepada Manager. Keputusan mutu tetap pada Quality. Koreksi stok mengikuti pemeriksaan terpisah dan persetujuan pejabat berwenang.

Kontrol persediaan independen: pisahkan penjagaan, pencatatan, penghitungan, verifikasi dan persetujuan. Manager dapat memulai investigasi serta mengusulkan penyesuaian atau penghapusan. Kasus yang berdampak besar memerlukan verifikasi independen dari penjaga stok dan pembuat transaksi, tinjauan Akuntansi/Keuangan, serta persetujuan pejabat berwenang sebelum pembukuan atau pelepasan fisik. Gunakan ambang yang disetujui; batas biaya ditetapkan perusahaan.
Kewenangan keputusan dan bukti pengendaliannya
SituasiTindakan sayaBatas dan bukti
Rencana produksi, material dan perubahan jadwalMenetapkan prioritas dan menyesuaikan rencana melalui tim PPIC dalam permintaan, kapasitas, parameter stok dan sumber daya yang disetujui, setelah koordinasi fungsi terdampak.Simpan versi, alasan, analisis dampak dan konfirmasi penerima. Pilihan material atau konflik yang belum selesai melalui Ni Luh Somawati; perubahan organisasi melalui Ni Luh Somawati untuk persetujuan I Nengah Riadi. Tidak memindahkan pembelian, manufaktur atau pelepasan mutu ke Manager.
Pekerjaan rutin WarehouseMenetapkan urutan receiving (penerimaan barang), lokasi penempatan, pengaturan penyimpanan dan jadwal hitung; mengarahkan tim melalui SPV (pengawas pelaksanaan kerja area).Menggunakan personel, akses dan sumber daya yang disetujui. Catat penugasan, perubahan prioritas dan hasilnya; keputusan rutin dalam delegasi tidak perlu menunggu persetujuan berulang.
Selisih atau koreksi persediaanMemimpin penelusuran, memeriksa bukti dan mengajukan tindakan koreksi yang sesuai penyebab.Kewenangan menyelidiki dan merekomendasikan tidak otomatis mencakup persetujuan akhir adjustment. Pemberi persetujuan mengikuti matriks yang disahkan; koreksi diposting petugas terpisah dan diverifikasi kembali.
Layout, kapasitas dan keselamatanMengatur zonasi, akses barang, housekeeping dan beban kerja; mengamankan area berisiko serta menyiapkan pilihan penanganan hambatan kapasitas.Perubahan fasilitas, biaya atau cara kerja di luar delegasi diajukan dengan dampak, kebutuhan sumber daya dan rekomendasi. Status mutu tetap ditetapkan Quality.
Komitmen biaya dan keputusan lintas fungsiMenggunakan anggaran/delegasi terverifikasi dan membawa persoalan di luar lingkup kepada pimpinan Operations.Tidak menetapkan nominal kewenangan sendiri, memecah komitmen untuk melewati batas, atau menganggap review kontrak sebagai izin tanda tangan. Pembelian dan pembayaran mengikuti otorisasi masing-masing; tidak adanya respons bukan persetujuan.
Risiko yang berdampak besar atau keputusan di luar lingkupSegera melaporkan kehilangan tanpa penjelasan, selisih signifikan, penyimpanan berbahaya, keterbatasan kapasitas dan adjustment di luar otoritas, beserta fakta, dampak, pengamanan dan usulan.Kekurangan, rencana tidak layak, konflik belum selesai dan kegagalan berulang melalui Ni Luh Somawati. Risiko yang berdampak besar serta keputusan di luar kewenangan segera kepada Ni Luh Somawati dan I Nengah Riadi, melibatkan fungsi terkait. Ketidakhadiran approver tidak otomatis memindahkan kewenangan.
Pembagian tanggung jawab lintas fungsi; rincian pelaksanaan diselaraskan saat rapat awal
Keputusan / proses Penanggung jawab akhir Pelaksana dan koordinasi
Arahan, pelaporan dan eskalasi OperationsDeputi COO (wakil pimpinan operasional); diteruskan kepada COO untuk keputusan sesuai kewenangannyaPPIC & Warehouse Manager menyampaikan hasil, risiko, CAPA (tindakan korektif dan pencegahan masalah berulang), kebutuhan sumber daya dan permohonan keputusan. HR mendukung aspek organisasi/personel bersama Deputi COO dan COO, bukan menggantikan jalur pelaporan.
Akurasi stok dan operasi Stockroom Jasri serta DC PG/DC JKT PPIC & Warehouse Manager Warehouse SPV untuk bahan baku/bahan kemas dan Stock Control SPV untuk produk jadi pada Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, dan DC JKT sesuai usulan, dibantu koordinator/staf/Admin serta pemeriksa rekonsiliasi yang ditetapkan; cycle count (penghitungan stok berkala) independen serta status/batch/location discipline.
Forecast dan parameter replenishment (pengisian ulang stok) PPIC & Warehouse Manager melalui tim PPIC; kebijakan kanal serta pelaksanaan retail diselaraskan dengan Commercial/Retail Planning mengolah demand dan parameter; Retail memvalidasi promosi/assortment; Warehouse memvalidasi stok dan lead time (waktu tunggu pemenuhan); Finance meninjau dampak modal kerja.
Alokasi antar-kanal saat supply terbatas Pimpinan Commercial yang ditunjuk manajemen Planning, Retail, dan penanggung jawab kanal penjualan menetapkan prioritas; Warehouse/DC mengeksekusi keputusan alokasi yang tercatat.
Pemenuhan dan pengiriman DC–toko PPIC & Warehouse Manager untuk kesiapan DC; Head of Logistics / Distribution untuk transportasi dan pengantaran; Retail untuk penerimaan toko Stock Control SPV melalui koordinator lokasi mengendalikan pengambilan barang (pengambilan barang sesuai pesanan)/pemeriksaan barang dan serah terima; Logistics memastikan transport serta ETA (perkiraan waktu tiba); toko mengonfirmasi penerimaan. Usulan Stock Control SPV melapor kepada PPIC & Warehouse Manager, dengan koordinasi pengiriman lintas fungsi; penerapan mengikuti pengesahan.
Ketersediaan di rak dan disiplin stok toko Head of Retail Store Manager memimpin penerimaan, refill, POS (sistem transaksi penjualan toko) posting, pencatatan non-saleable, dan pemeriksaan rak.
Recovery supply dan QC (pengawasan mutu) release PPIC & Warehouse Manager untuk rencana pasokan; Production untuk manufaktur; Quality untuk keputusan mutu Production dan Procurement menyelesaikan hambatan supply; QA (pemastian mutu)/QC menangani inspeksi/release; Warehouse menyediakan data shortage dan status barang.

Koordinasi harian mengikuti ritme kerja tim; pembahasan permintaan dukungan serta evaluasi penugasan terpusat pada kesepakatan bersama HR, Deputi COO dan COO.

Bab 3 · Struktur & Tugas / Tim PPIC

3.4 Tim PPIC dan jalur pelaporan

PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan) SPV (pengawas pelaksanaan kerja area) adalah lapisan supervisi yang diusulkan. Delegasi dan pelaporan ditetapkan saat struktur disahkan.

Koordinator PPIC

Menyusun/mengoordinasikan rencana, mengendalikan jadwal dan min–max, memastikan material serta kapasitas, membina staf dan menganalisis deviasi. Dalam fungsi gabungan, keputusan jadwal mengikuti kewenangan Manager dan delegasi yang disetujui.

Dalam penerapan gabungan: rutin dalam parameter/delegasi berjalan pada Koordinator; perubahan yang berdampak besar/lintas fungsi serta prioritas di luar mandat dibawa kepada Manager.

Staf PPIC

Membantu kalkulasi, memperbarui jadwal, memantau stok/material/produksi, input data sesuai akses, membantu count dan membuat laporan. Mengajukan perubahan jadwal atau kebutuhan material kepada Koordinator.

Hasil staf harus dapat ditelusuri ke stok gabungan seluruh lokasi, riwayat penjualan, BOM (daftar bahan dan jumlah untuk menghasilkan produk)/UOM (satuan barang, misalnya pcs atau kg), kapasitas dan konfirmasi pasokan.

Buka rincian seluruh jabatan → · Lihat ketentuan pembagian tugas →

Bab 3 · Struktur & Tugas / Pembagian fungsi supervisi

3.5 Fungsi Warehouse Bahan Awal

Warehouse SPV mengawasi bahan baku dan bahan kemas, mulai penerimaan hingga penyerahan ke Production. Produk jadi berada di bawah Stock Control SPV.

01

Penerimaan bahan awal

Periksa dokumen, jumlah, kondisi dan identitas bahan; lakukan bongkar muat serta serah terima. Quality menetapkan status mutu.

Koordinator dan Staf In Out sesuai penugasan bahan awal.
02

Bahan baku

Kendalikan lokasi, batch, kondisi simpan dan kesiapan bahan baku untuk produksi.

Koordinator dan Staf Bahan Baku.
03

Bahan kemas

Kendalikan stok, kode dan versi kemasan; pastikan kelengkapan set bahan kemas sesuai rencana produksi.

Koordinator dan Staf Bahan Kemas.
04

Penyerahan dan retur bahan

Siapkan bahan yang telah diluluskan sesuai permintaan produksi; cocokkan jumlah, satuan, batch dan bukti retur.

Tim bahan baku/bahan kemas, Stock Keeper dan Admin sesuai akses.
Supervisi: koordinator bahan awal dan In Out melapor kepada Warehouse SPV. Catat tiap transaksi satu kali di Stockwiz. Penerimaan, penyiapan dan transfer produk jadi mengikuti supervisi Stock Control.

Lihat rincian tugas dan kewenangan →

Bab 3 · Struktur & Tugas / Pembagian fungsi supervisi

3.6 Fungsi Stock Control / Produk Jadi

Stock Control SPV mengawasi produk jadi di Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, DC JKT dan area Bulk sesuai cakupan yang disahkan.

01

Penerimaan dan penyimpanan produk jadi

Periksa hasil produksi, jumlah, batch, status mutu, lokasi dan kondisi simpan. Hanya produk yang memenuhi syarat boleh dialokasikan.

Koordinator dan staf Stockroom Jasri, DC PG dan DC JKT.
02

Penyiapan pesanan

Siapkan alokasi, pengambilan, pemeriksaan dan pengemasan pesanan toko, e-commerce serta B2B.

Koordinator lokasi dan staf, berdasarkan kebutuhan yang disepakati.
03

Transfer dan serah terima

Cocokkan stok keluar, barang dalam perjalanan dan penerimaan tujuan. Serahkan kiriman beserta dokumen kepada Logistics.

Tim lokasi pengirim/penerima; Logistics menangani transportasi.
04

Bulk Supply Amenities

Kendalikan produk Bulk/Amenities yang telah diserahterimakan ke Stock Control. Bahan baku dan bahan kemas sebelum produksi tetap di bawah Warehouse SPV.

Koordinator dan Staf Bulk Supply Amenities.
Supervisi: koordinator produk jadi dan Bulk melapor kepada Stock Control SPV. Pencatatan dilakukan petugas yang ditetapkan. Quality tetap menetapkan status mutu; pemeriksaan stok independen dilakukan fungsi kontrol terpisah, bukan otomatis oleh pemegang stok.

Lihat rincian tugas dan kewenangan →

Bab 3 · Struktur & Tugas / Usulan pembagian tugas dan kewenangan

3.7 Panduan tugas per area kerja

Pilih jabatan untuk melihat tugas, hasil kerja dan batas kewenangan. Tiga SPV sejajar melapor kepada Manager; masing-masing memimpin koordinator dan staf area.

Melaporkan kepada: Ni Luh Somawati — Deputy COO · Akuntabilitas eksekutif: I Nengah Riadi — COO
Struktur koordinasi Manager dan tiga SPV

Struktur & Tugas Bersama

PANDUAN KERJA BERSAMA

Pembagian tugas dan serah terima

Gunakan bagan sebagai acuan struktur. Rincian berikut menjelaskan hasil kerja, serah terima dan pelaporan tiap tingkat.

Cara membedakan tugas pada tiap tingkat
TingkatPertanyaan yang harus dijawabHasil yang diperiksa Manager
ManagerApa prioritas, rencana, kapasitas, risiko dan keputusan kedua fungsi?Rencana layak; stok andal; KPI (indikator kinerja utama); sumber daya/keputusan sesuai mandat; eskalasi Ni Luh Somawati/I Nengah Riadi.
SupervisorApakah seluruh area yang dikoordinasikan siap dan hasilnya sudah diverifikasi?Pembagian kapasitas lintas area, pengawasan, laporan konsolidasi serta tindakan korektif. Pada usulan terbaru, PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan) SPV (pengawas pelaksanaan kerja area), Warehouse SPV dan Stock Control SPV memiliki lingkup koordinasi berbeda. Stock Control SPV mengoordinasikan produk jadi pada Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, dan DC JKT serta Bulk Supply Amenities.
KoordinatorSiapa mengerjakan apa, kapan, dengan dokumen dan pemeriksa siapa?Penugasan area, pemeriksaan hasil staf, kesiapan, data dan masalah yang perlu ditangani; keputusan rutin dalam kewenangan yang ditetapkan.
Staf / Stock KeeperApakah pekerjaan fisik/data yang ditugaskan sudah benar dan dapat dibuktikan?Hasil terima/simpan/pick/pengeluaran/count atau kalkulasi PPIC; identitas dan waktu; bukti; laporan penyimpangan kepada koordinator terkait.
Admin WarehouseApakah setiap transaksi memiliki dokumen sah, posting tepat dan arsip tertelusur?Register/arsip, laporan stok, bukti posting dan pending documents. Admin berhak tidak menerima penginputan tanpa dokumen resmi.
BAGAN SERAH TERIMA TUGAS

Periksa barang, dokumen dan data sebelum menyatakan pekerjaan selesai

Contoh alur penerimaan/pengeluaran; prinsip yang sama diterapkan pada RM (bahan baku), bulk dan Stockroom Jasri/DC terkait sesuai area serta akses.

  1. 01 · Staf / STOCK KEEPERPeriksa dan kerjakan fisik

    Terima/siapkan barang berdasarkan permintaan sah; cocokkan SKU (kode unik jenis atau varian barang), batch, jumlah, kondisi, status dan lokasi. Buat bukti serta catatan realisasi.

  2. 02 · Koordinator / PEMERIKSAPeriksa hasil kerja area dan tangani masalah

    Periksa pekerjaan staf, dokumen dan penerima serah terima; tahan proses yang meragukan dalam kewenangan, lalu koordinasikan Quality atau SPV sesuai masalah.

  3. 03 · Petugas pencatatan transaksi DITETAPKAN + ADMINCatat transaksi satu kali berdasarkan dokumen resmi

    Posting oleh satu petugas sesuai jenis transaksi/hak akses; Admin memastikan kelengkapan, arsip serta pekerjaan yang belum selesai. Catatan staf dan posting Admin tidak menggandakan movement.

  4. 04 · SPV + PEMERIKSA TERPISAHRangkum hasil kerja dan periksa kebenaran data stok

    Warehouse SPV meninjau penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran bahan awal; Stock Control SPV meninjau penerimaan FG, alokasi, transfer dan pemenuhan DC/Bulk. PPIC SPV memeriksa dampak realisasi terhadap kebutuhan serta jadwal. Masing-masing merangkum hasil koordinator/staf; rekonsiliasi/count dilakukan petugas yang ditetapkan dengan independensi sesuai risiko. Selisih stok yang berdampak besar mengikuti review Accounting/Finance serta persetujuan sah.

  5. 05 · PPIC + MANAGERGunakan data yang sudah diperiksa untuk menyusun rencana berikutnya

    PPIC memperbarui kesiapan bahan, stok gabungan seluruh lokasi dan jadwal. Manager menilai rencana serta pelaksanaan, menindaklanjuti risiko dan melapor melalui jalur yang ditetapkan.

Pekerjaan dinyatakan selesai jika barang sesuai dokumen, pencatatan transaksi sudah diperiksa dan penerima mengonfirmasi serah terima. Masalah yang belum selesai harus memiliki penanggung jawab (penanggung jawab pekerjaan)/tenggat. Penilaian mutu tetap Quality; pengajuan kebutuhan PPIC tidak menggantikan kewenangan Purchasing.

Usulan koordinasi tugas pendukung dan B2B

In Out bahan awal melapor melalui Koordinator In Out kepada Warehouse SPV. In Out produk jadi mengikuti koordinator lokasi dan Stock Control SPV. Admin mengelola dokumen serta transaksi yang ditugaskan; Stock Keeper menjaga barang; Sortir memisahkan barang sesuai prosedur. Commercial/Sales mengonfirmasi kebutuhan B2B, tim lokasi menyiapkan, dan Logistics mengangkut. Keputusan mutu tetap pada Quality. Personel, akses dan delegasi perlu disahkan.

Ritme kerja dan laporan per area

Usulan ritme kerja tim
RitmeYang menyiapkan dan memeriksaHasil yang dibawa ke Manager
Awal shiftPPIC SPV membawa rencana/kebutuhan yang disiapkan Koordinator PPIC; Warehouse SPV membawa receiving, bahan dan kapasitas; Stock Control SPV membawa FG (produk jadi) Stockroom Jasri, DC PG dan DC JKT serta kebutuhan toko dan e-commerce sesuai struktur usulan. Koordinator area membagi tugas staf dan pemeriksa.Prioritas, bahan/FG released, shortage, pekerjaan yang belum selesai, tenaga dan keputusan yang diperlukan sebelum tenggat.
Selama operasiStaf/Stock Keeper mengerjakan serta mencatat realisasi; Koordinator memeriksa; Admin memeriksa kelengkapan dan posting yang ditugaskan. Quality menilai status jika terkait mutu.Masalah yang perlu ditangani dengan scope, bukti, PIC dan tenggat; hambatan kritis dilaporkan sebelum mengganggu jadwal.
Akhir shiftKoordinator menyusun laporan area; masing-masing SPV merangkum area supervisinya. PPIC memperbarui realisasi/jadwal dan kesiapan. Admin menyerahkan daftar dokumen/posting belum selesai.Satu ringkasan kedua fungsi: rencana–realisasi, stok terverifikasi, pekerjaan terbuka dan rencana berikutnya.
Mingguan / bulananManager meninjau KPI, deviasi, aging serta kompetensi. PPIC/SPV membawa analisis dan tindakan; Accounting/Finance memvalidasi nilai serta kontrol; HR (fungsi pengelolaan SDM) mendukung tugas/struktur.Tren, akar penyebab, tindakan terverifikasi dan kebutuhan keputusan kepada Ni Luh Somawati. Risiko yang berdampak besar segera kepada Ni Luh Somawati dan I Nengah Riadi.

Pengarahan awal dan pembagian tugas

Hari pertama: Manager mempertemukan PPIC SPV, Warehouse SPV dan Stock Control SPV beserta koordinator masing-masing sesuai usulan; selama belum disahkan, gunakan penanggung jawab yang ditetapkan untuk mencocokkan orang, area, tugas, akses serta pemeriksa. Setiap pemimpin menjelaskan hasil yang wajib diserahkan staf/Admin, pekerjaan terbuka dan batas keputusan. Setujui pembagian area, jalur pelaporan dan batas keputusan sebelum pelaksanaan.

Minggu pertama: uji satu receiving, pengeluaran produksi dan transfer dari Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) ke toko atau lokasi pemenuhan e-commerce dari fisik sampai posting. Tetapkan daftar pemilik SKU/lokasi dan satu petugas pencatatan transaksi per dokumen; cocokkan kesiapan bahan serta FG dengan rencana PPIC. Tinjau pekerjaan yang belum selesai, selisih dan laporan setiap area, kemudian selesaikan tumpang tindih dengan PIC/tenggat.

Evaluasi: nilai staf dari ketepatan hasil serta bukti; Koordinator dari kualitas pembagian tugas/pemeriksaan; SPV dari kesiapan lintas area dan penyelesaian hambatan; Admin dari dokumen, posting dan arsip; Manager dari integritas rencana/stok serta kinerja kedua fungsi. Target numerik disepakati setelah kondisi awal.

Usulan terbaru: Manager mengoordinasikan PPIC SPV, Warehouse SPV dan Stock Control SPV. Jabatan tambahan serta perubahan pelaporan diajukan melalui Ni Luh Somawati untuk persetujuan I Nengah Riadi bersama HR/Finance sesuai kewenangan.

Penugasan yang perlu disahkan: lokasi kerja In Out, Admin, Stock Keeper dan Sortir; petugas pencatatan; serta pemeriksa rekonsiliasi/count yang terpisah. Jalur koordinasi di atas adalah usulan, bukan keputusan pemindahan personel atau penghapusan jabatan.

Pembagian area, garis pelaporan dan delegasi dalam usulan ini berlaku setelah disahkan perusahaan.

Referensi Manager dan fungsi kontrol

Logistic Operations ManagerReferensi lintas fungsi · Koordinasi distribusi, transportasi dan mitra logistik sesuai pembagian kewenangan.
Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Cakupan koordinasi meliputi receiving/storage/inventory, distribusi ke distributor/retail/e-commerce, vendor transporter, WMS (sistem pengelolaan kegiatan Warehouse)/ERP (sistem terpadu proses dan data perusahaan), retur/recall, KPI lead time/accuracy/OTIF (pesanan diterima tepat waktu dan lengkap)/cost serta perbaikan berkelanjutan.
Hasil kerja yang diperiksa
Laporan KPI dan evaluasi vendor/distribusi sesuai penetapan organisasi; referensi serah terima, SLA (kesepakatan standar layanan dan waktu penyelesaian) dan mitra lintas fungsi.
Batas kewenangan
Koordinasi transportasi, vendor dan komitmen logistik mengikuti pembagian kewenangan yang disahkan. Dalam usulan ini, Manager melapor kepada Ni Luh Somawati dengan akuntabilitas eksekutif I Nengah Riadi.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Mengelola dan mengawasi seluruh kegiatan operasional logistik industri kosmetik meliputi penerimaan bahan baku, bahan kemas, penyimpanan, distribusi produk jadi, dan retur.
  • Memastikan proses logistik berjalan sesuai dengan CPKB (pedoman pengendalian pembuatan kosmetik) Kosmetik, standar BPOM (otoritas pengawasan obat dan makanan Indonesia), dan kebijakan mutu perusahaan.
  • Mengontrol sistem penyimpanan produk kosmetik sesuai persyaratan (FIFO (barang yang masuk lebih awal dikeluarkan lebih dahulu)/FEFO (barang yang lebih cepat kedaluwarsa dikeluarkan lebih dahulu), batch number, expiry date).
  • Menjamin akurasi stok bahan baku, bulk, dan finished goods melalui pengawasan stock opname berkala.
  • Mengoordinasikan proses distribusi produk kosmetik ke distributor, retail, dan channel e-commerce sesuai SLA.
  • Mengelola dan mengevaluasi kinerja vendor logistik, transporter, dan ekspedisi untuk menjaga kualitas produk selama pengiriman.
  • Berkoordinasi dengan PPIC, Produksi, QA (pemastian mutu)/QC (pengawasan mutu), Purchasing, dan Sales untuk memastikan ketersediaan stok dan kelancaran supply chain.
  • Mengawasi sistem WMS/ERP serta memastikan pencatatan data logistik akurat dan terdokumentasi dengan baik.
  • Menangani proses retur, recall, dan produk reject sesuai prosedur mutu kosmetik.
  • Menyusun laporan KPI logistik (lead time, inventory accuracy, OTIF, cost efficiency).
  • Melakukan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) terhadap proses logistik untuk meningkatkan efisiensi dan kepatuhan regulasi.

Wewenang

  • Wewenang mengambil keputusan operasional terkait penyimpanan dan distribusi produk kosmetik.
  • Wewenang menyetujui penjadwalan pengiriman dan alur distribusi.
  • Wewenang mengajukan dan mengevaluasi vendor logistik sesuai standar mutu kosmetik.
  • Wewenang mengusulkan perbaikan SOP (prosedur kerja baku) dan efisiensi biaya logistik.
Inventory Control: fungsi rekonsiliasi, bukan otomatis Stock Control SPV

Rekonsiliasi independen membandingkan fisik, Stockwiz, waktu acuan pencatatan, dokumen dan pergerakan barang; menginvestigasi selisih serta memverifikasi hasil koreksi. Petugas ditetapkan terpisah dari pemegang stok sesuai risiko.

Manager menetapkan pelaksana/pemeriksa sesuai kompetensi dan delegasi; tidak otomatis menunjuk Stock Control SPV sebagai pemeriksa independen atas barang yang dikelolanya sendiri.

Stock / Cycle Count: penugasan kontrol dengan petugas terpisah

Petugas stock opname ditetapkan dengan pemisahan tugas dari pemegang stok. Siapkan scope/waktu acuan pencatatan, blind count, recount oleh petugas berbeda, log pergerakan dan rekonsiliasi.

USULAN STRUKTUR · SPV → Koordinator → Staf

PPIC SPV memimpin rencana melalui Koordinator dan Staf

Usulan menambahkan PPIC Supervisor yang berkoordinasi dan melaporkan hasil kepada Manager. Jadwal, kebutuhan bahan dan evaluasi dikerjakan staf, dikendalikan Koordinator dan dirangkum SPV.

PPIC SupervisorUSULAN · Memimpin pengendalian rencana melalui Koordinator PPIC

Melapor kepada: PPIC & Warehouse Manager. Mengoordinasikan: Koordinator PPIC, yang memimpin Staf PPIC.

Tugas usulan: merangkum stok FG Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, dan DC JKT dan stok toko serta e-commerce, histori penjualan serta order; menguji rencana kebutuhan produksi/material, kapasitas dan parameter stok yang disiapkan Koordinator. Memantau shortage, ETA (perkiraan waktu tiba) dan perubahan jadwal; membina Koordinator/staf serta memisahkan penyebab deviasi planning dan eksekusi.

Hasil wajib: rencana bernomor versi, daftar kesiapan dan kekurangan bahan, perkiraan waktu bahan siap, skenario kapasitas serta perbandingan rencana–realisasi. Koordinator memeriksa pekerjaan staf; SPV memeriksa keseluruhan rencana dan mengajukan keputusan kepada Manager.

Batas: keputusan rutin mengikuti delegasi yang disahkan; prioritas lintas fungsi, biaya atau perubahan yang berdampak besar di luar delegasi dibawa ke Manager. Purchasing memiliki pembelian/PO (pesanan pembelian resmi), Production memiliki manufaktur dan Quality memiliki status mutu.

Alur kerja singkat

Stok gabungan seluruh lokasi & penjualan → hitung kebutuhan → uji bahan dan kapasitas → rencana dan kendali perubahan.

Koordinator PPICPPIC · Mengubah kebutuhan stok gabungan seluruh lokasi menjadi rencana produksi/material yang dapat dijalankan; mengendalikan pekerjaan Staf PPIC.

Posisi pada struktur usulan: Manager → PPIC SPV → Koordinator PPIC → Staf PPIC.

Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Memeriksa forecast/order, stok produk jadi di Stockroom Jasri, DC PG/DC JKT, serta toko dan e-commerce, bahan awal, WIP (barang atau produksi dalam proses), kapasitas serta perubahan. Mengatur jadwal dan min–max, memeriksa input staf, berkoordinasi dengan Warehouse/Purchasing/Production dan menyiapkan analisis deviasi.
Hasil kerja yang diperiksa
Rencana harian/mingguan berversi; kebutuhan bahan dan shortage register; rencana–realisasi; alasan perubahan, PIC dan tenggat.
Batas kewenangan
Koordinator dapat menyesuaikan jadwal dalam prioritas, kapasitas, parameter dan delegasi yang disetujui Manager. Perubahan yang berdampak besar atau lintas fungsi dieskalasikan. Pembelian tetap Procurement/Purchasing dan pelulusan mutu tetap Quality.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Menyusun dan mengoordinasikan rencana produksi jangka pendek dan menengah berdasarkan forecast dan sales order.
  • Mengatur dan mengendalikan jadwal produksi agar sesuai kapasitas mesin dan tenaga kerja.
  • Memastikan ketersediaan bahan baku, bahan kemas, dan WIP sesuai rencana produksi.
  • Berkoordinasi dengan Warehouse dan Purchasing terkait pengadaan dan kesiapan material.
  • Memantau realisasi produksi dan melakukan penyesuaian rencana bila terjadi kendala.
  • Mengendalikan level persediaan agar optimal (min–max stock).
  • Mengawasi pencatatan data produksi dan inventory dalam sistem.
  • Mengoordinasikan dan membina Staf PPIC.
  • Menyusun laporan perencanaan, realisasi produksi, dan analisa deviasi.
  • Memastikan seluruh aktivitas PPIC mematuhi SOP, dan kebijakan perusahaan.

Wewenang

  • Menyesuaikan jadwal hanya dalam prioritas, kapasitas dan delegasi yang disahkan; perubahan di luar batas diajukan melalui PPIC SPV kepada Manager.
  • Wewenang mengusulkan pengadaan material berdasarkan rencana produksi.
  • Wewenang memberikan arahan dan evaluasi kinerja kepada Staf PPIC.
Staf PPICPPIC · Menyiapkan perhitungan, pembaruan jadwal dan data aktual untuk Koordinator PPIC.

Posisi pada struktur usulan: Staf PPIC → Koordinator PPIC → PPIC SPV → Manager.

Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Mengumpulkan histori penjualan, order, stok dan kapasitas; menyusun/memperbarui jadwal, memantau material serta realisasi; berkoordinasi dengan Warehouse dan Purchasing, membantu stock opname dan analisis selisih.
Hasil kerja yang diperiksa
Data sumber/tanggal; perhitungan kebutuhan; draft/perubahan jadwal; daftar ETA dan kekurangan; laporan realisasi kepada Koordinator.
Batas kewenangan
Pengajuan perubahan jadwal dan kebutuhan material diperiksa sesuai kewenangan Koordinator. Input produksi/inventory diizinkan hanya pada objek dan akses yang ditetapkan; tidak menjadi approver atas hasil sendiri atau membuat PO tanpa otorisasi.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Membantu menyusun rencana produksi berdasarkan forecast, sales order, dan kapasitas produksi.
  • Memantau ketersediaan bahan baku, bahan kemas, sesuai rencana produksi.
  • Membuat dan memperbarui jadwal produksi harian/mingguan.
  • Berkoordinasi dengan Warehouse terkait stok dan kesiapan material.
  • Berkoordinasi dengan Purchasing untuk pengadaan material sesuai kebutuhan produksi.
  • Memantau realisasi produksi dan mengajukan penyesuaian jadwal kepada Koordinator PPIC bila terjadi kendala.
  • Menginput dan mengelola data produksi serta inventory dalam sistem.
  • Membantu pelaksanaan stock opname dan analisa selisih stok.
  • Menyampaikan laporan perencanaan dan realisasi kepada Koordinator PPIC untuk diperiksa, lalu dirangkum PPIC SPV.
  • Memastikan seluruh aktivitas PPIC sesuai SOP, dan kebijakan perusahaan.

Wewenang

  • Wewenang mengajukan penyesuaian jadwal produksi berdasarkan kondisi aktual.
  • Wewenang mengusulkan kebutuhan material sesuai rencana produksi.
USULAN STRUKTUR · SPV → 2 Koordinator → Staf

Warehouse Bahan Awal: bahan baku dan bahan kemas

Dua area utama pada usulan: Koordinator Bahan Kemas dan Koordinator Bahan Baku, masing-masing dengan staf. Koordinator In Out merangkum penerimaan/pengeluaran bahan awal kepada Warehouse SPV; Admin dan Stock Keeper berkoordinasi dengan koordinator area sesuai dokumen dan lokasi.

Warehouse Supervisor · struktur usulanUSULAN · Memimpin Koordinator Bahan Kemas dan Bahan Baku

Melapor kepada: Manager. Mengoordinasikan: Koordinator Bahan Kemas serta Koordinator Raw Material/Bahan Baku, masing-masing dengan staf.

Tugas usulan: mengendalikan Warehouse bahan awal, kapasitas/layout, keselamatan, kondisi simpan, FIFO (barang masuk lebih awal dikeluarkan lebih dahulu)/FEFO, stok batch/status/UOM (satuan barang, misalnya pcs atau kg) dan ketepatan transaksi; menyelaraskan kesiapan bahan dengan PPIC serta pengeluaran/retur bahan dengan Production. Koordinator mengendalikan area dan hasil staf; SPV merangkum kedua area.

Hasil wajib: saldo usable bahan baku/bahan kemas yang terverifikasi, daftar shortage/expiry/hold, kesiapan per rencana produksi, penerimaan/pengeluaran/retur bahan serta pekerjaan yang belum selesai. Data ini menjadi dasar PPIC menghitung kebutuhan pengadaan kepada Procurement/Purchasing.

Batas: tidak mengoordinasikan Stock Control SPV atau PPIC SPV. Tidak mengambil alih pelulusan mutu/pembelian. In Out bahan awal melaporkan hasil kepada Warehouse SPV melalui Koordinator In Out; arus produk jadi melalui Koordinator DC. Admin dan Stock Keeper berkoordinasi dengan koordinator area; setiap jenis dokumen memiliki satu petugas pencatatan transaksi dan pemeriksa terpisah.

Alur kerja singkat

Arahan SPV → penugasan Koordinator → pelaksanaan staf/Stock Keeper → verifikasi dokumen dan posting satu kali.

Warehouse SupervisorWarehouse · Mengendalikan kesiapan dan pelaksanaan Warehouse bahan awal serta area yang dikoordinasikannya.
Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Mengatur pekerjaan tim, layout, pergerakan bahan baku/bahan kemas, kesiapan pengeluaran bahan untuk produksi, FIFO/FEFO, kecocokan stok fisik–Stockwiz dan kelengkapan barang/dokumen PO.
Hasil kerja yang diperiksa
Rencana per shift; kesiapan bahan dan kapasitas; pekerjaan yang belum selesai penerimaan/pengeluaran/posting; laporan kekurangan/rusak; hasil pemeriksaan dokumen serta tindakan area.
Batas kewenangan
Warehouse SPV mengendalikan bahan awal melalui Koordinator Bahan Kemas dan Bahan Baku. Stock Control SPV mengendalikan produk jadi dan Bulk Supply Amenities. In Out bahan awal berkoordinasi melalui Koordinator In Out; Admin, Stock Keeper dan Sortir berkoordinasi dengan koordinator area sesuai barang dan lokasi. Hasil bahan awal dirangkum Warehouse SPV dan hasil produk jadi oleh Stock Control SPV. Keputusan mutu tetap Quality.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Mengoordinasikan pelaksanaan pekerjaan Warehouse bersama koordinator dan tim terkait.
  • Bertanggung jawab atas perencanaan dan pengaturan tata letak penempatan bahan kemasan dan bahan baku di area Warehouse dan sekitarnya
  • Bertanggung jawab mengontrol pengiriman bahan baku dan bahan kemasan untuk produksi.
  • Melaporkan kekurangan, kerusakan atau masalah stok bahan kepada Manager serta berkoordinasi dengan fungsi terkait untuk tindak lanjut.
  • Mengeluarkan bahan awal sesuai FEFO; gunakan FIFO bila masa kedaluwarsa sama atau tidak ditetapkan, mengikuti SOP dan status mutu.
  • Bertanggung jawab terhadap posisi stok bahan yang ada di Warehouse baik secara fisik maupun administratif (stockwiz).
  • Bertanggung jawab terhadap kelengkapan PO (Purchase Order) dengan barang yang ada, meliputi : nama barang, jumlah barang, nomor order, jumlah order, beserta dokumen pelengkap
  • Bertanggung jawab terhadap kelengkapan dokumen dengan barang yang datang/diterima (bahan baku dan bahan pengemas).

Wewenang

  • Wewenang mengatur penempatan dan pergerakan barang di Warehouse.
  • Wewenang memberikan instruksi kerja kepada tim warehouse.
  • Wewenang mengajukan perbaikan sistem dan tata letak Warehouse.
Koordinator In OutWarehouse · Memimpin verifikasi dan alur barang masuk/keluar beserta pengendalian dokumennya.
Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Mengoordinasikan inbound/outbound, loading/unloading, jumlah/jenis/batch/kondisi terhadap PO/DO (dokumen perintah atau rincian pengiriman)/BPB (dokumen barang diterima; nama form mengikuti perusahaan)/BKB (dokumen barang keluar; nama form mengikuti perusahaan); mengendalikan pencatatan, traceability, expiry, kebersihan, ketidaksesuaian dan dukungan audit.
Hasil kerja yang diperiksa
Checklist penerimaan/pengeluaran; dokumen diperiksa; status barang dan lokasi; jadwal serta hasil in–out; masalah yang perlu ditangani dan bukti serah terima ke Admin/area.
Batas kewenangan
Boleh menolak atau menghentikan sementara proses yang tidak sesuai dokumen/SOP atau berisiko mutu, lalu melapor. Penilaian hold/release akhir tetap Quality.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Mengoordinasikan proses penerimaan (inbound) dan pengeluaran (outbound) barang sesuai jadwal dan kebutuhan operasional.
  • Memastikan kesesuaian jumlah, jenis, batch, dan kondisi barang dengan dokumen pendukung (PO, DO, BPB, BKB).
  • Mengawasi proses bongkar muat (loading–unloading) agar sesuai dengan SOP, keselamatan kerja, dan standar mutu.
  • Mengendalikan pencatatan dan pelaporan data in–out barang secara akurat dan tepat waktu.
  • Berkoordinasi dengan bagian Produksi, PPIC, QA, Purchasing, dan Logistik terkait ketersediaan dan pergerakan barang.
  • Memastikan penerapan sistem FIFO/FEFO, traceability batch, dan kontrol expiry date sesuai ketentuan industri kosmetik.
  • Mengidentifikasi dan melaporkan ketidaksesuaian, selisih stok, kerusakan, atau kehilangan barang kepada koordinator atau penanggung jawab area terkait.
  • Mengawasi kerapian, kebersihan, dan ketertiban area Warehouse sesuai standar CPKB.
  • Mendukung pelaksanaan audit internal dan eksternal yang berkaitan dengan aktivitas Warehouse.
  • Memastikan seluruh aktivitas in–out Warehouse berjalan sesuai SOP, peraturan perusahaan, dan ketentuan CPKB.

Wewenang

  • Wewenang menolak penerimaan atau pengeluaran barang yang tidak sesuai dengan dokumen, spesifikasi, atau kondisi mutu.
  • Wewenang menghentikan sementara proses in–out jika ditemukan ketidaksesuaian atau risiko terhadap mutu produk.
  • Wewenang memberikan rekomendasi perbaikan sistem dan prosedur kerja Warehouse.
Staf In OutWarehouse · Melaksanakan pemeriksaan dan pergerakan barang yang ditugaskan Koordinator In Out.
Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Memeriksa fisik, jumlah, batch, expiry dan dokumen; menerima/mengeluarkan RM /PM (bahan kemas)/bulk/FG, menempatkan menurut status, menyiapkan produksi/distribusi, mencatat transaksi sesuai akses, membantu count dan melaporkan penyimpangan.
Hasil kerja yang diperiksa
Hasil pemeriksaan per baris; realisasi bongkar/muat serta penempatan; log transaksi dan serah terima; daftar ketidaksesuaian kepada Koordinator.
Batas kewenangan
Boleh menolak proses yang tidak sesuai dokumen/SOP dan meminta klarifikasi selisih. Pencatatan staf tidak otomatis berarti staf dan Admin memposting dokumen yang sama; satu transaksi harus memiliki petugas pencatatan transaksi yang ditetapkan.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Melaksanakan proses penerimaan dan pengeluaran barang sesuai dengan dokumen dan SOP yang berlaku.
  • Memeriksa kesesuaian jumlah, kondisi, batch number, dan expiry date bahan baku, bahan kemas, bulk, dan produk jadi.
  • Memastikan seluruh aktivitas in–out barang sesuai dengan CPKB Kosmetik dan ketentuan BPOM.
  • Melakukan pencatatan transaksi barang masuk dan keluar pada sistem (WMS/ERP) dan dokumen manual.
  • Mengatur penempatan barang di Warehouse sesuai dengan kategori, FIFO/FEFO, dan status (OK, Quarantine, Reject).
  • Berkoordinasi dengan tim Warehouse, QA/QC, dan Produksi terkait penerimaan, pengeluaran, dan status barang.
  • Menyiapkan barang untuk kebutuhan produksi dan distribusi sesuai permintaan yang disetujui.
  • Membantu proses stock opname berkala dan penelusuran selisih stok.
  • Menjaga kebersihan, kerapian, dan keamanan area Warehouse sesuai standar GMP.
  • Melaporkan ketidaksesuaian barang atau dokumen kepada koordinator terkait.

Wewenang

  • Wewenang menolak penerimaan atau pengeluaran barang yang tidak sesuai dokumen atau SOP.
  • Wewenang mengajukan klarifikasi atas selisih atau ketidaksesuaian data stok.
  • Wewenang memberikan masukan terkait perbaikan alur in–out Warehouse.
Staf Stock KeeperWarehouse · Menjaga fisik stok, identitas dan ketertiban lokasi penyimpanan.
Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Mengecek fisik rutin, mencatat kondisi/posisi, menata lokasi, FIFO/FEFO, batch/expiry, membantu penerimaan/pengeluaran dan menyiapkan barang sesuai permintaan; ikut count dengan pemeriksa terpisah.
Hasil kerja yang diperiksa
Checklist lokasi/kondisi; log perpindahan fisik; laporan selisih, rusak dan approaching expiry; bukti penyerahan kepada penerima.
Batas kewenangan
Boleh mengusulkan penataan dan tidak menerima penempatan yang melanggar prosedur. Tidak mengubah status mutu, mengesahkan hitungan barang sendiri atau membuat adjustment tanpa bukti/otorisasi.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Melakukan pengecekan fisik dan pencatatan stok barang secara rutin.
  • Memastikan penataan dan penyimpanan barang di Warehouse sesuai lokasi, identitas, dan ketentuan penyimpanan.
  • Menerapkan sistem FIFO/FEFO dalam pengelolaan stok barang.
  • Mengontrol batch number dan tanggal kedaluwarsa sesuai standar industri kosmetik.
  • Melaporkan selisih stok, barang rusak atau barang mendekati kedaluwarsa kepada koordinator terkait.
  • Membantu proses penerimaan dan pengeluaran barang sesuai prosedur Warehouse.
  • Menyiapkan barang untuk kebutuhan produksi atau pengiriman sesuai permintaan.
  • Mendukung pelaksanaan stock opname berkala.
  • Menjaga kebersihan, kerapian, dan ketertiban area Warehouse.
  • Mematuhi SOP, peraturan keselamatan kerja, dan ketentuan CPKB.

Wewenang

  • Wewenang mengusulkan pemindahan atau penataan ulang stok barang.
  • Wewenang tidak menerima penempatan barang yang tidak sesuai prosedur penyimpanan.
  • Wewenang memberikan informasi kondisi stok kepada koordinator atau penanggung jawab area terkait.
Admin WarehouseWarehouse · Menjaga kelengkapan dokumen, ketepatan transaksi sistem dan keterlacakan arsip.
Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Mencatat penerimaan/pengeluaran RM, PM, barang setengah jadi dan FG; memeriksa dokumen, input in–out tepat waktu, laporan stok harian/mingguan/bulanan, batch/expiry, arsip, dukungan count, tindak lanjut selisih dan audit.
Hasil kerja yang diperiksa
Register transaksi bernomor; bukti posted; laporan stok; pekerjaan yang belum selesai berdasarkan umur; arsip PO/DO/BPB/BKB serta referensi count/koreksi.
Batas kewenangan
Berwenang tidak menerima penginputan yang tidak didukung dokumen resmi. Transaksi tetap dicatat sebagai pending/masalah yang perlu ditangani untuk ditindaklanjuti, bukan dihilangkan dari laporan. Admin tidak mengesahkan sendiri fisik, status mutu atau koreksi stok yang berdampak besar; petugas input/pemeriksa dipisahkan sesuai risiko.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Melakukan pencatatan administrasi penerimaan dan pengeluaran barang meliputi bahan baku, bahan kemas, barang setengah jadi, dan produk jadi.
  • Memeriksa dan memastikan kelengkapan serta kesesuaian dokumen Warehouse.
  • Menginput data in out barang ke dalam sistem secara akurat dan tepat waktu.
  • Menyusun dan memperbarui laporan stok harian, mingguan, dan bulanan.
  • Membantu pengendalian stok dengan memantau saldo, batch, dan tanggal kedaluwarsa.
  • Berkoordinasi dengan Warehouse Koordinator, Produksi, PPIC, QA, dan Purchasing terkait pergerakan dan ketersediaan barang.
  • Mengarsipkan seluruh dokumen Warehouse secara rapi dan mudah ditelusuri.
  • Membantu proses stock opname berkala dan menindaklanjuti selisih stok.
  • Mendukung pelaksanaan audit internal maupun eksternal terkait administrasi Warehouse.
  • Memastikan administrasi Warehouse dijalankan sesuai SOP, CPKB, dan peraturan perusahaan.

Wewenang

  • Wewenang tidak menerima penginputan transaksi Warehouse yang tidak didukung dokumen resmi.
  • Wewenang memberikan informasi data stok dan laporan Warehouse kepada pihak terkait sesuai kewenangan.
  • Wewenang mengusulkan perbaikan sistem administrasi Warehouse.
Koordinator Bahan Kemas & Staf · usulan tugas

Usulan: Koordinator Bahan Kemas melapor ke Warehouse SPV dan memimpin Staf Bahan Kemas. Koordinator mengendalikan stok/kesiapan tiap komponen, kode/versi label, spesifikasi approved, pengeluaran/retur bahan/sisa serta rekonsiliasi; staf melakukan penanganan fisik, penyiapan, pencatatan realisasi dan pelaporan penyimpangan.

Hasil wajib: kelengkapan set kemasan per rencana produksi, stok yang siap digunakan per SKU /batch/versi, komponen pembatas, expiry bila relevan dan bukti pengeluaran/retur bahan. Perubahan artwork/spesifikasi serta disposition sisa berkode tetap fungsi berwenang.

Bahan kemas dikoordinasikan melalui Koordinator Bahan Kemas yang berkoordinasi dan melaporkan hasil kepada Warehouse SPV. Tetapkan cakupan SKU/lokasi dan serah terima dengan Bahan Baku serta Bulk Supply Amenities.

Tetapkan SKU/lokasi, kode/versi label, pengeluaran/retur bahan/sisa berkode, pemeriksa dan PIC sesuai struktur disahkan.

Warehouse BAHAN BAKU · KOORDINATOR DAN STAF

Tugas Koordinator dan Staf Warehouse Bahan Baku

Bagian ini menjelaskan pembagian tugas koordinator dan staf dalam penerimaan, penyimpanan, pencatatan, serta penyiapan bahan baku untuk produksi. Pada usulan struktur, RM dan Bahan Kemas berkoordinasi dan melaporkan hasil kepada Warehouse SPV; Bulk Supply Amenities pada usulan terbaru masuk jalur Stock Control / Produk Jadi dan tidak otomatis disamakan dengan Packaging. Rincian Koordinator dan Staf Bulk tersedia pada area Stock Control.

Alur kerja singkat

Kebutuhan produksi → stok bahan terverifikasi → kesiapan pengeluaran atau pengajuan kebutuhan ke Purchasing → bukti pemenuhan.

Koordinator Warehouse Bahan BakuRaw Material · Mengoordinasikan staf dan mengendalikan persediaan bahan baku, data serta kesiapan untuk produksi.

Posisi pada struktur usulan: Manager → Warehouse SPV → Koordinator Bahan Baku → Staf Bahan Baku.

Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Mengawasi penerimaan/pemakaian/perpindahan, memastikan data masuk database, mengolah Stockwiz, merekonsiliasi fisik–sistem, mengatur kapasitas/lokasi, membina staf dan mengusulkan kebutuhan ulang berdasarkan minimum stock.
Hasil kerja yang diperiksa
Laporan stok/pemakaian/kondisi; kesiapan bahan; rekonsiliasi dan daftar selisih; kekurangan, usulan reorder serta tindakan perbaikan.
Batas kewenangan
Rotasi bahan menggunakan FIFO/FEFO sesuai masa simpan, status mutu dan ketentuan CPKB. Penolakan atau usulan penahanan dikoordinasikan dengan Quality; pelulusan tetap menjadi kewenangan fungsi mutu.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Melakukan koordinasi dan control terhadap bahan baku yang masuk Warehouse.
  • Melakukan koordinasi dan pengontrolan pemakaian dan perpindahan bahan baku di Warehouse untuk kebutuhan produksi.
  • Memastikan keakuratan data bahan baku yang akan dimasukkan ke database.
  • Mengolah data bahan baku ke dalam stockwiz
  • Melakukan rekonsiliasi data stok fisik bahan baku dengan data dari sistem.
  • Mengatur penempatan bahan baku sesuai dengan kapasitas Warehouse.
  • Memastikan rotasi bahan menggunakan FEFO berdasarkan kedaluwarsa; FIFO digunakan untuk batch dengan masa kedaluwarsa yang sama atau bahan tanpa kedaluwarsa sesuai SOP dan status mutu.
  • Menjamin semua proses penerimaan dan pengeluaran bahan baku sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
  • Memonitor, menganalisa serta membuat perencanaan pelaksanaan untuk perbaikan.
  • Menyusun dan menyampaikan laporan stok, pemakaian serta kondisi bahan baku kepada Warehouse SPV.

Wewenang

  • Wewenang mengatur alokasi dan penempatan raw material di area Warehouse.
  • Wewenang menolak atau mengusulkan penahanan bahan baku yang tidak sesuai spesifikasi.
  • Wewenang mengusulkan kebutuhan pengadaan ulang berdasarkan minimum stock.
  • Wewenang memberikan evaluasi kinerja dan pembinaan kepada staf Warehouse.
Staf Warehouse Bahan BakuRaw Material · Melaksanakan penerimaan, penyimpanan dan penyiapan bahan baku/bahan kemas sesuai tugas koordinator.

Posisi pada struktur usulan: Staf Bahan Baku → Koordinator Bahan Baku → Warehouse SPV → Manager.

Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Memeriksa PO /DO /CoA (sertifikat hasil analisis bahan atau produk), jumlah dan kondisi, mencatat fisik/sistem, menjaga ketersediaan dan kondisi simpan, FIFO/FEFO, count serta pelaporan ke Koordinator; berkoordinasi QC /PPIC /Produksi/Purchasing.
Hasil kerja yang diperiksa
Bukti penerimaan/pengeluaran/retur bahan; saldo dan batch/expiry diperiksa; log lokasi/kondisi; laporan shortage/selisih/kerusakan.
Batas kewenangan
Tetapkan batas SKU/lokasi Bahan Baku, Bahan Kemas dan Bulk Supply Amenities agar setiap pekerjaan memiliki satu penanggung jawab. Penolakan bahan dikoordinasikan dengan QC; usulan reorder melalui Koordinator/PPIC.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Mengelola penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran bahan baku dan bahan kemas sesuai prosedur.
  • Memastikan kualitas, jumlah, dan kondisi bahan baku serta bahan kemas sesuai dokumen (PO, DO, COA).
  • Melakukan pencatatan stok secara akurat (manual maupun sistem).
  • Menjaga ketersediaan bahan untuk mendukung proses produksi.
  • Menerapkan sistem FIFO/FEFO dalam pengelolaan persediaan.
  • Berkoordinasi dengan QC, PPIC, Produksi, dan Purchasing terkait kebutuhan dan status material.
  • Melakukan stock opname secara berkala.
  • Menjaga kebersihan, kerapian, dan keamanan area penyimpanan.
  • Memastikan penyimpanan sesuai standar.
  • Melaporkan kondisi stok, selisih atau masalah material kepada Koordinator Bahan Baku.

Wewenang

  • Wewenang menolak bahan baku/bahan kemas yang tidak sesuai spesifikasi (bersama QC).
  • Wewenang mengatur penempatan dan rotasi material di Warehouse.
  • Wewenang mengusulkan pemesanan ulang bila stok minimum tercapai.
USULAN STRUKTUR · SPV → Stockroom Jasri + 2 DC + Bulk → Staf

Stock Control SPV — Produk Jadi & Bulk

Stock Control SPV memimpin koordinator Jasri, DC PG, DC JKT dan Bulk Supply Amenities beserta staf. Cakupan Bulk mengikuti batas di bawah; struktur dan delegasi memerlukan pengesahan perusahaan.

Batas Warehouse Bahan Awal dan Bulk
  • Warehouse SPV: mengendalikan bahan baku dan bahan kemas sebelum diserahkan untuk produksi, termasuk botol, tube, sachet, tutup dan label yang belum digunakan.
  • Production: menjalankan pengolahan, pengisian dan pengemasan produk. Hasil proses diserahterimakan dengan jumlah, batch, status dan lokasi yang jelas.
  • Stock Control SPV: mengendalikan stok produk Bulk/Amenities yang telah diserahterimakan ke area tanggung jawabnya, sesuai daftar SKU dan lokasi yang disahkan; menyiapkan alokasi serta kiriman setelah persyaratan mutu terpenuhi.
  • Serah terima: pemilik stok ditentukan oleh jenis barang, tahap proses dan dokumen; nama area Bulk tidak otomatis memindahkan bahan awal ke Stock Control. Satu stok memiliki satu pemilik pencatatan, dan Quality tetap menetapkan status mutu.

Pembagian ini adalah usulan. Daftar barang, lokasi, personel dan batas proses perlu disahkan sebelum diterapkan.

Stock Control SPVProduk Jadi & Bulk · Mengendalikan stok Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) serta DC PG, DC JKT dan Bulk Supply Amenities melalui koordinator masing-masing.

Nama jabatan: Stock Control SPV adalah satu jabatan untuk koordinasi produk jadi di Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG dan DC JKT dan Bulk Supply Amenities, bukan jabatan tambahan terpisah. Dalam struktur usulan: Manager → Stock Control SPV → Koordinator Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), Koordinator DC PG, dan Koordinator DC JKT serta Koordinator Bulk Supply Amenities → staf masing-masing. Rincian cakupan, personel dan delegasi ditetapkan perusahaan.

Melapor kepada: Manager. Mengoordinasikan: Koordinator Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), Koordinator DC PG, Koordinator DC JKT, serta Koordinator Bulk Supply Amenities; tiap koordinator mengoordinasikan staf masing-masing.

Cakupan kerja terpadu: merangkum stok produk jadi per SKU /lokasi/batch/status, kesiapan pemenuhan toko/kanal, kapasitas dan kondisi simpan Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) dan dua DC distribusi serta area Bulk Supply Amenities sesuai scope yang disahkan; mengatur pelaksanaan alokasi serta transfer sesuai rencana PPIC dan prioritas disepakati. Mengendalikan penerimaan produk jadi, pengambilan dan pemeriksaan barang, serah terima Logistics, retur/recall serta deviasi antar-DC.

Hasil wajib: laporan stok yang memenuhi syarat untuk digunakan atau dikirim dan reservasi per lokasi di Stockroom Jasri, DC PG dan DC JKT, transfer in-transit/penerimaan parsial, pesanan yang belum terpenuhi, aging/expiry, akurasi penyiapan dan serah terima. Transfer antara Stockroom Jasri, DC PG dan DC JKT tidak menambah stok gabungan seluruh lokasi; lokasi dan referensi pengirim–penerima harus cocok.

Batas: rencana kebutuhan produksi tetap jalur PPIC; transportasi/rute/pengiriman tetap Logistics; pelulusan/penarikan mutu tetap fungsi Quality/PJT (personel penanggung jawab teknis sesuai penetapan perusahaan) sesuai mandat. Stock Control SPV mengawasi operasi FG, bukan otomatis pemeriksa independen atau approver penyesuaian material.

Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Mengatur produk masuk/keluar, penyimpanan dan kondisi ruang/suhu FG serta toko, laporan Stockwiz, ketersediaan produk, pengajuan pemenuhan, koordinasi Stockis untuk susun/pick/check dan penarikan atas keputusan mutu.
Hasil kerja yang diperiksa
Laporan FG per lokasi/batch/status; shortage toko dan e-commerce, Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), serta DC PG/DC JKT; pengambilan dan pemeriksaan barang; kondisi simpan; aging; catatan retur/recall dan tindak lanjut ke PPIC/Quality.
Batas kewenangan
Berbeda dari Warehouse SPV dan fungsi rekonsiliasi Inventory Control. Persetujuan adjustment mengikuti delegasi terverifikasi; kasus yang berdampak besar tetap verifikasi independen, tinjauan Accounting/Finance dan persetujuan pejabat berwenang. Recall mengikuti keputusan Quality/PJT.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Mengadakan pengaturan produk jadi retail yang masuk dan keluar dari Warehouse.
  • Mengendalikan kondisi simpan produk jadi di Warehouse/DC dan memantau laporan toko bersama Retail; Retail menjalankan pengendalian kondisi toko.
  • Membuat laporan inventory produk retail dengan memasukkan data inventori ke Stockwiz.
  • Bertanggung jawab atas penarikan produk dari semua toko retail atas hasil pertimbangan faktor teknis terkait produk oleh bagian Penjaminan Mutu dan Pengawasan Mutu.
  • Memantau ketersediaan produk jadi dan mengajukan kebutuhan pemenuhan melalui PPIC; Production mengonfirmasi rencana produksi dan Quality menetapkan status mutu.
  • Bertanggung jawab atas penyimpanan dan penyusunan Produk Jadi Retail di bagian Warehouse Produk Jadi Retail.
  • Mengoordinasikan pegawai Stockis untuk melaksanakan operasional Warehouse Produk Jadi Retail mulai dari penyusunan barang, pengambilan atau penyiapan barang yang akan dikirim dan pengecekan barang sebelum dikirim.

Wewenang

  • Memeriksa dan merekomendasikan koreksi stok. Persetujuan akhir hanya diberikan jika tercakup delegasi yang disahkan, dengan pemeriksaan terpisah sesuai risiko.
  • Wewenang mengusulkan perbaikan sistem inventory dan kontrol stok.
  • Wewenang memberikan arahan, evaluasi, dan pembinaan kepada tim stock control.
  • Wewenang menghentikan sementara proses distribusi material bila ditemukan ketidaksesuaian.
Alur kerja singkat

Stok Produk jadi yang memenuhi syarat untuk dikirim → kebutuhan toko → pengambilan dan pemeriksaan barang → serah terima Logistics → penerimaan dan ketersediaan di toko.

Staf StockroomStockroom Jasri / DC · Menerima, menyimpan dan menyiapkan barang di Stockroom Jasri atau DC sesuai penempatan, dokumen dan permintaan yang sah.

Posisi usulan: Staf lokasi → Koordinator Stockroom Jasri atau DC terkait → Stock Control SPV → Manager.

Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Menata kategori/batch/expiry, FIFO /FEFO, pick/pengeluaran untuk produksi/distribusi, mencatat manual/sistem, membantu stock opname, menjaga kebersihan/K3 (pengendalian keselamatan personel dan tempat kerja) dan melaporkan selisih/rusak.
Hasil kerja yang diperiksa
Bukti terima/keluar dan lokasi; pick list serta pemeriksaan barang; log stok; temuan selisih/kondisi kepada Stock Control SPV.
Batas kewenangan
Dalam usulan ini, staf Stockroom Jasri dan setiap DC melapor melalui Koordinator Stockroom Jasri atau DC terkait kepada Stock Control SPV. Garis pelaporan, personel dan delegasi ditetapkan sebelum pelaksanaan. Staf dapat menahan sementara barang tidak sesuai dan melapor kepada Koordinator.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Menerima, menyimpan, dan mengeluarkan barang sesuai dokumen dan SOP.
  • Menata barang di Stockroom Jasri atau DC terkait sesuai kategori, batch, dan tanggal kedaluwarsa.
  • Menerapkan sistem FIFO/FEFO dalam pengelolaan stok.
  • Menyiapkan barang sesuai permintaan produksi atau distribusi.
  • Melakukan pencatatan stok masuk dan keluar secara akurat dari manual/sistem.
  • Membantu pelaksanaan stock opname berkala.
  • Menjaga kebersihan, kerapian, dan keamanan Stockroom Jasri atau DC terkait.
  • Melaporkan selisih stok, kerusakan atau barang tidak sesuai kepada koordinator lokasi.
  • Mematuhi ketentuan SOP, dan K3 yang berlaku.

Wewenang

  • Wewenang tidak menerima sementara barang yang tidak sesuai dokumen atau kondisi fisik.
  • Wewenang mengusulkan perbaikan tata letak dan sistem penyimpanan Stockroom Jasri atau DC terkait.
Standar tugas Jasri dan kedua DCBerlaku untuk koordinator dan staf pada tiga lokasi produk jadi
  • Koordinator: membagi tugas/shift, memeriksa penerimaan, status mutu, lokasi, batch, kedaluwarsa, alokasi, penyiapan dan transfer. Verifikasi bukti serta laporkan hasil dan hambatan kepada Stock Control SPV.
  • Staf: menerima, menyimpan, mengambil, memeriksa dan menyerahkan barang sesuai tugas serta SOP. Catat realisasi dan laporkan ketidaksesuaian kepada koordinator. Pencatatan sistem dilakukan satu petugas sesuai akses, tanpa menggandakan transaksi Admin.
  • Hasil: saldo per SKU–batch–status–lokasi, dokumen terima/transfer/order, bukti pemeriksaan dan serah terima, daftar pekerjaan terbuka serta laporan akhir shift.
  • Sebelum diterapkan: sahkan personel, shift, kapasitas, akses dan delegasi setiap lokasi. Status mutu tetap ditetapkan Quality.
Koordinator Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) & StafUSULAN · Rincian per lokasi pada usulan struktur

Melapor kepada: Stock Control SPV. Mengoordinasikan: Staf Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat).

Cakupan: Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat). Gunakan ID lokasi ini pada saldo, transaksi dan serah terima. Catat transfer ke lokasi lain dengan referensi pengirim–penerima yang cocok.

Lihat standar tugas, hasil dan batas kewenangan →

Koordinator DC PG & StafUSULAN · Rincian per lokasi pada usulan struktur

Melapor kepada: Stock Control SPV. Mengoordinasikan: Staf DC PG.

Cakupan: DC PG. Gunakan ID lokasi ini pada saldo, transaksi dan serah terima. Catat transfer ke lokasi lain dengan referensi pengirim–penerima yang cocok.

Lihat standar tugas, hasil dan batas kewenangan →

Koordinator DC JKT & StafUSULAN · Rincian per lokasi pada usulan struktur

Melapor kepada: Stock Control SPV. Mengoordinasikan: Staf DC JKT.

Cakupan: DC JKT. Gunakan ID lokasi ini pada saldo, transaksi dan serah terima. Catat transfer ke lokasi lain dengan referensi pengirim–penerima yang cocok.

Lihat standar tugas, hasil dan batas kewenangan →

Koordinator Bulk Supply AmenitiesBulk / Amenities · Mengoordinasikan kesiapan, stok dan tindak lanjut kebutuhan area bulk supply amenities.

Posisi pada struktur usulan: Manager → Stock Control SPV → Koordinator Bulk Supply Amenities → Staf Bulk Supply Amenities. Cakupan SKU/lokasi, bahan yang ditangani dan serah terima ditetapkan agar tidak tumpang tindih dengan Warehouse bahan awal. Manufaktur tetap Production dan keputusan mutu tetap Quality.

Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Mengoordinasikan kebutuhan pelanggan dengan PPIC, memeriksa serah terima produk Bulk/Amenities, menjaga kondisi area dan stok, serta mengatur penyiapan pesanan. Kebutuhan bahan awal dikonfirmasi kepada Warehouse; pengolahan, pengisian dan pengemasan produk dilaksanakan Production.
Hasil kerja yang diperiksa
Daftar kebutuhan/order; kesiapan bahan dan bulk; kondisi ruang; inventory report; prioritas serta kebutuhan yang belum terpenuhi untuk dibahas dengan PPIC/Production/Sales.
Batas kewenangan
Ikuti batas Warehouse Bahan Awal dan Bulk di atas. Perubahan rencana melalui PPIC; pengolahan, pengisian dan pengemasan produk oleh Production; keputusan mutu oleh Quality.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Mengoordinasikan kebutuhan bulk supply amenities berdasarkan permintaan pelanggan dan rencana produksi.
  • Bertanggung jawab atas kondisi ruang, kebersihan ruang dan pengaturan suhu yang sesuai pada bulk supply amenities.
  • Membuat laporan inventori bulk supply amenities dengan memasukkan data inventori ke Stockwiz.
  • Memantau kesiapan produk Bulk/Amenities sesuai jadwal; mengonfirmasi kebutuhan bahan baku dan bahan kemas kepada Warehouse serta PPIC.
  • Mengawasi pengemasan kiriman Bulk sesuai SOP. Pengisian dan pengemasan produk tetap menjadi tanggung jawab Production.
  • Memastikan penerapan CPKB, FIFO/FEFO, traceability batch, dan kontrol expiry date pada produk bulk.
  • Mengendalikan stok bulk supply amenities agar tidak terjadi kekurangan atau kelebihan persediaan.
  • Menyusun laporan kebutuhan, realisasi, dan stok bulk supply amenities secara berkala.

Wewenang

  • Mengusulkan penyesuaian rencana produksi bulk sesuai kebutuhan pelanggan.
  • Menahan sementara produk bulk yang diduga tidak sesuai dan melaporkannya kepada Quality untuk keputusan mutu.
  • Mengoordinasikan prioritas produksi dan distribusi bulk dengan departemen terkait.
Staf Bulk Supply AmenitiesBulk / Amenities · Melaksanakan penanganan material dan stok area bulk supply amenities sesuai penugasan koordinator.

Posisi pada struktur usulan: Manager → Stock Control SPV → Koordinator Bulk Supply Amenities → Staf Bulk Supply Amenities. Cakupan SKU/lokasi, bahan yang ditangani dan serah terima ditetapkan agar tidak tumpang tindih dengan Warehouse bahan awal. Manufaktur tetap Production dan keputusan mutu tetap Quality.

Peran dalam pekerjaan sehari-hari
Menerima dan memeriksa produk Bulk/Amenities yang diserahterimakan, mencatat stok, menata sesuai batch/status dan urutan kedaluwarsa, serta menyiapkan pesanan. Bantu penghitungan dan laporkan selisih atau kerusakan kepada koordinator. Botol, tube, sachet, tutup dan label yang belum digunakan tetap mengikuti pengendalian bahan kemas oleh Warehouse.
Hasil kerja yang diperiksa
Dokumen penerimaan/penyerahan; log stok masuk–keluar; label batch/status; hasil count dan laporan masalah yang perlu ditangani kepada Koordinator.
Batas kewenangan
Staf tidak mengambil alih pengolahan, pengisian atau pengemasan produk. Laporkan ketidaksesuaian dan kebutuhan pemenuhan kepada koordinator. Bahan awal tetap di bawah Warehouse; Quality menetapkan status mutu.
Usulan rincian tugas dan wewenang

Tugas

  • Melakukan penerimaan, pengecekan, dan pencatatan bulk supply amenities sesuai dokumen.
  • Menyimpan dan menata bulk supply amenities sesuai standar penyimpanan FIFO/FEFO.
  • Menyiapkan produk Bulk/Amenities untuk pemenuhan pesanan sesuai alokasi. Pengembalian ke Production harus memakai permintaan dan bukti serah terima yang sah.
  • Memeriksa kondisi fisik dan kesesuaian label status produk Bulk/Amenities; laporkan dugaan masalah mutu kepada Quality melalui koordinator.
  • Melakukan pencatatan stok masuk keluar secara akurat manual maupun sistem.
  • Membantu proses stock opname berkala dan investigasi selisih stok.
  • Berkoordinasi dengan tim Produksi, QC, Purchasing, dan Warehouse terkait kebutuhan dan ketersediaan bulk supply.
  • Menjaga kebersihan, kerapian, dan keamanan area penyimpanan bulk supply amenities.
  • Melaporkan potensi kekurangan stok, kerusakan atau ketidaksesuaian material kepada Koordinator Bulk Supply Amenities.
  • Mematuhi prosedur K3, dan SOP yang berlaku di industri kosmetik.

Wewenang

  • Menahan sementara barang yang diduga tidak sesuai spesifikasi dan melapor kepada koordinator; keputusan mutu tetap pada Quality.
  • Wewenang mengajukan permintaan pengadaan ulang (reorder) berdasarkan level stok minimum.
  • Wewenang memberikan masukan terkait perbaikan sistem penyimpanan dan distribusi material.
Bab 3 · Struktur & Tugas / Kolaborasi lintas fungsi

3.8 Hubungan kerja lintas fungsi

Keberhasilan peran ini membutuhkan definisi serah terima, kualitas data, dan otorisasi yang jelas di antara fungsi terkait.

PPIC & Warehouse Manager
Procurement / PurchasingPPIC menyampaikan kebutuhan bersih bahan serta tanggal kebutuhan berdasarkan stok Warehouse yang terverifikasi. Procurement/Purchasing menangani pemasok, harga, PO dan komitmen pembelian; mengonfirmasi jumlah serta ETA. Warehouse memverifikasi penerimaan dan melaporkan ketidaksesuaian.
QA / QCIncoming inspection, quarantine, release, rejection, dan traceability (ketertelusuran barang).
Commercial / RetailMemvalidasi kebutuhan, promosi dan prioritas kanal. Tim PPIC berkoordinasi dengan Manager untuk menyusun rencana persediaan/produksi dari permintaan tersebut; Retail mengonfirmasi penerimaan dan ketersediaan rak.
Production / MaintenancePPIC menguji rencana terhadap kapasitas efektif, jadwal perawatan dan kendala yang dikonfirmasi. Warehouse menyiapkan pengeluaran bahan dan retur bahan bahan released; Production menjalankan manufaktur serta mencatat hasil, pemakaian dan deviasi. PPIC meninjau realisasi untuk memperbarui rencana.
Logistics & DistributionStock Control SPV melalui koordinator lokasi menyiapkan pengambilan barang (pengambilan barang sesuai pesanan)/pemeriksaan barang, packing serta bukti serah terima. Logistics mengendalikan transportasi, rute dan pengantaran; DC memantau transfer/in-transit, dan Retail mengonfirmasi penerimaan serta ketersediaan di toko.
Finance & SystemsAccounting merekonsiliasi saldo bersama Warehouse; Finance meninjau nilai dan otorisasi biaya, sedangkan Systems menjaga akses, master lokasi dan audit trail sesuai mandat.
Bab 4 · Perencanaan & Pasokan / Mandat perencanaan terpadu

4.1 Rencana produksi dan kebutuhan bahan

Manager menghubungkan kebutuhan bisnis dengan kapasitas produksi dan stok yang dapat dipercaya.

Urutan baca: data awal → lima langkah perencanaan → keputusan pengadaan → contoh hitung dan dokumen kerja → perubahan jadwal → pemulihan kekurangan bahan.

DATA AWAL PERENCANAAN

Siapkan posisi stok, penjualan dan pesanan

Gunakan dua kelompok data ini untuk menjalankan lima langkah perencanaan pada bagan berikutnya.

Tiga kelompok stok yang dipakai dalam perencanaan

1 · Stok toko dan e-commerce

Stok toko meliputi barang di rak dan Warehouse toko. Stok e-commerce ditelusuri menurut pesanan online, alokasi dan lokasi penyimpanannya.

2 · Stok stockroom/DC distribusi

Gunakan nama lokasi DC PG dan DC JKT pada laporan stok, alokasi serta transfer.

3 · Stok Stockroom Jasri

Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) adalah nama Warehouse pusat produk jadi. Gunakan nama ini secara terpisah dari dua DC distribusi.

Aturan penghitungan: setiap stok fisik dihitung satu kali pada ID lokasi penyimpanannya. Jika pesanan e-commerce memakai stok Jasri atau DC, tampilkan jumlah yang dicadangkan untuk pesanan tersebut; jangan menambahkannya lagi sebagai stok fisik baru. Barang transfer dicatat sebagai barang dalam perjalanan sampai penerima mengonfirmasi jumlah aktual.

MASUKAN A · POSISI STOKPosisi stok per lokasi

SKU · lokasi · batch · status · expiry · reservasi · transfer dalam perjalanan

Koordinator Stockroom Jasri atau DC terkait beserta staf memeriksa stok fisik produk jadi; Stock Control SPV memvalidasi saldo, reservasi dan transfer Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) dan dua DC distribusi. Retail dan tim e-commerce memvalidasi stok masing-masing dan e-commerce; petugas rekonsiliasi yang ditetapkan memeriksa kecocokan catatan.
MASUKAN B · POLA KEBUTUHANPenjualan dan pesanan per kanal

Penjualan harian · periode stok kosong · promosi · musim · retur · order pasti

Retail/Commercial mengonfirmasi kebutuhan; Staf PPIC mengolah proyeksi, Koordinator PPIC memeriksa asumsi dan PPIC SPV memvalidasi kebutuhan per lokasi.
ALUR PPIC & WAREHOUSE

Dari kebutuhan menjadi rencana yang bisa dijalankan

Ikuti urutannya: periksa kebutuhan, bahan dan kapasitas, lalu tetapkan rencana dan pantau hasilnya. Pilih langkah untuk membaca rincian tugas serta bukti kerjanya.

Nomor adalah urutan langkah dalam bagan. Pilih langkah untuk membuka rincian.

  1. PPIC memastikan kebutuhan produksi berasal dari stok dan permintaan yang sudah diperiksa.

    • Periksa stok di toko dan e-commerce, DC PG, DC JKT, serta Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) pada waktu acuan pencatatan yang sama.
    • Cocokkan penjualan, promosi, pesanan pelanggan yang sudah pasti dan pesanan yang belum terpenuhi. Pesanan yang sudah tercakup dalam perkiraan penjualan tidak dijumlahkan lagi sebagai kebutuhan baru.
    • Hitung kebutuhan tiap lokasi, target stok akhir dan tanggalnya. Periksa apakah stok yang ada dapat dipindahkan sebelum mengajukan produksi tambahan.
    • Kurangi kebutuhan dengan stok yang benar-benar dapat dipakai dan sisa produksi berjalan yang dipastikan tersedia tepat waktu. Stok ditahan, stok yang sudah dicadangkan untuk pesanan lain dan produksi yang belum pasti tidak dianggap bebas tersedia.
    • Jika e-commerce memakai stok Jasri atau DC, tampilkan alokasinya tanpa menghitung barang yang sama dua kali. Simpan daftar kebutuhan, sumber data, asumsi dan tanggal pemeriksaannya.
    Pelaksana
    Koordinator dan Staf PPIC menghitung kebutuhan. Retail, tim e-commerce dan Commercial mengonfirmasi penjualan serta pesanan. Koordinator dan staf Stockroom Jasri, DC PG dan DC JKT menyediakan data stok masing-masing.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV memeriksa perhitungan kebutuhan. Stock Control SPV memeriksa data stok produk jadi dan alokasinya. Manager menetapkan prioritas sesuai mandat; kebijakan alokasi antar-kanal mengikuti kewenangan Commercial.
    Bukti kerja
    Daftar kebutuhan per SKU, lokasi, kanal dan tanggal; stok yang sudah diperiksa; pesanan yang belum terpenuhi; perkiraan penjualan dan asumsi perhitungan.
    Jika ada masalah
    Selisih stok ditelusuri bersama Stock Control. Pesanan yang tercatat ganda dikonfirmasi kepada Commercial, Retail atau tim e-commerce. Konflik prioritas dibawa kepada Manager.
  2. PPIC memeriksa produk jadi yang tersedia dan bahan yang diperlukan sebelum menyusun rencana produksi.

    • Stock Control memeriksa stok produk jadi, stok yang sudah dicadangkan, umur stok dan pemindahan antar-lokasi. Hasilnya menjadi dasar jumlah produk yang masih perlu dibuat.
    • Warehouse memeriksa bahan baku dan bahan kemas per lokasi, batch, satuan dan status mutu. Admin memeriksa transaksi yang belum selesai dicatat.
    • PPIC menghitung kebutuhan bahan menggunakan daftar bahan per produk, formula dan versi kemasan yang sudah disetujui. Perhitungkan kebutuhan produksi lain agar bahan yang sama tidak dialokasikan dua kali.
    • Bedakan bahan yang sudah diluluskan dari bahan yang masih ditahan atau belum datang. Purchasing mengonfirmasi pasokan; Quality menentukan status mutu. Waktu tiba tidak selalu sama dengan waktu bahan boleh dipakai.
    • Simpan daftar kebutuhan bahan, kekurangan, perkiraan waktu bahan siap dipakai dan produk atau jadwal yang terdampak.
    Pelaksana
    Staf PPIC menghitung bahan. Koordinator Bahan Baku/Bahan Kemas dan Admin menyiapkan data bahan. Koordinator Stockroom Jasri dan kedua DC menyiapkan data produk jadi. Purchasing mengonfirmasi pasokan.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV memeriksa kebutuhan. Warehouse SPV memeriksa kesiapan bahan; Stock Control SPV memeriksa stok produk jadi. Quality menentukan kelayakan mutu.
    Bukti kerja
    Daftar bahan dan satuan yang disetujui; saldo per batch/status; alokasi; daftar kekurangan serta pasokan yang sudah dikonfirmasi.
    Jika ada masalah
    Kesalahan daftar bahan dibawa kepada pemilik data dan Quality. Kekurangan ditindaklanjuti bersama Purchasing. Jadwal yang tidak dapat dipenuhi dibawa kepada Manager sebelum dijanjikan kepada peminta.
  3. PPIC memastikan jumlah yang ingin diproduksi dapat dikerjakan dengan kapasitas yang tersedia.

    • Hitung beban kerja tiap proses, mesin dan shift berdasarkan jumlah serta urutan produk yang direncanakan.
    • Production dan Maintenance mengonfirmasi kemampuan kerja yang nyata, termasuk jumlah petugas, waktu pergantian produk, hasil produksi yang dapat digunakan, waktu mesin berhenti dan jadwal perawatan.
    • Bandingkan beban dengan kapasitas tersebut. Kemampuan maksimum secara teori tidak langsung dianggap sebagai kemampuan yang tersedia.
    • Jika kapasitas kurang, susun pilihan urutan produksi atau jadwal lain, lalu jelaskan pesanan yang terdampak. Lembur atau tambahan sumber daya mengikuti persetujuan yang berlaku.
    Pelaksana
    Koordinator dan Staf PPIC menyusun pilihan jadwal. Production dan Maintenance mengonfirmasi kapasitas, jadwal perawatan dan hambatan aktual.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV memeriksa kelayakan rencana. Pimpinan Production mengonfirmasi kapasitas. Manager menyelesaikan konflik prioritas sesuai kewenangannya.
    Bukti kerja
    Perhitungan beban mesin/shift, kapasitas tersedia, waktu pergantian produk, jadwal perawatan dan pilihan jadwal produksi.
    Jika ada masalah
    Kelebihan beban, kebutuhan lembur atau tambahan sumber daya dibawa kepada Manager serta pimpinan bagian yang berwenang. Jangan menjanjikan kapasitas yang belum dikonfirmasi.
  4. Manager menetapkan rencana yang dapat dijalankan setelah kebutuhan, bahan dan kapasitas diperiksa.

    • Koordinator dan Staf PPIC menyiapkan rencana berisi SKU atau pesanan, jumlah, waktu mulai/selesai, kebutuhan bahan dan penanggung jawab.
    • Production mengonfirmasi pelaksanaan produksi. Warehouse SPV mengonfirmasi kesiapan bahan. Stock Control SPV mengonfirmasi kesiapan penerimaan produk jadi serta pemenuhan berikutnya.
    • Manager menetapkan prioritas dan rencana sesuai kewenangannya. Rencana yang belum didukung bahan atau kapasitas diberi catatan risiko dan keputusan yang masih diperlukan.
    • PPIC SPV memberi nomor versi dan waktu berlaku, membagikan rencana serta memastikan penerima memahaminya. Simpan rencana awal agar hasil kerja tetap dapat dibandingkan secara jujur.
    Pelaksana
    Koordinator dan Staf PPIC menyusun serta membagikan rencana. Production, Warehouse dan Stock Control mengonfirmasi kesiapan bagian masing-masing.
    Pengawas / keputusan
    Manager menetapkan rencana sesuai kewenangan. PPIC SPV memastikan versi yang dipakai benar dan perubahan diketahui pelaksana.
    Bukti kerja
    Rencana dengan nomor versi, jumlah dan jadwal; kebutuhan bahan; penanggung jawab; konfirmasi kesiapan serta catatan risiko dan keputusan.
    Jika ada masalah
    Konflik antar-pesanan dibawa kepada Manager. Keputusan di luar kewenangannya mengikuti jalur Ni Luh Somawati dan I Nengah Riadi sesuai tingkat masalah. Pembelian dan status mutu tetap mengikuti pejabat yang berwenang.
  5. Setiap bagian menjalankan tugasnya, lalu PPIC membandingkan hasil dengan rencana yang disetujui.

    • Warehouse SPV mengawasi koordinator dan staf dalam penyiapan serta pengeluaran bahan yang telah diluluskan. Catat jumlah, batch, satuan, penerima dan retur bahan.
    • Production menjalankan manufaktur dan melaporkan pemakaian bahan, hasil, sisa serta penyimpangan proses. Quality menetapkan status mutu bahan dan produk.
    • Stock Control SPV mengawasi koordinator dan staf Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG serta DC JKT dalam penerimaan, penyimpanan, alokasi dan penyiapan produk jadi.
    • Logistics menangani pengangkutan. Retail mengonfirmasi penerimaan dan pengisian rak; tim e-commerce memeriksa pemenuhan pesanan online beserta bukti pengiriman dan penerimaan pelanggan.
    • PPIC SPV meninjau perbedaan jumlah dan waktu melalui Koordinator/Staf PPIC. Catat penyebab, tindakan, penanggung jawab dan tenggat; perubahan rencana dibawa kepada Manager sesuai kewenangan. Kebutuhan yang baru terpenuhi sebagian tetap terbuka.
    Pelaksana
    Koordinator dan staf Warehouse menyiapkan bahan; Production mengolah dan mencatat hasil; koordinator/staf Stockroom Jasri serta kedua DC menerima dan menyiapkan produk. Admin mencatat transaksi satu kali; Logistics, Retail dan tim e-commerce mengonfirmasi hasil bagiannya.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV memeriksa hasil dibanding rencana. Warehouse SPV mengawasi bahan awal; Stock Control SPV mengawasi produk jadi. Quality menentukan status mutu; Manager menyelesaikan hambatan di luar kewenangan tim.
    Bukti kerja
    Bukti pengeluaran bahan/retur, laporan produksi, penerimaan produk jadi, status mutu, alokasi, transfer, bukti penerimaan tujuan dan perbandingan rencana dengan hasil aktual.
    Jika ada masalah
    Keterlambatan atau kekurangan dibawa ke PPIC SPV dan Manager. Masalah mutu dibawa ke Quality. Dampak pemenuhan dikonfirmasi kepada Stock Control, Logistics, Retail dan tim e-commerce.
Alur perencanaan · Langkah 1 dari 5

Validasi kebutuhan

PPIC memastikan kebutuhan produksi berasal dari stok dan permintaan yang sudah diperiksa.

  • Periksa stok di toko dan e-commerce, DC PG, DC JKT, serta Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) pada waktu acuan pencatatan yang sama.
  • Cocokkan penjualan, promosi, pesanan pelanggan yang sudah pasti dan pesanan yang belum terpenuhi. Pesanan yang sudah tercakup dalam perkiraan penjualan tidak dijumlahkan lagi sebagai kebutuhan baru.
  • Hitung kebutuhan tiap lokasi, target stok akhir dan tanggalnya. Periksa apakah stok yang ada dapat dipindahkan sebelum mengajukan produksi tambahan.
  • Kurangi kebutuhan dengan stok yang benar-benar dapat dipakai dan sisa produksi berjalan yang dipastikan tersedia tepat waktu. Stok ditahan, stok yang sudah dicadangkan untuk pesanan lain dan produksi yang belum pasti tidak dianggap bebas tersedia.
  • Jika e-commerce memakai stok Jasri atau DC, tampilkan alokasinya tanpa menghitung barang yang sama dua kali. Simpan daftar kebutuhan, sumber data, asumsi dan tanggal pemeriksaannya.
Pelaksana
Koordinator dan Staf PPIC menghitung kebutuhan. Retail, tim e-commerce dan Commercial mengonfirmasi penjualan serta pesanan. Koordinator dan staf Stockroom Jasri, DC PG dan DC JKT menyediakan data stok masing-masing.
Pengawas / keputusan
PPIC SPV memeriksa perhitungan kebutuhan. Stock Control SPV memeriksa data stok produk jadi dan alokasinya. Manager menetapkan prioritas sesuai mandat; kebijakan alokasi antar-kanal mengikuti kewenangan Commercial.
Bukti kerja
Daftar kebutuhan per SKU, lokasi, kanal dan tanggal; stok yang sudah diperiksa; pesanan yang belum terpenuhi; perkiraan penjualan dan asumsi perhitungan.
Jika ada masalah
Selisih stok ditelusuri bersama Stock Control. Pesanan yang tercatat ganda dikonfirmasi kepada Commercial, Retail atau tim e-commerce. Konflik prioritas dibawa kepada Manager.

Informasi aktual kembali ke langkah awal. Satu acuan rencana dipakai bersama; revisi tidak menghapus rencana asal yang dipakai menilai kinerja.

KEPUTUSAN PENGADAAN BAHAN

Tentukan apakah kekurangan perlu dibeli atau ditangani dengan cara lain

Gunakan hasil pemeriksaan bahan pada langkah perencanaan untuk memilih jalur berikut.

KEPUTUSAN KESIAPAN BAHANApakah seluruh bahan cukup, released dan siap pada tanggal kebutuhan?

Rencana pasokan yang belum released ditandai bersyarat; waktu tiba tidak disamakan dengan waktu bahan siap dipakai.

YA · BAHAN SIAPAlokasikan bahan dan siapkan pengeluaran bahan

PPIC menyelaraskan urutan produksi dalam rencana yang layak. Warehouse menyiapkan bahan released dan bukti serah terima; tidak perlu pengajuan pembelian tambahan untuk kebutuhan yang sudah terpenuhi.

BELUM · KURANG / HOLD / TERLAMBATBedakan kebutuhan beli dari hambatan mutu atau waktu

Jika kekurangan perlu dibeli: PPIC menetapkan jumlah, spesifikasi dan tanggal bahan dibutuhkan → pengajuan kebutuhan → Procurement/Purchasing memproses pembelian dan mengonfirmasi ETA sesuai otorisasi.

Jika barang ada tetapi hold atau terlambat: koordinasikan penilaian Quality, jadwal pasokan atau skenario produksi lain; tidak otomatis membeli pengganti atau memakai stok hold.

Barang yang datang belum otomatis boleh dipakai. Quality menentukan status mutu; waktu tiba dan waktu bahan siap digunakan dicatat terpisah.

Setelah bahan siap, pelaksanaan dan pemeriksaan hasil mengikuti Langkah 5 pada bagan perencanaan. Kekurangan yang belum selesai ditangani pada bagan pemulihan bahan di bawah.

Catatan khusus perhitungan dan pembelian
  • Penjualan saat stok kosong: penjualan nol belum tentu berarti permintaan nol. Gunakan hari pembanding saat barang tersedia dan catat asumsi. Riwayat 8–12 minggu dapat menjadi bahan uji coba; gunakan riwayat lebih panjang untuk menilai musim dan promosi.
  • Kelayakan stok: pisahkan barang karantina, ditahan, ditolak, rusak, kedaluwarsa, tester dan retur yang belum diluluskan. Stok tersebut tidak dianggap bebas tersedia.
  • Bahan dan satuan: gunakan formula, daftar bahan dan versi kemasan yang disetujui. Periksa botol, tutup, label, box dan karton; satu komponen yang kurang dapat menunda produksi. Gunakan konversi satuan yang benar dan jangan menghitung susut atau cadangan dua kali.
  • Alokasi: bila saldo yang diterima PPIC sudah dikurangi cadangan pesanan, jangan kurangi cadangan yang sama lagi. Cadangan pusat dan toko ditinjau agar tidak menumpuk persediaan tanpa kebutuhan.
  • Batas pembelian: PPIC mengajukan bahan, jumlah, spesifikasi, lokasi penerima dan tanggal kebutuhan. Purchasing menangani pemilihan pemasok, negosiasi, harga, PO dan komitmen pemasok sesuai kewenangan. Jumlah minimum pembelian, waktu pasokan, kapasitas simpan serta risiko kedaluwarsa tetap diperiksa sebelum pemesanan.
Contoh: berapa produk yang perlu dibuat dan bahan yang masih kurang?

Misalnya kita merencanakan satu jenis produk untuk bulan depan. Semua angka berikut hanya contoh, bukan data perusahaan. Satuan pcs berarti buah produk.

Tentukan stok pengaman (C) sebelum menghitung produksi

Dalam contoh ini, buffer stock dan safety stock berarti cadangan yang sama. Pilih satu cara menghitungnya: persentase penggunaan atau jumlah hari cadangan. Hasil keduanya tidak dijumlahkan.

Rumus persentase: C = B × persentase buffer. B adalah perkiraan penggunaan untuk periode yang sama. Persentase dihitung dari penggunaan, bukan dari sisa stok atau tambahan produksi.

Perkiraan penggunaan selama 30 hari (B)
1.000 pcs
Asumsi latihan: cadangan setara 6 hari penggunaan untuk menghadapi ketidakpastian permintaan atau pasokan
6 ÷ 30 = 20%
Stok pengaman (C): 1.000 × 20%
200 pcs

Cara hari cadangan memberikan hasil yang sama: (1.000 ÷ 30) × 6 = 200 pcs. 20% dan 6 hari hanya asumsi latihan, bukan rekomendasi atau standar perusahaan. Angka ini belum membuktikan tingkat perlindungan tertentu. Kebutuhan normal selama waktu pasokan tetap masuk rencana; cadangan melindungi ketidakpastiannya.

Kisaran buffer yang digunakan: 10–20% dari penggunaan periode. Untuk penggunaan 1.000 pcs, buffer 10% = 100 pcs dan buffer 20% = 200 pcs. Contoh berikut memakai 20%. Pilih persentase dalam kisaran ini berdasarkan data tiap produk dan lokasi; bila tidak mencukupi, evaluasi rencana dan ajukan peninjauan parameter.

Dasar memilih persentase atau hari cadangan:

  • Kebutuhan: periksa selisih perkiraan dengan penjualan aktual, lonjakan permintaan dan pola musiman. Promosi yang sudah diketahui dimasukkan ke penggunaan (B), bukan dihitung lagi sebagai cadangan.
  • Pasokan: periksa waktu produksi, pengiriman dan pemeriksaan mutu sampai stok siap digunakan, termasuk riwayat keterlambatannya.
  • Target ketersediaan: tentukan tingkat layanan yang ingin dicapai dan dampak bila produk kosong.
  • Batas stok: pertimbangkan kedaluwarsa, kapasitas simpan dan biaya persediaan.
  • Lokasi: nilai kebutuhan Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, DC JKT, toko dan e-commerce sesuai waktu pengisian masing-masing. Hindari memberi buffer penuh yang sama berulang kali pada permintaan yang sama.

Penetapan: PPIC mengusulkan persentase 10–20% per produk dan lokasi beserta periode, data pendukung serta alasannya. Stock Control memeriksa stok dan distribusi; Warehouse, Production dan Purchasing mengonfirmasi waktu pasokan sesuai bagiannya. Manager meninjau sesuai kewenangan. Evaluasi berkala terhadap kejadian stok kosong, stok berlebih dan kedaluwarsa; sesuaikan bila kebutuhan atau pasokan berubah.

Rujukan metode: Oracle Inventory — safety stock sebagai persentase perkiraan kebutuhan. Persentase pada contoh ini merupakan asumsi latihan, bukan angka dari rujukan.

Sisa stok (D) · Hitung produk yang sudah tersedia

Stok siap jual di Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG dan DC JKT, jika dijumlahkan
500 pcs
Stok siap jual di toko dan tempat penyimpanan khusus e-commerce
300 pcs
Total stok yang ada sekarang: 500 + 300
800 pcs

Dalam contoh ini, stok e-commerce disimpan terpisah. Jika e-commerce memakai stok Jasri atau DC, barang yang sama cukup dihitung satu kali.

Penggunaan (B) + stok pengaman (C) · Tentukan kebutuhan periode

Perkiraan produk yang akan terjual bulan depan
1.000 pcs
Safety Stock (C) dari perhitungan buffer 20% × 1.000 pcs; dialokasikan antar lokasi sesuai kebutuhan
200 pcs
Total yang harus dipenuhi: 1.000 + 200
1.200 pcs

Total cadangan dalam contoh ini 200 pcs untuk seluruh lokasi. Pembagiannya mengikuti kebutuhan dan waktu pengisian masing-masing lokasi; jangan menambahkan buffer 20% lagi setelah safety stock ini dihitung.

Kebutuhan (A) · Hitung tambahan yang perlu diproduksi

Penggunaan (B) + stok pengaman (C)
1.200 pcs
Kurangi sisa stok yang bisa digunakan (D)
− 800 pcs
Kebutuhan (A) = B + C − D
400 pcs
Kurangi produk yang sedang dibuat dan dipastikan siap sebelum dibutuhkan; belum termasuk stok 800 pcs
− 200 pcs
Produksi tambahan yang perlu direncanakan
200 pcs

Cek hasil: 800 stok sekarang + 200 dari produksi berjalan + 200 produksi tambahan = 1.200 pcs. Setelah terjual 1.000 pcs, masih tersisa 200 pcs.

Kebutuhan bahan · Hitung bahan untuk membuat 200 pcs tambahan

Misalnya resep yang disetujui memerlukan 0,2 kg bahan baku dan 1 botol untuk setiap produk.

Bahan baku
Kebutuhan: 200 × 0,2 kg
40 kg
Kurangi stok bahan yang bebas dipakai
− 50 kg
Kurangi kiriman yang dipastikan siap dipakai sebelum produksi
− 10 kg
Kekurangan: 40 − 50 − 10 = −20; tidak perlu tambahan bahan
0 kg
Botol
Kebutuhan: 200 × 1 botol
200 botol
Kurangi stok botol yang bebas dipakai
− 250 botol
Kurangi kiriman yang dipastikan siap dipakai sebelum produksi
− 50 botol
Kekurangan: 200 − 250 − 50 = −100; tidak perlu tambahan botol
0 botol

Sebelum dijalankan:

  • Periksa tanggal kebutuhan tiap lokasi, kemampuan produksi, waktu pemeriksaan mutu dan pengiriman. Total bulanan yang cukup belum tentu tersedia tepat pada hari dibutuhkan.
  • Stok di atas sudah layak dipakai atau dijual dan tidak dicadangkan untuk kebutuhan lain. Bahan untuk 200 pcs yang sedang diproduksi sudah disiapkan terpisah.
  • Perpindahan barang dari Jasri atau DC ke toko bukan penjualan baru dan tidak menambah total stok seluruh lokasi.
  • Contoh hanya menghitung bahan baku dan botol. PPIC tetap memeriksa bahan lain, seperti tutup dan label. Jumlah pembelian akhir mengikuti kebutuhan nyata, susut yang disetujui, jumlah minimum pembelian dan persetujuan perusahaan.

Dokumen kerja yang digunakan

Masukan, hasil dan pemeriksaan perencanaan
DokumenIsi wajibPemeriksaan dan penanggung jawab
Demand & supply reviewSKU, kanal/order, kebutuhan, periode, forecast, order pasti, stok yang memenuhi syarat untuk digunakan atau dikirim dan ETA pasokan; asumsi permintaan dicatat.Koordinator PPIC memeriksa kelengkapan; Commercial memvalidasi permintaan; Manager menilai prioritas dan risiko layanan.
Rencana produksi & kapasitasVersi acuan, order/batch rencana, kuantitas, proses/mesin, shift, waktu mulai/selesai, kapasitas efektif dan bottleneck.PPIC menyusun; Production/Maintenance mengonfirmasi kapasitas; Manager menerbitkan prioritas yang layak dalam mandat.
Kebutuhan bahan & shortageBOM/formula/versi kemasan disahkan, yield, UOM, kebutuhan bersih, reservasi, sumber, tanggal bahan dibutuhkan, ETA tiba dan release.PPIC menghitung; Warehouse memvalidasi saldo; Procurement mengonfirmasi pasokan; Quality menetapkan status.
Parameter persediaan & agingLead time, buffer, reorder point, target coverage, lot/MOQ, kapasitas dan sisa masa simpan; versi, alasan dan persetujuan perubahan.PPIC memelihara dan menguji parameter; Manager meninjau layanan/risiko; Finance memvalidasi nilai dan modal kerja.
Plan-versus-actual & perubahanRencana awal, revisi, realisasi jumlah/waktu, penyebab deviasi, order terdampak, tindakan, PIC dan tenggat.Koordinator PPIC mengompilasi data Production dan Warehouse; Manager memisahkan kegagalan planning, pasokan, mutu dan eksekusi.
ALUR PPIC & WAREHOUSE

Saat jadwal berubah, keputusan tetap tertelusur

Perubahan permintaan atau kapasitas perlu dinilai sebelum jadwal diterbitkan ulang.

Nomor adalah urutan langkah dalam bagan. Pilih langkah untuk membuka rincian.

  1. Catat permintaan perubahan, waktu, pengusul, order/SKU, alasan dan tanggal kebutuhan. Simpan rencana asal dan komitmen yang sudah diberikan. Pemicu bisa berupa order baru, gangguan mesin, pasokan terlambat atau status mutu; pemicu belum menjadi izin menjalankan perubahan.

    Pelaksana
    Staf PPIC mencatat usulan dari Production, Purchasing, Warehouse, Stock Control atau Commercial.
    Pengawas / keputusan
    Koordinator PPIC dan PPIC SPV memeriksa alasan, kelengkapan dan urgensi.
    Bukti kerja
    Register perubahan, versi awal, order/SKU, pengusul, waktu dan tanggal kebutuhan.
    Jika ada masalah
    Permintaan tanpa data dikembalikan untuk dilengkapi; kebutuhan mendesak segera dibawa ke Manager.
  2. PPIC membandingkan dampak pilihan jadwal terhadap bahan, kapasitas produksi, pesanan toko/e-commerce/B2B, biaya dan kedaluwarsa. Konfirmasikan data kepada Production, Purchasing, Quality, Warehouse, Stock Control dan Commercial sesuai bagian yang terdampak. Catat pilihan penyelesaian, akibat masing-masing, saran tindakan dan batas waktu keputusan.

    Pelaksana
    PPIC menyusun pilihan bersama Production, Purchasing, Warehouse, Stock Control, Quality dan Commercial.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV meninjau dampak; SPV area memvalidasi fakta bahan dan FG.
    Bukti kerja
    Pilihan jadwal, dampak bahan/kapasitas/order, expiry, biaya dan rekomendasi.
    Jika ada masalah
    Dampak distribusi dikonfirmasi Stock Control dan Logistics; konflik prioritas atau biaya ke Manager.
  3. Manager dapat menyesuaikan rencana sesuai prioritas, kapasitas dan kewenangan yang telah disetujui, setelah berkoordinasi dengan bagian terdampak. Konflik antarbagian yang belum selesai dibawa kepada Ni Luh Somawati. Masalah berdampak besar atau keputusan di luar kewenangan segera mengikuti jalur Ni Luh Somawati dan I Nengah Riadi. Persetujuan pembelian, pengeluaran biaya dan status mutu tetap mengikuti pejabat yang berwenang.

    Pelaksana
    Manager menilai rekomendasi PPIC dan kesanggupan fungsi terdampak.
    Pengawas / keputusan
    Keputusan mengikuti mandat; konflik lintas fungsi dibawa kepada Ni Luh Somawati dan risiko di luar kewenangan kepada pimpinan terkait.
    Bukti kerja
    Keputusan, alasan, persetujuan, batas berlaku serta risiko yang diterima.
    Jika ada masalah
    PPIC tidak mengesahkan sendiri biaya pembelian, perubahan mutu atau komitmen pemasok.
  4. PPIC SPV memastikan rencana terbaru memiliki nomor versi, alasan perubahan, pemberi keputusan dan waktu berlaku. Koordinator PPIC membagikannya kepada Production, Warehouse SPV, Stock Control SPV dan bagian lain yang terdampak. Pastikan pelaksana memahami perubahan dan berhenti memakai rencana lama. Simpan rencana awal serta revisinya agar perubahan jadwal tidak menutupi keterlambatan yang sudah terjadi.

    Pelaksana
    Koordinator PPIC/Staf menerbitkan revisi; Production, Warehouse, Stock Control dan mitra terdampak mengakui penerimaan.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV mengendalikan versi; masing-masing SPV memastikan tim menggunakan acuan terbaru.
    Bukti kerja
    Versi baru, daftar penerima, pengakuan, waktu efektif dan pengukuran deviasi terhadap rencana awal.
    Jika ada masalah
    Pelaksana yang belum menerima revisi dihubungi sebelum eksekusi; benturan tugas ke SPV area dan Manager.
Perubahan jadwal · Langkah 1 dari 4

Catat pemicu

Catat permintaan perubahan, waktu, pengusul, order/SKU, alasan dan tanggal kebutuhan. Simpan rencana asal dan komitmen yang sudah diberikan. Pemicu bisa berupa order baru, gangguan mesin, pasokan terlambat atau status mutu; pemicu belum menjadi izin menjalankan perubahan.

Pelaksana
Staf PPIC mencatat usulan dari Production, Purchasing, Warehouse, Stock Control atau Commercial.
Pengawas / keputusan
Koordinator PPIC dan PPIC SPV memeriksa alasan, kelengkapan dan urgensi.
Bukti kerja
Register perubahan, versi awal, order/SKU, pengusul, waktu dan tanggal kebutuhan.
Jika ada masalah
Permintaan tanpa data dikembalikan untuk dilengkapi; kebutuhan mendesak segera dibawa ke Manager.

Batas perubahan/frozen horizon merupakan kebijakan yang disepakati saat implementasi; jumlah hari dan batas biaya ditetapkan perusahaan.

ALUR PPIC & WAREHOUSE

Saat bahan kurang, ubah peringatan menjadi pemenuhan

Kebutuhan belum selesai hanya karena reminder telah dikirim.

Nomor adalah urutan langkah dalam bagan. Pilih langkah untuk membuka rincian.

  1. PPIC dan Warehouse memeriksa stok bahan siap pakai, satuan, status mutu, jumlah kebutuhan per pesanan dan tanggal mulai produksi. Pisahkan kekurangan fisik dari transaksi yang belum dicatat, bahan yang ditahan dan kesalahan daftar bahan. Stock Control mengonfirmasi dampaknya terhadap produk jadi serta kebutuhan toko dan e-commerce. Hasilnya berupa jumlah bahan yang masih kurang, tanggal kebutuhan dan pesanan yang terdampak.

    Pelaksana
    PPIC menghitung kekurangan; tim Bahan Baku/Bahan Kemas memeriksa fisik; Stock Control memeriksa dampak FG dan kebutuhan toko.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV memeriksa perhitungan; Warehouse SPV memvalidasi bahan dan Quality memvalidasi status.
    Bukti kerja
    Shortage per bahan/order/tanggal, saldo usable, reservasi, UOM dan produk terdampak.
    Jika ada masalah
    Selisih fisik/data ke Warehouse SPV dan Admin; hold ke Quality; kebutuhan yang mengancam jadwal ke Manager.
  2. PPIC menetapkan jumlah dan tanggal kebutuhan. Procurement mengonfirmasi pemasok, jumlah dan ETA; Quality mengonfirmasi kebutuhan pemeriksaan serta estimasi release tanpa menjanjikan hasil mutu. Catat ETA tiba dan Perkiraan waktu bahan siap digunakan secara berbeda. Pemesanan dan biaya percepatan mengikuti kewenangan pembelian.

    Pelaksana
    PPIC menyampaikan kebutuhan; Purchasing mengonfirmasi pemasok; Warehouse menyiapkan penerimaan; Quality mengonfirmasi tahapan pemeriksaan.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV memantau tenggat; pembelian dan percepatan disetujui pejabat yang memiliki delegasi.
    Bukti kerja
    Konfirmasi jumlah, ETA tiba, perkiraan waktu usable, PO terbuka dan penanggung jawab tindak lanjut.
    Jika ada masalah
    Janji pasokan tidak pasti ke Manager; Stock Control dan Retail diberi pembaruan dampak pemenuhan.
  3. Uji urutan produksi lain, pasokan parsial atau penggunaan stok yang memenuhi syarat untuk digunakan atau dikirim dari lokasi lain dengan biaya dan dampaknya. Substitusi bahan/kemasan memerlukan persetujuan spesifikasi dan mutu; tidak diputuskan PPIC sendiri. Manager menetapkan pilihan dalam mandat atau membawa konflik kepada Ni Luh Somawati dengan rekomendasi.

    Pelaksana
    PPIC menyusun opsi bersama Production, Warehouse, Purchasing dan Stock Control untuk stok lokasi lain atau perubahan urutan.
    Pengawas / keputusan
    Manager menetapkan pilihan dalam mandat; Quality/pemilik spesifikasi menyetujui substitusi sesuai kewenangan.
    Bukti kerja
    Opsi pemulihan, jumlah parsial, biaya, dampak order, keputusan dan jadwal revisi.
    Jika ada masalah
    Perpindahan FG dikendalikan Stock Control; konflik kanal, biaya atau perubahan spesifikasi mengikuti pejabat berwenang.
  4. Tim penerimaan memeriksa barang, Quality menetapkan status mutu dan Admin mencatat transaksi. Warehouse SPV mengawasi penyerahan bahan ke produksi. Setelah manufaktur, Stock Control SPV memantau penerimaan dan pemenuhan produk jadi melalui koordinator Stockroom Jasri serta kedua DC. PPIC memeriksa sisa kebutuhan dan perubahan jadwal. Retail mengonfirmasi penerimaan toko serta pengisian rak; tim e-commerce memeriksa pemenuhan pesanan online. Kebutuhan parsial tetap terbuka. Jika masalah berulang, tinjau ulang aturan perencanaan dan penyebabnya.

    Pelaksana
    In Out dan tim bahan menerima/menyiapkan pengeluaran; Admin mencatat; koordinator Stockroom Jasri atau DC terkait menerima produk jadi; Retail mengonfirmasi pemulihan rak.
    Pengawas / keputusan
    Warehouse SPV mengawasi bahan; Stock Control SPV mengawasi FG dan distribusi; PPIC SPV memastikan sisa kebutuhan.
    Bukti kerja
    Penerimaan, status release, pengeluaran, hasil produksi, transfer, bukti terima toko dan saldo shortage tersisa.
    Jika ada masalah
    Kebutuhan parsial tetap terbuka; kejadian berulang dievaluasi PPIC, SPV area dan Manager untuk perbaikan parameter.
Pemulihan bahan · Langkah 1 dari 4

Pastikan kebutuhan bersih

PPIC dan Warehouse memeriksa stok bahan siap pakai, satuan, status mutu, jumlah kebutuhan per pesanan dan tanggal mulai produksi. Pisahkan kekurangan fisik dari transaksi yang belum dicatat, bahan yang ditahan dan kesalahan daftar bahan. Stock Control mengonfirmasi dampaknya terhadap produk jadi serta kebutuhan toko dan e-commerce. Hasilnya berupa jumlah bahan yang masih kurang, tanggal kebutuhan dan pesanan yang terdampak.

Pelaksana
PPIC menghitung kekurangan; tim Bahan Baku/Bahan Kemas memeriksa fisik; Stock Control memeriksa dampak FG dan kebutuhan toko.
Pengawas / keputusan
PPIC SPV memeriksa perhitungan; Warehouse SPV memvalidasi bahan dan Quality memvalidasi status.
Bukti kerja
Shortage per bahan/order/tanggal, saldo usable, reservasi, UOM dan produk terdampak.
Jika ada masalah
Selisih fisik/data ke Warehouse SPV dan Admin; hold ke Quality; kebutuhan yang mengancam jadwal ke Manager.

Register minimum: bahan/SKU, order terdampak, kebutuhan, stok yang siap digunakan, selisih, tanggal bahan dibutuhkan, ETA tiba/release, PIC, keputusan, tenggat dan bukti penyelesaian.

Ritme pengendalian seluruh tim

Harian: PPIC SPV, Warehouse SPV dan Stock Control SPV sesuai jalur usulan membawa kesiapan bahan, realisasi produksi, transaksi tertunda, shortage serta keputusan sebelum tenggat. Manager menyelaraskan prioritas; setiap perubahan memiliki PIC dan bukti.

Mingguan: usulan review kebutuhan–pasokan–kapasitas bersama Production, Procurement, Quality dan Commercial; bandingkan rencana dengan aktual, tinjau aging dan pembaruan parameter. Hasilnya satu rencana dengan nomor versi yang jelas dan daftar keputusan terbuka.

Bulanan: review KPI (indikator kinerja utama), umur/nilai stok serta modal kerja dengan Accounting/Finance; pembinaan seluruh tim dan kecukupan kontrol dengan HR (fungsi pengelolaan SDM). Manager menyampaikan tren, akar masalah, tindakan dan kebutuhan keputusan kepada Ni Luh Somawati; risiko mendesak dilaporkan segera.

LATIHAN KEBUTUHAN DARI DOKUMEN PPIC

Menghitung kebutuhan dari AIO sampai usulan pembelian

Gunakan versi formula dan kemasan yang disetujui. Dari demand tanpa penghitungan ganda, kurangi FG eligible bersih reservasi serta pasokan FG yang lulus tepat waktu, lalu tambahkan target akhir untuk memperoleh produksi bersih. Setelah itu hitung unit filling, bulk, BOM dan kebutuhan kemasan.

Langkah simulasi STRO BW50PerhitunganHasil
Unit filling1.000 unit produksi + 3 sampel pertinggal1.003 unit
Bulk teoritis1.003 × 59,5 g + tambahan tetap 700 g60.378,5 g = 60,3785 kg
KemasanBotol, screw cap dan stiker; allowance kemasan 0%Masing-masing 1.003 pcs
Kekurangan botol1.003 − (200 released − 50 reservasi) − 100 incoming siap753 pcs
Lot usulanMOQ 500 pcs; kelipatan pesan 100 pcs800 pcs

Standar sumber: AIO STRO-BW50, Sheet1 (2), F41 = 59,5 g per unit 50 mL; N17 = 3 sampel pertinggal; H14 memuat tambahan tetap 700 g. Demand, stok, MOQ dan kelipatan di atas adalah asumsi simulasi. Perincian 700 g perlu dikonfirmasi agar sampel/loss tidak dihitung ulang; model ini tidak ditambah pembagi yield.

Jika kebutuhan produksi baru nol, unit filling, bulk dan sampel batch baru juga nol. Usulan pembelian tetap memerlukan tanggal kebutuhan, status mutu, expiry, kapasitas simpan dan persetujuan sesuai SOP. Coba kalkulator AIO dan baca langkah hitungnya →

Bab 4 · Perencanaan & Pasokan / Kebijakan persediaan toko

4.2 Kebijakan pengisian stok toko

Parameter dibuat per SKU (kode unik jenis atau varian barang)–toko sesuai penjualan, pola permintaan, lead time (waktu tunggu pemenuhan), frekuensi kirim, kapasitas, dan umur simpan.

Rancangan pendukung: RxStock — blueprint dan demo perencanaan persediaan retail ↗. Pelajari histori penjualan, pola musim, Pareto ABC, forecast, buffer dan draft PO (pesanan pembelian resmi) per PCS ke Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG atau DC JKT (pusat penyimpanan dan pemenuhan produk jadi) internal, dengan perhitungan per SKU × toko. Demo memakai data simulasi dan belum terhubung ke StockWiz.

Bedakan tiga angka: safety stock (stok pengaman) adalah buffer ketidakpastian; reorder point (titik pemesanan ulang) adalah titik pemicu pemesanan; target stock adalah tingkat persediaan yang dituju setelah pengisian. Istilah “stok minimum” harus didefinisikan agar ketiganya tidak tertukar.

1. Ukur kebutuhan dan lead time

Hitung demand harian (d) setelah meninjau hari stockout (kekosongan stok), promosi, dan pola musim. Penjualan nol saat barang kosong bukan bukti demand nol. Estimasi kebutuhan yang tidak terpenuhi memakai hari sebanding ketika stok tersedia atau toko pembanding, dengan asumsi dicatat.

Lead time (L) dihitung dari keputusan/order pengisian sampai produk tersedia layak jual, termasuk persetujuan, antrean Warehouse, angkut, penerimaan, dan refill. Interval review (R) adalah jarak antar-review/order. Gunakan basis hari yang konsisten.

2. Kelompokkan prioritas persediaan

ABC digunakan untuk prioritas kontribusi nilai penjualan; XYZ untuk kestabilan permintaan. Keduanya dilengkapi flag produk utama, promosi, produk baru, dan lead time panjang. Klasifikasi berlaku per lokasi bila pola toko berbeda.

SKU prioritas mendapat pemeriksaan dan layanan lebih ketat. Slow mover memakai buffer serta lot lebih kecil; produk baru menggunakan analog dan review lebih sering. Parameter disesuaikan dengan karakteristik setiap toko.

3. Continuous review: pemicu order

ROP = d × L + safety stock selama L

Jika posisi persediaan sudah mencapai atau di bawah ROP (titik stok yang memicu pemesanan ulang), buat order sesuai kebijakan lot/target. Pendekatan ini membutuhkan pembaruan posisi stok yang andal dan pemantauan berkelanjutan.

4. Periodic review: order pada jadwal tetap

S = d × (L + R) + safety stock selama L + RQ = max(0, S − inventory position)

Untuk toko dengan jadwal kirim tetap, review tiap R hari dan pesan sampai target S. Proteksi mencakup lead time serta interval review. Buffer untuk L + R perlu dikalibrasi tersendiri, bukan otomatis memakai buffer ROP.

Inventory position (IP (posisi persediaan untuk perhitungan pengisian)) = on-hand layak jual + open inbound (pasokan masuk) terkonfirmasi − committed demand yang belum dipenuhi. Jangan mengurangi reservasi dua kali apabila saldo sumber sudah net of reservation. Inbound terlambat/di luar horizon proteksi dicatat terpisah dan memicu eskalasi; ETA (perkiraan waktu tiba) serta jumlahnya harus dapat dipercaya.

Menetapkan safety stock: pada uji coba, gunakan buffer hari yang disepakati berdasarkan fluktuasi demand dan ketidakpastian pengiriman. Ini parameter sementara. Setelah data cukup, kalibrasi dengan variasi demand/lead time dan tingkat layanan yang disepakati, lalu uji terhadap kejadian nyata. Target probabilitas tidak stockout tidak sama dengan persentase unit order yang terpenuhi.

Simulasi periodic review

Kebutuhan pengisian per SKU–toko

Angka ilustratif, bukan data Sensatia. Inbound diasumsikan terkonfirmasi, layak dialokasikan, dan tiba dalam horizon proteksi. Kapasitas, expiry, serta jadwal kedatangan perlu diperiksa sebelum order.

Target stock52unit · S
Inventory position16unit · IP
Usulan order36unit · sesuai pack size
Cakupan on-hand2,5hari

S = 4 × (3 + 7) + 12 = 52 · IP = 10 + 6 − 0 = 16 · Q = 36 unit

Contoh perhitungan dan pertimbangan lapangan

Contoh ilustratif · satu SKU di satu toko

Demand 4 unit/hari; lead time 3 hari; review tiap 7 hari; buffer sementara 12 unit untuk horizon 10 hari. On-hand layak jual 10 unit; inbound terkonfirmasi 6 unit tiba dalam horizon; committed demand 0.

S = 4 × (3 + 7) + 12 = 52 unit
IP = 10 + 6 − 0 = 16 unit
Q = 52 − 16 = 36 unit

Dengan pack size 6, usulan pengisian adalah 36 unit, setelah kapasitas toko dan expiry dicek. Namun on-hand hanya mencukupi 2,5 hari, sedangkan lead time 3 hari: tim tetap perlu mempercepat inbound atau mengatur pasokan sementara. Jumlah order yang benar belum tentu memulihkan kekosongan tepat waktu.

Angka ini bukan data Sensatia atau rekomendasi final. Jika kapasitas/umur simpan membatasi Q, naikkan frekuensi kirim atau tinjau assortment melalui persetujuan Retail; catat selisih (selisih antara kebutuhan dan kondisi aktual) kebutuhan yang belum terpenuhi.

Kontrol tambahan: lakukan pembulatan pack size dengan mengecek kapasitas; terapkan FEFO dan batas remaining shelf life; kebutuhan display menjadi batas minimum yang disepakati, bukan tambahan otomatis yang menggandakan demand. Review parameter bulanan serta sebelum promosi, perubahan jadwal kirim, dan lonjakan penjualan.

Pengaman CPKB (pedoman pengendalian pembuatan kosmetik) pada pengisian ulang: on-hand untuk perhitungan stok layak alokasi hanya mencakup produk yang diluluskan dan sesuai kondisi simpan. Quarantine, reject, expired, damaged, recall, dan retur yang belum diluluskan tidak menjadi available. Inbound terkonfirmasi yang masih menunggu release dilaporkan sebagai rencana pasokan bersyarat dengan ETA mutu, bukan dianggap siap memenuhi shortage. Percepatan pengiriman tidak menghapus persyaratan pelulusan.

Dasar konsep: Oracle — Inventory Optimization Calculations untuk safety stock dan reorder point; SAP — Running Replenishment (pengisian ulang stok) Planning untuk replenishment per lokasi serta kendala ruang dan umur simpan. Rancangan uji coba dan contoh di atas merupakan usulan penerapan untuk diskusi.

Bab 5 · Kontrol & Risiko / Pengendalian mutu warehouse

5.1 Persyaratan CPKB dan bukti pelaksanaan

Ketersediaan produk harus berasal dari persediaan yang telah diluluskan, disimpan sesuai persyaratan, dan dapat ditelusuri. Pemulihan stockout (kekosongan stok) tetap mengikuti pengendalian mutu.

Acuan utama adalah CPKB (pedoman pengendalian pembuatan kosmetik) 2020.pdf, PerBPOM Nomor 31 Tahun 2020, terutama Bab III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, dan XIII. Peraturan ini mengubah PerBPOM Nomor 25 Tahun 2019 dan tercatat berlaku pada JDIH (portal dokumen dan informasi peraturan) BPOM (otoritas pengawasan obat dan makanan Indonesia) saat penelusuran 14 Oktober 2026.

Nomor halaman di bawah adalah urutan halaman PDF (1–263), bukan nomor cetak di dalam dokumen. Matriks ini memetakan persyaratan ke rancangan kerja; status pemenuhan aktual ditentukan setelah pemeriksaan lapangan dan pemeriksaan bukti bersama fungsi mutu.

Cakupan penerapan: persyaratan CPKB dipetakan langsung ke Warehouse dalam kegiatan industri kosmetika. Untuk DC dan toko, kendali kondisi simpan, status produk, dan traceability (ketertelusuran barang) diteruskan melalui SOP serta kesepakatan serah terima dengan Logistics/Retail; cakupan fasilitas dan sertifikasinya dikonfirmasi dengan QA/Regulatory. Dokumen ini tidak menyatakan seluruh toko atau DC wajib memiliki sertifikat CPKB.

Matriks persyaratan, tindakan awal, dan bukti pemenuhan

Personel, kewenangan, dan pelatihan1.2.1; 3.1.3–3.1.4; 3.2. PDF hlm. 8, 12–14.

Penerapan / PIC

Manager menyusun uraian tugas/PIC (penanggung jawab pekerjaan) bersama HR (fungsi pengelolaan SDM) untuk pengesahan sesuai delegasi Deputi COO (wakil pimpinan operasional)/COO. Supervisor menilai kecukupan tim/kompetensi; QA (pemastian mutu) melatih status mutu, hygiene, FIFO (barang masuk lebih awal dikeluarkan lebih dahulu)/FEFO (barang yang lebih cepat kedaluwarsa dikeluarkan lebih dahulu) dan traceability. Personel bahan berbahaya mendapat pelatihan khusus.

Bukti

Bagan/uraian tugas berlaku; matriks kompetensi; catatan materi, peserta, instruktur, tanggal, serta evaluasi efektivitas. Kewenangan pelulusan/penolakan ditetapkan fungsi Pengawasan Mutu.

Kapasitas, zonasi, dan status persediaan4.12; 11.1.1; 11.1.4. PDF hlm. 19–20, 60–63.

Penerapan / PIC

Supervisor dan PIC area memetakan kapasitas serta pemisahan karantina, diluluskan, ditolak, retur, dan recall. Sediakan ruang/lemari sampel pertinggal produk jadi dalam koordinasi QA/QC (pengawasan mutu).

Bukti

Layout, label status, daftar akses, dan uji bahwa barang belum diluluskan tidak dapat di-pengeluaran/dikirim. CPKB mengenal pemisahan fisik atau sistem; bila mengandalkan sistem, keandalan blokir dan dokumentasinya harus diperiksa.

Kondisi simpan dan alat ukur4.12.2; 5.3; 9.2; 11.1.2. PDF hlm. 20, 22, 56–57, 61–62.

Penerapan / PIC

QA menetapkan kondisi sesuai spesifikasi/label/CoA (sertifikat hasil analisis bahan atau produk); Supervisor dan Stock Keeper memantau suhu/kelembapan sesuai SOP (prosedur kerja baku), lokasi sensor, dan kebutuhan bahan/produk. Maintenance memastikan alat ukur dirawat dan dikalibrasi.

Bukti

Daftar persyaratan per SKU (kode unik jenis atau varian barang), log pemantauan, daftar alat serta status kalibrasi, catatan penyimpangan dan penilaian dampak mutu. Batas suhu maupun kelembapan tidak ditetapkan seragam tanpa dasar spesifikasi.

Sanitasi, higiene, dan pengendalian hamaBab VI; 6.1.3–6.1.6; 6.2.4; 11.1.2. PDF hlm. 22–26, 62.

Penerapan / PIC

Supervisor menetapkan jadwal, metode, dan petugas pembersihan; Stock Keeper memeriksa kebersihan/hama. Larang makan, minum, dan merokok di Warehouse; pisahkan bahan sanitasi dan pestisida dari bahan/produk.

Bukti

SOP dan log pembersihan, pemeriksaan hama/tindak lanjut, tempat penyimpanan bahan sanitasi, pelatihan higiene, serta pakaian kerja sesuai tugas. Penanganan personel sakit/luka mengikuti QA dan HR dengan menjaga kerahasiaan data kesehatan.

Receiving (penerimaan barang) dan karantina bahan awal7.1.2; 11.1.3; 11.2.1. PDF hlm. 28–30, 63–65.

Penerapan / PIC

Receiving memeriksa pemasok, surat pesanan/pengiriman, CoA bahan baku, jumlah, label, dan kondisi kemasan. Admin memberi identitas intern serta mencatat penerimaan; QC menangani sampling/keputusan mutu.

Bukti

Checklist, dokumen/CoA sesuai batch, receiving register, label karantina, bukti release/reject, serta area bongkar muat terlindung cuaca. Sampling oleh personel terlatih dengan delegasi yang jelas.

Bahan berbahaya dan area sampling4.12.1; 11.1.5–11.1.6. PDF hlm. 20, 63–64.

Penerapan / PIC

RM (bahan baku) Koordinator dan Supervisor memetakan bahan mudah terbakar/eksplosif serta kebutuhan ruang khusus dan pengamanan. QA/QC menetapkan pengambilan sampel yang mencegah kontaminasi; petugas warehouse tidak membuka wadah tanpa kewenangan/prosedur.

Bukti

Daftar bahan dan persyaratan penyimpanan, area terpisah, penampung kebocoran/pengamanan sesuai risiko, pembatasan akses bila diperlukan, serta prosedur dan catatan sampling.

Label dan bahan kemas cetak4.12.3; 7.7; 11.1.2.2. PDF hlm. 20, 35–37, 62.

Penerapan / PIC

Packaging Koordinator memisahkan identitas/versi label, menjaga kemasan dari debu, serta merekonsiliasi sisa berkode batch. Sisa tersebut menunggu keputusan Pengawasan Mutu sebelum digunakan kembali.

Bukti

Master spesifikasi/artwork disetujui, identitas lokasi, catatan pengeluaran/retur bahan dan sisa berkode, status karantina, serta keputusan disposition. Anak Lampiran VII.14 adalah contoh SOP untuk disesuaikan.

Pelulusan produk jadi sebelum distribusi3.1.3; 7.8; 11.1.2.4. PDF hlm. 12–13, 37, 63.

Penerapan / PIC

FG (produk jadi) PIC menerima produk dengan status yang jelas. Admin mencatat karantina bila belum release; pengeluaran ke distribusi hanya memakai bukti pelulusan Pengawasan Mutu. Manager tidak mengambil alih keputusan mutu karena shortage.

Bukti

Catatan penyerahan FG, tanda tangan/stempel atau bukti release sistem, status stok, dan pemeriksaan sebelum dispatch. Anak Lampiran VII.18 menjadi contoh penyusunan SOP FG.

FIFO/FEFO, integritas wadah, dan expiry7.1.2.4; 11.2.2.2–11.2.2.4. PDF hlm. 30, 65.

Penerapan / PIC

PIC area dan Stock Keeper memilih batch sesuai urutan expiry/penerimaan dan status. Barang expired, rusak, atau tidak digunakan ditandai dan dikeluarkan dari stok layak pakai/jual; penggantian wadah/label asli perlu persetujuan Pengawasan Mutu.

Bukti

Pick/pengeluaran list per batch, expiry register, alasan serta otorisasi penyimpangan sesuai SOP, status non-saleable, dan bukti disposition. Penandaan internal tidak boleh menghilangkan identitas asli.

Pencatatan dan sistem elektronik9.1; 9.1.1–9.1.5; 11.2.2.1. PDF hlm. 54–55, 65–66.

Penerapan / PIC

Admin dan Inventory Control menjaga riwayat penerimaan/pengeluaran per batch. QA mengendalikan SOP serta retensi; Systems menyiapkan validasi, keamanan akses, backup (petugas pengganti), dan kebijakan operasional dokumentasi elektronik.

Bukti

Dokumen berlaku/disahkan; koreksi menyisakan informasi asli, tanggal, dan identitas pengubah; catatan dapat ditelusuri. CPKB menyebut catatan pembuatan minimal 1 tahun setelah expiry; retensi tiap jenis catatan warehouse ditetapkan dalam kebijakan yang menjaga riwayat batch tersebut.

Retur, penolakan, dan pemusnahan7.1.3; 8.3; 11.1.1. PDF hlm. 30–31, 53–54, 60–61.

Penerapan / PIC

FG/Receiving mengidentifikasi dan memisahkan retur; Admin mencatat asal, alasan, batch, dan jumlah. Pengawasan Mutu menentukan evaluasi serta disposition; Warehouse mengeksekusi retur ke pemasok/pemusnahan berdasarkan keputusan dan SOP yang disetujui.

Bukti

Retur/reject register, status hold, evaluasi mutu, keputusan tertulis, rekonsiliasi saldo, serta berita acara bila dimusnahkan. Retur tidak otomatis dicampur dengan stok diluluskan meskipun kemasan tampak baik.

Distribusi, recall, dan audit internalBab X; 13.2.1–13.2.6; Anak Lampiran XI.3. PDF hlm. 59–60, 71–72, 248.

Penerapan / PIC

Admin/FG/Logistics menjaga batch–jumlah–tujuan; Inventory Control merekonsiliasi. Penanggung Jawab Teknis mengoordinasikan recall; Warehouse mengamankan barang. QA/manajemen menetapkan audit dan tindak lanjut dengan pemeriksa independen dari area yang dinilai.

Bukti

Catatan distribusi, kontak tujuan, laporan mock recall beserta rekonsiliasi, area recall aman, serta laporan audit dan tindakan korektif. Bab X menetapkan audit seluruh aspek minimal setahun sekali; review uji coba dan cycle count (penghitungan stok berkala) mendukung, tetapi tidak menggantikannya.

Prioritas hari 1–7

  • Pemeriksaan lapangan bersama QA: zonasi/status, kebersihan, hama, kondisi simpan, dan perlindungan receiving/dispatch.
  • Uji sampel transaksi: barang belum release tidak bisa dialokasikan; expired/retur/recall tidak menjadi available.
  • Inventarisasi alat ukur, bukti kalibrasi, SOP berlaku, kompetensi petugas, serta catatan per batch.
  • Amankan barang yang identitas/statusnya tidak jelas atau kondisi simpannya menyimpang; keputusan mutu oleh fungsi berwenang.

Output hari 14–30

  • Selisih (selisih antara kebutuhan dan kondisi aktual) register berisi klausul, temuan aktual, dampak, tindakan sementara, PIC, tenggat, dan bukti verifikasi.
  • SOP awal receiving–storage–pengeluaran/transfer, pemantauan lingkungan, sanitasi/hama, retur, dokumentasi, dan dukungan recall.
  • Pelatihan per fungsi dengan evaluasi praktik; daftar PIC/petugas pengganti dan otorisasi yang disahkan.
  • Uji penelusuran satu batch: penerimaan/produksi → saldo → transfer → DC (pusat penyimpanan dan pemenuhan produk jadi)/toko; rekonsiliasi jumlah bersama QA dan Logistics.
Penanganan penyimpangan: petugas menghentikan penggunaan/pengiriman barang terdampak, memberi status hold, dan melapor kepada Supervisor serta QA/QC. Catat lokasi, batch, jumlah, waktu/durasi, kondisi aktual, dan tindakan sementara. Pengawasan Mutu menilai dampak serta menentukan release/reject; Manager memastikan tindakan perbaikan dan bukti penutupannya.

Suhu dan kelembapan: butir 11.1.2 memberi contoh kategori suhu ruang maksimal 30°C, ruang terkendali maksimal 25°C, dan dingin 2–8°C. Pemilihan kategori serta batas kelembapan mengikuti kebutuhan/spesifikasi bahan dan produk. Frekuensi pencatatan, titik pemantauan, alarm, dan respons penyimpangan dijabarkan dalam SOP; kategori penyimpanan ditetapkan sesuai kebutuhan masing-masing bahan atau produk.

Indikator pengendalian mutu yang ditambahkan: kelengkapan bukti release sebelum dispatch, kelengkapan catatan batch–tujuan, pelaksanaan pemantauan lingkungan dan sanitasi sesuai SOP, kepatuhan status kalibrasi, efektivitas pelatihan, serta penutupan penyimpangan dengan bukti. Tujuannya adalah seluruh pengiriman memiliki otorisasi mutu yang sah dan tidak ada barang hold/non-saleable yang dikirim sebagai produk tersedia.

Anak lampiran yang diberi label “Contoh” digunakan sebagai bahan penyusunan SOP/form perusahaan, bukan disalin sebagai ketentuan angka yang otomatis berlaku. Cycle count, target penurunan stockout, jadwal briefing, dan buffer persediaan merupakan rancangan kontrol operasional program ini, bukan angka wajib CPKB.

Bab 5 · Kontrol & Risiko / Nilai tambah yang saya bawa

5.2 Kontrol operasional utama

Pengalaman di internal audit dan pengembangan sistem dapat diterapkan untuk membangun kontrol yang praktis, proporsional, serta mendukung kecepatan operasi.

1

Pemisahan tugas

Penerimaan, pencatatan, penghitungan, persetujuan adjustment, dan pelepasan stok tidak dikendalikan satu orang.

Prioritas
2

Ketertiban status dan lokasi

Barang available, quarantine, rejected, blocked, damaged, dan expired dipisahkan secara fisik serta sistem.

Prioritas
3

Ketepatan pencatatan transaksi

Setiap pergerakan fisik terhubung ke bukti dan transaksi Stockwiz pada cut-off yang disepakati; pekerjaan yang belum selesai (pekerjaan yang belum selesai), pengecualian dan gangguan sistem tetap terlihat serta direkonsiliasi.

Core
4

Pengendalian koreksi stok

Selisih ditelusuri sebelum koreksi diajukan. Manager memeriksa rekomendasi; persetujuan akhir mengikuti delegasi yang terverifikasi. Referensi bukti, approver, posting dan hasil rekonsiliasi disimpan dalam audit trail.

Prioritas
5

Ketertelusuran batch dan kedaluwarsa

Setiap penerimaan, penyimpanan, pengeluaran, produk jadi, dan pengiriman dapat ditelusuri sampai batch.

Core
6

Penghitungan berkala independen

Penghitungan didesain independen dan menghasilkan tindakan perbaikan, bukan sekadar koreksi angka.

Core
7

Keandalan kebutuhan dan parameter PPIC

PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan) mengolah stok produk jadi Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, DC JKT, serta stok toko dan e-commerce bersama riwayat penjualan. Forecast/order, transfer internal, reservasi dan produksi terbuka tidak dihitung ganda. BOM (daftar bahan dan jumlah untuk menghasilkan produk)/UOM (satuan barang, misalnya pcs atau kg), lead time, buffer serta kapasitas memiliki sumber, versi dan pemeriksa; kebutuhan bahan menggunakan saldo Warehouse yang terverifikasi.

Prioritas
8

Rencana dengan nomor versi yang jelas dan kesiapan lintas area

PPIC SPV (pengawas pelaksanaan kerja area) mengendalikan acuan rencana serta perubahan; Warehouse SPV memverifikasi kesiapan bahan released; Stock Control SPV memverifikasi stok FG (produk jadi) dan pemenuhan tiap lokasi. Simpan rencana awal, alasan revisi, dampak, keputusan dan pengakuan pelaksana. Shortage tetap terbuka sampai pemenuhan terbukti; pengajuan PPIC tidak menggantikan PO (pesanan pembelian resmi) Purchasing atau keputusan Quality.

Prioritas
PENERAPAN SOP INTERNAL

SOP dan bukti kerja pada setiap tahap

TahapDokumenPenerapan pada materi
Order dan kesiapan stokLO.002 rev 01; IK-LO.002-01 rev 01Cek SKU dan sumber stok; tandai STOK/STOK dari PO; Work Order Form tiga rangkap, PO Check List dan buku serah terima. Reservasi antarorder perlu dikendalikan.
Kebutuhan dan pengadaanLO.007 rev 05; LO.001 rev 01Alert minimum → verifikasi stok real/Stockwiz → FR-LO.007-01 → PO oleh Purchasing → supplier approved dan persetujuan direktur. Kebutuhan MRP bertanggal menjadi usulan tambahan yang perlu diatur dalam SOP.
Receiving dan pelulusan bahanLO.009 rev 08; LO.010 rev 07Periksa PO, DO, CoA dan halal sesuai persyaratan; FR-LO.009-01/02, LPB, batch, karantina dan keputusan QC. Input stok bahan yang diluluskan mengikuti SOP; penerimaan fisik belum berarti tersedia untuk produksi.
Penyimpanan dan penyerahanLO.010 rev 07; LO.011 rev 01Bahan baku FEFO, bahan kemas FIFO. Pemantauan suhu/RH tiga kali sehari pada jam kerja. Issue sesuai AIO, rekonsiliasi tambahan pemakaian, kemasan rusak serta retur.
Produk jadi dan distribusiLO.012 rev 05; LO.013 rev 07; LO.014 rev 05; LO.006 rev 02Di Jasri terima FG di karantina, tunggu QC PASSED. Transfer ke PG/Jakarta memakai produk lulus. Jaga lokasi asal/tujuan, barang dalam perjalanan dan bukti penerimaan.
Stock opname dan koreksiIK-LO.010-05 rev 03; IK-LO.007-01 rev 05; LO.021 rev 01Bahan awal setiap akhir bulan; FG setiap dua bulan tanggal 18–20. Cycle count menjadi tambahan. Koreksi menyimpan hasil hitung ulang, sebab selisih, keputusan sesuai kewenangan dan pembacaan ulang saldo.

Acuan internal: SOP/IK dalam folder 09 LO - Logistic Operation, di luar arsip Superseded dan Dari PR. Revisi tertinggi yang ditemukan perlu dicocokkan dengan daftar induk dokumen sebelum digunakan sebagai ketentuan berlaku.

Bab 5 · Kontrol & Risiko / Fokus manajemen risiko

5.3 Risiko dan prioritas pengendalian

Daftar awal untuk penyusunan control matrix serta prioritas perbaikan perencanaan produksi, bahan awal, DC (pusat penyimpanan dan pemenuhan produk jadi) produk jadi dan pengendalian persediaan.

RisikoDampakPrioritas awal
Pergerakan fisik tanpa transaksi sistemSaldo stok tidak andal dan berpotensi menyebabkan kesalahan alokasi.Tinggi
Stok quarantine bercampur dengan availableMaterial atau produk yang belum dirilis berpotensi digunakan atau dikirim.Tinggi
Adjustment tanpa investigasi memadaiAkar masalah tidak terselesaikan dan risiko penyimpangan meningkat.Tinggi
Batch atau expiry tidak akuratTraceability (ketertelusuran barang), FEFO, recall, dan kepatuhan dapat terganggu.Tinggi
Cycle count (penghitungan stok berkala) tidak independenKesalahan berulang hanya dikoreksi tanpa tindakan perbaikan.Sedang
Batas tanggung jawab DC belum jelasTransfer, pembagian tanggung jawab proses, dan rekonsiliasi antar-lokasi menjadi lemah.Sedang
Risiko PPIC: rencana tidak layak atau berubah tanpa kendali

Pemicu: demand ganda/tidak valid, BOM (daftar bahan dan jumlah untuk menghasilkan produk)/UOM (satuan barang, misalnya pcs atau kg) salah, kapasitas teoritis, ETA (perkiraan waktu tiba) tanpa konfirmasi atau revisi yang menimpa kondisi awal. Dampaknya berupa kekurangan bahan, produksi terlambat, perubahan prioritas berulang dan stok berlebih.

Pengendalian: validasi pemilik data, acuan rencana dengan nomor versi yang jelas, pengecekan kebutuhan bersih dan kapasitas efektif, register perubahan serta pengukuran terhadap rencana awal. Koordinator PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan) memeriksa; Manager memutuskan dalam mandat. Ketidaklayakan yang belum terselesaikan dibawa ke Ni Luh Somawati dengan fakta, dampak dan pilihan.

Risiko fungsi gabungan: verifikasi stok kehilangan independensi

Keinginan memenuhi rencana tidak boleh mengubah hitungan, status mutu atau menyetujui koreksi sendiri. Pisahkan penjagaan, posting, count/recount, verifikasi dan persetujuan. Kasus yang berdampak besar memerlukan verifikasi independen dari penjaga/pembuat transaksi, tinjauan Accounting/Finance serta persetujuan pejabat berwenang sebelum pembukuan atau pelepasan fisik.

Manager meninjau bukti dan mengajukan koreksi sesuai penyebab; bila kapasitas personel tidak memungkinkan pemisahan memadai, usulkan pemeriksa silang atau perubahan struktur berbukti melalui Ni Luh Somawati untuk persetujuan I Nengah Riadi.

Bab 5 · Kontrol & Risiko / Keputusan saat kondisi tidak ideal

5.4 Rencana menghadapi hambatan utama

Prioritas tetap keselamatan, mutu, keandalan data, kebutuhan pelanggan dan keterbukaan eskalasi. Tabel ini merupakan skenario antisipasi, bukan temuan bahwa hambatan tersebut sudah terjadi.

PRAKTIK KEPEMIMPINAN

Cara keputusan dijalankan

Bagaimana saya mengambil keputusan sebagai Manager

Saya memeriksa fakta, tenggat dan pilihan tindakan, lalu memutuskan sesuai delegasi. PPIC SPV menindaklanjuti rencana; Warehouse SPV menyiapkan bahan awal; Stock Control SPV menyiapkan produk jadi. Setiap tindakan memiliki penanggung jawab, pemeriksa dan tenggat. Keputusan di luar kewenangan diajukan kepada pimpinan Operations.

Tiga skenario berikut merupakan ilustrasi cara kerja dalam penugasan Manager, bukan klaim kejadian atau keberhasilan yang sudah saya capai. Skenario bahan kemas menggunakan pelajaran dari audit tanpa mengasumsikan penyebab kekosongan toko telah terbukti.

01 · Receiving (penerimaan barang) menumpuk saat bahan produksi harus diserahkanKeputusan rutin: prioritas, kapasitas tim dan serah terima

Fakta yang saya minta: jadwal kebutuhan produksi yang dikonfirmasi PPIC, status mutu dan jumlah bahan siap pengeluaran, antrean receiving beserta kondisi barang, ruang aman, personel kompeten serta waktu pemeriksaan/posting.

Pilihan, keputusan dan pelaksanaan pada benturan pekerjaan
PertimbanganKeputusan sayaArahan SPV dan bukti selesai
Menyelesaikan seluruh receiving lebih dahulu berisiko menunda pengeluaran produksi. Memindahkan semua petugas ke pengeluaran dapat meninggalkan barang datang tanpa pengamanan atau verifikasi.Prioritaskan bahan berstatus layak yang dibutuhkan pada batas waktu terdekat; pertahankan petugas untuk pengamanan dan verifikasi penerimaan. Tunda pekerjaan nonkritis hanya bila kondisi barang dan kapasitas aman memungkinkan.SPV membagi petugas yang kompeten, menetapkan urutan pengeluaran/receiving, pemeriksa dan waktu serah terima; PIC area mengonfirmasi jumlah serta status, Production mengakui penerimaan dan Admin melengkapi posting.
Kapasitas aman mungkin tetap tidak cukup setelah pekerjaan diatur ulang.Minta PPIC/Procurement menyelaraskan urutan kebutuhan atau slot kedatangan. Ajukan personel tambahan/lembur hanya bila perlu, dengan beban kerja, biaya dan risiko; pelaksanaan mengikuti persetujuan yang berlaku.SPV melapor sebelum tenggat berisiko terlewati. Jika pilihan memerlukan biaya atau pilihan beserta dampaknya lintas fungsi di luar mandat, saya eskalasi melalui Deputi COO (wakil pimpinan operasional). Sisa pekerjaan yang belum selesai (pekerjaan yang belum selesai) tetap memiliki PIC, umur dan rencana penyelesaian.

Yang saya nilai: ketepatan penyerahan ke produksi, kesalahan receiving/pengeluaran, umur pekerjaan yang belum selesai dan keselamatan. Kecepatan kerja diterima bila verifikasi, status mutu dan bukti transaksi tetap terpenuhi.

02 · Bahan kemas menipis ketika toko membutuhkan produkKeputusan lintas fungsi: ubah peringatan stok menjadi rencana pemenuhan

Fakta yang saya minta: stok fisik dan usable bahan kemas, UOM (satuan barang, misalnya pcs atau kg) serta hubungan bahan–produk, kebutuhan produksi tervalidasi, stok produk jadi di setiap lokasi, reservasi, status mutu, inbound (pasokan masuk) dan ETA (perkiraan waktu tiba) terkonfirmasi. Angka sisa bahan belum cukup untuk menyimpulkan kapan produk akan habis.

Pilihan tindakan: gunakan produk jadi yang tersedia sesuai alokasi dan jadwal Logistics. Jika harus diproduksi, PPIC menghitung kekurangan bahan dan menguji jadwal bersama Production; Purchasing mengonfirmasi pasokan. Saya menetapkan rencana dalam mandat, menugaskan pemantauan bahan, serta mengajukan konflik alokasi atau biaya percepatan kepada pejabat berwenang.

Arahan kepada SPV: satu register SKU (kode unik jenis atau varian barang) prioritas memuat jumlah kebutuhan, stok yang siap digunakan, sumber pemenuhan, ETA, PIC fungsi terkait, tenggat respons dan tindakan berikutnya. Laporkan segera bila tanggal pasokan melewati tanggal kebutuhan; pertahankan kebutuhan yang belum terpenuhi dalam daftar terbuka.

Bukti selesai: barang diterima dan statusnya sesuai, pengeluaran/produk jadi serta posting terverifikasi, serah terima warehouse diakui penerima. Pemulihan sampai rak dikonfirmasi Retail. PPIC meninjau parameter minimum, reorder point (titik pemesanan ulang) dan buffer berdasarkan data aktual; reminder yang dikirim belum dianggap penyelesaian.

03 · Saldo sistem tersedia, fisik kurang atau status barang diragukanKeputusan berbasis bukti: amankan barang dan selesaikan penyebab selisih

Fakta yang saya minta: scope (ruang lingkup) SKU/lokasi/batch/status, hasil count dan recount petugas berbeda, snapshot pada waktu acuan pencatatan (batas waktu pencatatan) yang sama, log movement, dokumen transfer/pengeluaran, serta keputusan Quality bila status mutu dipersoalkan.

Pilihan tindakan: gunakan produk jadi yang tersedia sesuai alokasi dan jadwal Logistics. Jika harus diproduksi, PPIC menghitung kekurangan bahan dan menguji jadwal bersama Production; Purchasing mengonfirmasi pasokan. Saya menetapkan rencana dalam mandat, menugaskan pemantauan bahan, serta mengajukan konflik alokasi atau biaya percepatan kepada pejabat berwenang.

Arahan kepada SPV: atur pemeriksaan tanpa menghilangkan jejak pergerakan. Inventory Control merekonsiliasi, Admin memposting berdasarkan bukti dan persetujuan sah, serta PIC area menjaga fisik. Saya koordinasikan alternatif pemenuhan dengan PPIC/Commercial/Logistics dan eskalasi segera untuk kehilangan, selisih stok yang berdampak besar atau keputusan di luar otoritas.

Bukti selesai: hasil fisik, dokumen dan saldo sumber cocok; hasil koreksi diverifikasi Inventory Control. Bila diperlukan CAPA (tindakan korektif dan pencegahan masalah berulang), SPV menyerahkan bukti tindakan dan pemeriksa terpisah memverifikasi efektivitas sebelum penutupan sesuai kewenangan. Status kasus dan risiko pemenuhan tetap dilaporkan sampai syarat masing-masing terpenuhi.

Catatan keputusan yang saya wajibkan: waktu dan scope keputusan, fakta/bukti, pilihan yang dipertimbangkan, alasan pemilihan, referensi kewenangan, pihak yang dikonsultasikan, PIC/pemeriksa, tenggat, titik review, hasil serta risiko tersisa. Ukur hasilnya melalui scorecard (ringkasan ukuran kinerja) Manager; keputusan ditinjau ulang bila fakta atau tingkat risiko berubah.

PETA PENJELASAN

Dari selisih stok sampai penyebab tertangani

Peta pengambilan keputusan: verifikasi dahulu, koreksi sesuai bukti, lalu periksa hasilnya.

Nomor adalah urutan langkah dalam bagan. Pilih langkah untuk membuka rincian.

  1. Tentukan SKU, lokasi, batch, status dan waktu acuan pencatatan yang terdampak. Amankan barang atau batasi komitmen yang diragukan; keputusan status mutu tetap pada Quality.

    Pelaksana
    Koordinator area dan penjaga stok mengidentifikasi SKU/batch/lokasi; Admin mengamankan catatan pada waktu acuan pencatatan.
    Pengawas / keputusan
    Warehouse SPV untuk bahan awal; Stock Control SPV untuk produk jadi di Stockroom Jasri, DC PG/DC JKT dan area Bulk sesuai cakupan yang disahkan.
    Bukti kerja
    Daftar objek selisih, waktu acuan pencatatan, status, lokasi dan tindakan pengamanan.
    Jika ada masalah
    Risiko mutu ke Quality; dugaan kehilangan atau selisih stok yang berdampak besar ke Manager dan fungsi pemeriksa.
  2. Lakukan hitung dan hitung ulang oleh petugas berbeda. Cocokkan dokumen serta pergerakan pada waktu pembanding yang sama, termasuk transaksi yang belum diposting.

    Pelaksana
    Petugas hitung dan penghitung ulang yang berbeda memeriksa barang; Admin menyediakan catatan transaksi.
    Pengawas / keputusan
    Petugas verifikasi yang ditunjuk memeriksa hasil; SPV area memastikan pembatasan pergerakan tercatat.
    Bukti kerja
    Lembar hitung/hitung ulang, nama petugas, waktu, pergerakan selama hitung dan dokumen pembanding.
    Jika ada masalah
    Jika verifikasi independen belum tersedia, Manager menetapkan pemeriksa; penjaga stok tidak memverifikasi sendiri hasilnya.
  3. Jika jumlah fisik cocok dengan catatan dan buktinya lengkap, tutup pekerjaan penghitungan tanpa membuat penyesuaian stok yang tidak diperlukan. Jika selisih masih ada, telusuri penyebabnya. Kesalahan data diperbaiki berdasarkan dokumen asal dan persetujuan yang berlaku; jangan langsung menyimpulkannya sebagai kehilangan barang.

    Pelaksana
    Petugas rekonsiliasi membandingkan hasil hitung dengan saldo serta transaksi tertunda.
    Pengawas / keputusan
    Pemeriksa yang ditetapkan menilai kecukupan bukti sebelum perintah hitung ditutup.
    Bukti kerja
    Kesimpulan cocok/selisih, perbedaan waktu dan status transaksi yang perlu diselesaikan.
    Jika ada masalah
    Selisih yang belum terjelaskan tetap terbuka; tidak otomatis dibukukan sebagai adjustment.
  4. Periksa dokumen penerimaan, pengeluaran, transfer, satuan dan waktu pencatatan. Jika transaksi asal belum dicatat, tindak lanjuti pencatatan transaksi tersebut berdasarkan bukti dan kewenangan yang berlaku. Penyesuaian stok umum tidak digunakan untuk menyembunyikan penyebab selisih.

    Pelaksana
    Koordinator area, Admin dan petugas rekonsiliasi menelusuri penerimaan, pengeluaran, transfer, konversi satuan dan waktu acuan pencatatan.
    Pengawas / keputusan
    SPV area memimpin penelusuran; Accounting/Finance memeriksa dampak pencatatan sesuai mandat.
    Bukti kerja
    Kronologi, dokumen asal, transaksi pengirim–penerima dan rekomendasi koreksi yang spesifik.
    Jika ada masalah
    Masalah master atau integrasi ke pemilik data/IT; indikasi penyimpangan ke Manager dan fungsi berwenang.
  5. Kasus yang berdampak besar memerlukan verifikasi independen dari penjaga stok dan pembuat transaksi, tinjauan Accounting/Finance serta persetujuan pejabat berwenang sebelum pembukuan atau pelepasan fisik. Manager dapat memulai investigasi dan mengusulkan penyesuaian/penghapusan; tidak menyetujui sendiri kasus yang berdampak besar. Admin memposting berdasarkan bukti serta otorisasi sah. Simpan bukti hitung, penyebab, persetujuan dan audit trail; ambang mengikuti ketetapan perusahaan.

    Pelaksana
    Manager mengusulkan tindak lanjut; pemeriksa independen memverifikasi; Admin membukukan koreksi yang telah diotorisasi.
    Pengawas / keputusan
    Accounting/Finance meninjau dampak; pejabat berwenang menyetujui sesuai delegasi dan ambang yang ditetapkan.
    Bukti kerja
    Bukti hitung, akar penyebab, persetujuan, referensi transaksi dan audit trail koreksi.
    Jika ada masalah
    Kasus yang berdampak besar tidak disetujui sendiri oleh pengelola stok; status mutu tetap menjadi keputusan Quality.
  6. Baca ulang transaksi/saldo Stockwiz dan verifikasi secara bisnis terhadap dokumen serta fisik. Untuk transfer, cek lokasi asal dan tujuan. Hasil yang belum pasti tetap menjadi pekerjaan terbuka.

    Pelaksana
    Admin membaca ulang transaksi; Koordinator area memastikan kecocokan fisik; kedua DC mengonfirmasi transfer.
    Pengawas / keputusan
    Pemeriksa terpisah dari pembuat koreksi memvalidasi hasil sesuai penugasan.
    Bukti kerja
    Saldo setelah koreksi, referensi dua sisi transfer dan hasil verifikasi dokumen/fisik.
    Jika ada masalah
    Koreksi gagal, saldo berbeda atau transfer belum diterima tetap terbuka ke SPV area dan Manager.
  7. Temuan sederhana ditutup dengan koreksi dan verifikasi yang disetujui. Temuan berulang, sistemik atau berisiko tinggi mengikuti CAPA: implementasi, uji efektivitas independen, lalu penutupan sesuai mandat.

    Pelaksana
    Pemilik tindakan memperbaiki proses; PPIC memperbarui parameter yang terkait; SPV area membina pelaksana.
    Pengawas / keputusan
    Pemeriksa independen menguji efektivitas; penutupan mengikuti mandat kasus.
    Bukti kerja
    Rencana CAPA, PIC/tenggat, bukti implementasi, sampel uji ulang dan keputusan penutupan.
    Jika ada masalah
    Temuan berulang atau tindakan tidak efektif dibuka kembali dan dieskalasikan kepada Manager serta fungsi terkait.
Penanganan selisih · Langkah 1 dari 7

Amankan temuan

Tentukan SKU, lokasi, batch, status dan waktu acuan pencatatan yang terdampak. Amankan barang atau batasi komitmen yang diragukan; keputusan status mutu tetap pada Quality.

Pelaksana
Koordinator area dan penjaga stok mengidentifikasi SKU/batch/lokasi; Admin mengamankan catatan pada waktu acuan pencatatan.
Pengawas / keputusan
Warehouse SPV untuk bahan awal; Stock Control SPV untuk produk jadi di Stockroom Jasri, DC PG/DC JKT dan area Bulk sesuai cakupan yang disahkan.
Bukti kerja
Daftar objek selisih, waktu acuan pencatatan, status, lokasi dan tindakan pengamanan.
Jika ada masalah
Risiko mutu ke Quality; dugaan kehilangan atau selisih stok yang berdampak besar ke Manager dan fungsi pemeriksa.

Cabang langkah 03: sesuai → selesai hitung; selisih → investigasi. Langkah 07 memerlukan CAPA bila kriteria risikonya terpenuhi; koreksi saldo saja belum membuktikan perbaikan proses.

Antisipasi hambatan lainnya

Kondisi pemicu, tindakan sementara, dan jalur keputusan
Kondisi pemicuKeputusan dan cara kerja sementaraPenanggung jawab, eskalasi, dan kriteria penyelesaian
Saldo/snapshot Stockwiz diragukan atau terlambatBatasi scope keputusan yang terkena dampak; gunakan snapshot valid terakhir bertanggal dan verifikasi fisik terarah. Nomori log transaksi sementara; pencatatan sementara wajib direkonsiliasi dengan sumber resmi.Inventory Control, Admin dan Systems, dikoordinasikan SPV. Setelah pulih, rekonsiliasi semua movement dan referensi untuk mencegah posting ganda; Manager memutuskan risiko residual dalam mandat.
Personel kurang / petugas kunci absenSPV memprioritaskan pekerjaan kritis, memakai backup (petugas pengganti) yang kompeten dan menjadwalkan ulang pekerjaan berisiko rendah. Pemeriksa silang tetap tersedia; beban tambahan/lembur tidak diasumsikan otomatis disetujui.Manager mengajukan kebutuhan kapasitas kepada Deputi COO bersama data volume/waktu; HR (fungsi pengelolaan SDM) mendukung penempatan/pelatihan. Review setelah pekerjaan yang belum selesai terkendali dan backup terbukti mampu.
Integrasi/aplikasi baru belum tersediaJalankan Stockwiz yang ada ditambah register tugas, count, masalah yang perlu ditangani dan CAPA terkontrol. Tetapkan nomor referensi, hak akses, versi dan lokasi bukti; prioritaskan disiplin serah terima sebelum otomasi.SPV/Inventory Control menjaga proses; Systems memvalidasi rencana integrasi. Migrasi hanya setelah mapping, uji akses, rekonsiliasi dan acceptance test disetujui penanggung jawab proses dan QA (pemastian mutu).
Konflik target / tindakan tidak berjalan atau berulangSPV menunjukkan fakta, dampak dan pilihan. Manager menyepakati pejabat pengambil keputusan; bedakan kekurangan proses, kompetensi dan perilaku. Kasus sistemik/berisiko masuk CAPA dan evaluasi efektivitas.Konflik lintas fungsi ke Deputi COO; perubahan mandat/biaya sesuai delegasi. HR mendukung pembinaan formal bila relevan. Ketidakefektifan membuka kembali tindakan dengan tenggat/bukti baru.

Paket eskalasi yang saya bawa: kondisi dan bukti, pelanggan/order/produksi terdampak, dampak waktu/nilai, pilihan beserta konsekuensinya, rekomendasi, penanggung jawab tindakan, serta batas waktu keputusan. Setiap keputusan dicatat dan ditinjau kembali; tidak menunggu rapat bila risiko membutuhkan tindakan segera.

Bab 6 · Rencana 90 Hari / Kepemimpinan dan pengembangan tim

6.1 Mengembangkan tiga SPV, koordinator dan staf

Hasil operasi dicapai melalui pembagian mandat, supervisi yang konsisten, pengembangan kompetensi, dan tindak lanjut yang adil.

Saya memimpin melalui tiga SPV: PPIC memeriksa rencana, Warehouse mengendalikan bahan awal, dan Stock Control mengendalikan produk jadi. Koordinator membagi serta memeriksa tugas staf. Tinjau hasil dengan bukti dan tindak lanjuti hambatan; risiko keselamatan, mutu atau integritas dilaporkan segera.

Tahapan waktu mengikuti rencana utama 90 hari. Bagian ini berfokus pada pembinaan PPIC SPV, Warehouse SPV dan Stock Control SPV, lalu pengembangan koordinator/staf pada jalurnya sesuai cakupan masing-masing, serta penyiapan petugas pengganti.

Gunakan bagan struktur lengkap untuk menjelaskan koordinasi tiga SPV, koordinator, staf dan pelaporan.

Memimpin melalui SPV: arah jelas, keputusan terukur, tim berkembang

Saya menetapkan hasil, prioritas dan batas keputusan; SPV mengatur pelaksanaan melalui koordinator. Saya menilai rencana, keputusan dan tindak lanjut berdasarkan bukti lapangan. Penugasan langsung saat mendesak dicatat dan diselaraskan kembali dengan SPV. Struktur dan delegasi mengikuti pengesahan perusahaan.

Pengarahan awal shift dan serah terima mengikuti jadwal koordinasi operasional. Sesi pembinaan berikut menilai cara SPV mengambil keputusan dan mengembangkan tim.

Pembinaan SPV dan pengembangan kompetensi
RitmePeran saya dan SPVBukti yang ditinjau
Mingguan · coaching (pembinaan) SPVUsulan sesi 30 menit: pilih satu keputusan atau kendala utama, bahas fakta dan pilihan, dengarkan pertimbangan SPV, sepakati perbaikan serta dukungan saya. Pada review berikutnya, periksa pelaksanaan dan pelajarannya.Catatan coaching: kejadian, analisis SPV, umpan balik spesifik, tindakan, dukungan, PIC, tenggat dan hasil review. Gunakan scorecard (ringkasan ukuran kinerja) untuk membaca tren dan memeriksa kualitas keputusan.
Bulanan · kompetensi dan kapasitasSaya meninjau perkembangan SPV/PIC, kecukupan personel dan backup. SPV membawa hasil demonstrasi kerja, kebutuhan latihan serta data beban kerja. HR (fungsi pengelolaan SDM) dan QA (pemastian mutu)/Systems mendukung sesuai bidangnya.Matriks tugas/kompetensi, hasil praktik yang diperiksa, akses yang disahkan, kecukupan pemeriksa terpisah serta rencana pengembangan. Personel tambahan atau biaya diajukan berdasarkan kebutuhan yang terbukti.
Contoh coaching: reminder stok kritis belum menghasilkan tindak lanjutIlustrasi pembinaan SPV berdasarkan pelajaran audit inventory

Situasi ilustratif: PIC sudah mengirim informasi bahan kemas menipis, tetapi register belum memuat respons PPIC/Purchasing, ETA (perkiraan waktu tiba) dan keputusan jika pasokan terlambat. SPV menyampaikan bahwa reminder telah dikirim.

Cara saya membina: minta SPV menunjukkan kebutuhan, stok yang siap digunakan (stok yang layak digunakan), bukti pengiriman informasi, respons dan tenggat. Bahas pertanyaan: kapan bahan dibutuhkan, siapa pejabat pengambil keputusan, pilihan apa yang tersedia, dan kapan perlu eskalasi? Beri umpan balik spesifik bahwa penyampaian informasi perlu diikuti pengendalian risiko sampai ada rencana pemenuhan yang terkonfirmasi.

Kesepakatan: SPV menetapkan PIC, melengkapi tanggal kebutuhan dan meminta konfirmasi rencana dari fungsi terkait dengan tenggat yang disepakati. Saya membantu menyelesaikan hambatan lintas fungsi atau keputusan di luar mandat. SPV memeriksa data dan melaporkan kebutuhan yang belum terpenuhi sebelum berdampak pada produksi.

Review: periksa register beserta respons dan bukti realisasi. Nilai kemampuan SPV mengenali risiko, menyusun pilihan, mendelegasikan, serta mengeskalasi tepat waktu; konfirmasi pemulihan fisik/transaksi sesuai alur. Contoh ini merupakan rencana praktik pembinaan, bukan klaim keberhasilan yang telah terjadi.

Pembinaan khusus Koordinator PPIC

Setiap minggu PPIC SPV membina Koordinator untuk menjelaskan satu perubahan jadwal atau shortage; saya meninjau hasil bersama PPIC SPV: data yang dipakai, asumsi yang belum pasti, pilihan yang dibandingkan, dampak terhadap order lain dan alasan rekomendasi. Staf PPIC dilatih menunjukkan ulang perhitungan kebutuhan dari sumbernya; hasil tidak dinilai hanya dari file laporan yang selesai.

Kompetensi diuji melalui ketepatan BOM (daftar bahan dan jumlah untuk menghasilkan produk)/UOM (satuan barang, misalnya pcs atau kg), kemampuan menyusun jadwal yang layak, membaca kapasitas, menindaklanjuti ETA dan mempertahankan riwayat kondisi awal. Saya meninjau hasil bersama realisasi Production dan konfirmasi SPV. Backup diuji pada tugas nyata dengan akses yang disahkan; bila kendala bersumber dari beban atau data, dukungan dan pemilik perbaikannya ditetapkan.

Menangani kebutuhan pengembangan kinerja dan menyiapkan backup

Pembinaan berdasarkan penyebab dan bukti
Penyebab yang perlu dibuktikanTindakan kepemimpinanKriteria review
Instruksi, proses atau serah terima belum jelasDengarkan penjelasan petugas dan periksa alur aktual. Perjelas hasil, SOP (prosedur kerja baku), akses, pemeriksa serta penerima; SPV meminta petugas menjelaskan kembali tugas dan mendampingi percobaan pelaksanaan.Petugas memahami mandat dan dapat menyelesaikan tugas dengan bukti yang benar. Hambatan proses memiliki penanggung jawab perbaikan dan tenggat.
Kompetensi atau kapasitas belum memadaiBerikan demonstrasi, latihan didampingi dan pemeriksaan praktik penerimaan, status mutu, FEFO (barang yang lebih cepat kedaluwarsa dikeluarkan lebih dahulu), satuan barang, serah terima, posting serta penghitungan stok. SPV meninjau beban kerja/kompleksitas serta backup yang kompeten; saya menyediakan dukungan atau mengajukan sumber daya sesuai delegasi.Kelulusan berdasarkan praktik sesuai SOP dan hasil pemeriksaan; backup diuji untuk tugas kritis dengan akses sah. Jumlah tugas tidak dinaikkan dengan mengorbankan keselamatan, mutu atau pemisahan tugas.
Masalah berulang setelah dukungan dan ekspektasi jelasTinjau kembali bukti serta kesempatan klarifikasi. Sepakati perbaikan individu, dukungan, tenggat dan review. Bila perlu pembinaan formal, libatkan HR sesuai prosedur perusahaan dan jaga kerahasiaan catatan personel.Tindakan dan hasil terdokumentasi secara terbatas; nilai konsistensi kerja dan faktor di luar kendali petugas. Hargai pelaporan dini, perbaikan yang bertahan serta kontribusi tim secara spesifik.

Pengalaman sebagai Pharmacy Manager/APJ dan mentor menjadi dasar supervisi serta pembinaan. Penerapannya di warehouse akan dinilai melalui pelaksanaan shift, hasil pembinaan, kesiapan petugas pengganti dan tren operasi pada hari 30, 60 dan 90.

Transisi peran saya: dalam penugasan sebagai Manager, saya akan bertanggung jawab atas operasi dan hasil tim sesuai mandat yang disahkan. Pengalaman audit digunakan untuk memperkuat keputusan serta kontrol; audit independen atas area yang saya kelola tetap dilakukan pemeriksa yang ditunjuk terpisah. Saya tidak menjadi satu-satunya pihak yang menilai efektivitas pekerjaan sendiri.

Laporan kepada Deputi COO (wakil pimpinan operasional): hasil layanan/stok, perkembangan SPV/PIC, risiko dan CAPA (tindakan korektif dan pencegahan masalah berulang), kapasitas serta keputusan yang dibutuhkan. HR dilibatkan pada uraian tugas, pelatihan, penempatan dan pembinaan; eskalasi strategis/sumber daya ke COO mengikuti kewenangan.

Bab 6 · Rencana 90 Hari / Eksekusi hari 1–14

6.2 Langkah 14 hari pertama

Mulai dengan tim kecil lintas fungsi dan data yang tersedia. Gunakan register terkontrol terlebih dahulu apabila dashboard sistem belum tersedia.

  1. Hari 1–2 · Sepakati mandat dan tetapkan tim kerja

    Hari 1–2: sepakati mandat Manager bersama Deputi COO, COO dan HR. Tetapkan jalur pelaporan, cakupan lokasi, tim, akses serta delegasi. Bahas usulan tiga SPV beserta koordinator dan staf. Pisahkan kewenangan investigasi dari persetujuan koreksi stok.

    Output: kesepakatan mandat kerja, daftar PIC, batas kewenangan, dan jadwal rapat singkat harian.

  2. Hari 1–3 · Identifikasi produk dan toko paling terdampak

    Gunakan data penjualan harian 8–12 minggu sebagai titik awal, disertai riwayat stok kosong, daftar produk aktif per toko, stok per lokasi/status, pesanan terbuka, dan promosi. Riwayat yang lebih panjang digunakan untuk menilai pola musiman. Cakupan awal yang diusulkan adalah 3–5 toko dan 20–30 SKU (kode unik jenis atau varian barang), dipilih berdasarkan frekuensi kekosongan, kontribusi penjualan, serta perbedaan jarak dan waktu pemenuhan.

    Output: daftar prioritas SKU–toko dan kondisi awal yang menggunakan periode, jam pemeriksaan, serta definisi stockout (kekosongan stok) yang konsisten.

  3. Hari 3–7 · Verifikasi fisik dan telusuri kasus sampai sumbernya

    Kunjungi Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG/DC JKT (pusat penyimpanan dan pemenuhan produk jadi), dan toko uji coba. Hitung SKU prioritas, cek batch/expiry/status, cocokkan dengan sistem, dan telusuri sedikitnya 10 kejadian stockout terbaru menggunakan waktu order, pengambilan barang (pengambilan barang sesuai pesanan), dispatch, penerimaan, serta refill rak. Ukur lead time (waktu tunggu pemenuhan) aktual sampai produk layak jual tersedia di toko.

    Output: daftar selisih stok, peta proses aktual, Pareto penyebab, dan tiket tindakan dengan PIC serta tenggat.

  4. Hari 3–10 · Pulihkan ketersediaan produk yang kritis

    Isi rak dari Warehouse toko; prioritaskan transfer dari stok available; tuntaskan transaksi dan penerimaan tertunda. Pertimbangkan redistribusi antartoko melalui persetujuan Retail. Jika seluruh jaringan kekurangan, arahkan tim PPIC menyusun recovery plan yang saya review bersama Production, Procurement dan Quality, dengan ETA (perkiraan waktu tiba) yang realistis dan lakukan alokasi berdasarkan kebutuhan serta kebijakan kanal yang disepakati.

    Output: shortage register harian berisi kebutuhan, sumber pemenuhan, kuantitas, ETA, penyebab, penanggung jawab tindakan, dan bukti penyelesaian.

  5. Hari 7–14 · Tetapkan aturan uji coba dan mulai evaluasi

    Susun parameter per SKU–toko: demand harian, lead time, interval review, buffer, target stock, ukuran kemasan, dan kapasitas. Simulasikan dengan data historis, jalankan pada uji coba, lalu tinjau setiap minggu bersama Retail dan Planning.

    Output: master parameter berversi, SOP (prosedur kerja baku) replenishment (pengisian ulang stok) uji coba, kondisi awal KPI (indikator kinerja utama), dan laporan minggu kedua kepada Deputi COO untuk review serta eskalasi kepada COO bila diperlukan.

Kebutuhan data awal

  • Penjualan POS (sistem transaksi penjualan toko) per tanggal, SKU, dan toko; retur, promosi, hari buka, serta kejadian stok kosong.
  • Saldo fisik/sistem Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG, DC JKT, toko dan e-commerce; rincian Warehouse toko dan rak dicocokkan dengan total stok toko; reserved, quarantine, damaged, tester, batch, dan expiry.
  • Order/transfer beserta requested quantity, fulfilled quantity, ETA, actual penerimaan, dan pekerjaan yang belum selesai (pekerjaan yang belum selesai).
  • Master SKU, BOM (daftar bahan dan jumlah untuk menghasilkan produk)/formula dan versi kemasan yang disahkan, yield standar, unit konversi, pack size, MOQ (jumlah minimum pemesanan), lead time, kapasitas, maintenance dan kalender produksi/kirim.

Disiplin operasi selama pemulihan

  • Daily review 15 menit untuk SKU kritis: jumlah kurang, penanggung jawab tindakan, sumber barang, dan ETA.
  • Setiap pengiriman memakai referensi transfer yang sama di pengirim dan penerima; stok in-transit tidak dianggap stok fisik toko.
  • Kasus yang berisiko kosong sebelum penerimaan berikutnya dieskalasikan pada hari yang sama ke penanggung jawab proses.
  • Kasus ditutup setelah barang siap dijual dan penyebab ditindaklanjuti; koreksi saldo saja belum cukup.
PENERAPAN SOP INTERNAL

Keluaran validasi dokumen pada 14 hari pertama

  • Cocokkan revisi SOP dengan daftar induk, garis pelaporan dengan JD, dan pembuat/pemeriksa transaksi dengan hak akses.
  • Rekonsiliasi kuantitas input AIO dengan uraian PO. Verifikasi label berat 10 g/120 g pada CST-0040 serta tulisan Body Wash pada bagian kemasan STRO-CO50 dan STRO-SH50 bersama pemilik master.
  • Tetapkan versi bahan olahan: Jasmine memiliki sheet NEW/Sheet1/Sheet2 dengan bahan pembawa berbeda. Arnica memiliki waktu tunggu tiga minggu; Ginseng satu minggu, kemudian penyaringan dan QC.
  • Kumpulkan demand bertanggal, stok per batch/status/lokasi, sisa PO/ETA, MOQ, kalender serta waktu standar. Hitung kebutuhan personel dan ruang setelah data lengkap.

Hari 15–30: jalankan pilot satu keluarga produk dengan kebutuhan mingguan dan shortage bertanggal. Hari 31–60: ukur waktu kerja dan kapasitas. Hari 61–90: evaluasi pilot, selaraskan SOP/materi dan perluas secara bertahap.

Bab 6 · Rencana 90 Hari / Rencana kontribusi 90 hari

6.3 Tahapan program 30–60–90 hari

Keberhasilan dinilai dari keandalan rencana produksi, kesiapan bahan, akurasi stok, produktivitas dan ketersediaan di toko. Perluasan dilakukan setelah hasil uji coba serta dampak persediaannya ditinjau.

1–30 hari

Validasi dan pemulihan

  • Bahas mandat gabungan dan usulan PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan) SPV (pengawas pelaksanaan kerja area), Warehouse SPV serta Stock Control SPV; verifikasi kapasitas tim, akses data dan SLA (kesepakatan standar layanan dan waktu penyelesaian) awal.
  • Validasi kebutuhan, BOM (daftar bahan dan jumlah untuk menghasilkan produk)/versi formula-kemasan, UOM (satuan barang, misalnya pcs atau kg), lead time, kapasitas dan jadwal produksi terbuka; terbitkan acuan rencana dengan nomor versi yang jelas.
  • Lakukan langkah hari 1–14 serta pemulihan SKU (kode unik jenis atau varian barang) kritis.
  • Verifikasi stok Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG/DC JKT (pusat penyimpanan dan pemenuhan produk jadi), dan toko uji coba.
  • Pemeriksaan lapangan CPKB (pedoman pengendalian pembuatan kosmetik) bersama QA (pemastian mutu): status, kondisi simpan, sanitasi, alat ukur, dan dokumentasi.
  • Tentukan kondisi awal, Pareto penyebab, dan parameter SKU–toko.
  • Output hari 30: acuan rencana produksi/material berversi, review kapasitas, kondisi awal seluruh tim, diagnosis, master parameter, recovery register, selisih (selisih antara kebutuhan dan kondisi aktual) register CPKB, SOP (prosedur kerja baku) awal, dan bukti pelatihan.
31–60 hari

Jalankan dan perbaiki uji coba

  • Jalankan review kebutuhan, material dan kapasitas mingguan; kendalikan perubahan jadwal dengan dampak dan persetujuan yang tercatat.
  • Ukur kepatuhan rencana dan kesiapan material; pisahkan kegagalan asumsi perencanaan dari kegagalan pelaksanaan.
  • Jalankan review/order terjadwal dan dashboard pengecualian.
  • Perbaiki tiga penyebab dominan berdasarkan bukti.
  • Terapkan cycle count (penghitungan stok berkala), SLA transfer, dan disiplin refill.
  • Verifikasi tindakan CPKB dan lakukan mock recall bersama QA/Penanggung Jawab Teknis serta Logistics.
  • Review stockout (kekosongan stok), fill rate, days of cover, dan aging mingguan.
  • Output hari 60: tren kepatuhan rencana/kesiapan bahan, register perubahan beserta dampak, evaluasi uji coba, parameter yang dikalibrasi, bukti tindakan korektif, dan hasil uji traceability (ketertelusuran barang)/recall.
61–90 hari

Evaluasi dan perluas bertahap

  • Bandingkan kepatuhan rencana, kesiapan bahan, akurasi stok, aging dan modal kerja terhadap kondisi awal yang disahkan.
  • Ajukan kebutuhan tambahan SPV/Manager atau pemisahan peran berdasarkan volume, kemampuan, biaya dan independensi kontrol melalui Ni Luh Somawati untuk persetujuan I Nengah Riadi.
  • Bandingkan hasil dengan kondisi awal dan toko pembanding bila tersedia.
  • Validasi bahwa perbaikan tidak memindahkan shortage atau menumpuk stok.
  • Sahkan SOP, penanggung jawab KPI (indikator kinerja utama), dan pelatihan toko/DC berikutnya.
  • Tinjau efektivitas tindakan CPKB dengan QA dan pemeriksa independen; masukkan warehouse ke program audit CPKB perusahaan.
  • Perluas sesuai kesiapan pasokan, data, dan kapasitas tim.
  • Output hari 90: evaluasi KPI PPIC dan warehouse, aging/modal kerja terverifikasi, usulan kapasitas/struktur berbukti, laporan manfaat, status tindakan CPKB, risiko tersisa, dan roadmap kuartal berikutnya.
Usulan gerbang perluasan: data uji coba andal, tindakan utama berjalan, stockout menunjukkan penurunan yang konsisten, dan stok/aging berada dalam batas yang disepakati. Jika syarat belum terpenuhi, lanjutkan perbaikan uji coba dengan penanggung jawab dan tenggat baru.
Bab 7 · Evaluasi Hasil / Ukuran keberhasilan

7.1 Hasil kinerja utama dan evaluasi

Indikator berikut menjelaskan cara mengukur kinerja. Kondisi awal, target numerik, sumber data, frekuensi dan penanggung jawab disepakati paling lambat pada review hari 30 setelah data awal, kapasitas pasokan dan kesiapan tim diverifikasi.

UKURAN KEBERHASILAN

Dasar pengukuran hasil kerja

Scorecard (ringkasan ukuran kinerja) tanggung jawab langsung Manager

Gunakan tujuh indikator utama di bawah untuk mengevaluasi Manager; indikator pendukung membantu pelaksanaan. Setiap evaluasi memuat kondisi awal → target → realisasi → selisih → tindakan, penanggung jawab dan tenggat → bukti. Nilai awal dan target diisi setelah data terverifikasi serta disepakati bersama pimpinan dan Finance sesuai kewenangan.

Usulan tujuh hasil kinerja utama
Ukuran dan cara menghitungSumber data dan PICReview dan tindak lanjut Manager
01 · Akurasi catatan stok

Baris SKU (kode unik jenis atau varian barang)–lokasi–batch–status sesuai hasil fisik ÷ seluruh baris yang dihitung × 100%. Basis waktu, UOM (satuan barang, misalnya pcs atau kg) dan toleransi disahkan sebelum count. Sertakan stok fisik yang tidak tercatat; laporkan besar selisih unit per SKU dan nilai tervalidasi Accounting secara terpisah.

Count sheet, recount independen, snapshot Stockwiz pada waktu acuan pencatatan (batas waktu pencatatan) yang sama dan log movement. Inventory Control mengompilasi; SPV (pengawas pelaksanaan kerja area) mengoordinasikan count dan pemeriksa terpisah memverifikasi.Review mingguan; risiko selisih signifikan ditangani segera. Tinjau cakupan count agar hasil sampel tidak dianggap mewakili seluruh Warehouse. Akurasi dinilai dari hasil sebelum koreksi, dengan status penyelesaian dicatat terpisah.
02 · Kepatuhan rencana produksi

Pesanan produksi terjadwal yang selesai sesuai kuantitas dan waktu ÷ seluruh pesanan produksi yang jatuh tempo pada periode × 100%. Acuan diterbitkan sebelum periode; revisi dan pesanan parsial tetap ditampilkan.

Rencana dengan nomor versi yang jelas, realisasi Production, waktu selesai dan status mutu yang relevan. Koordinator PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan) mengompilasi bersama Production.Review harian deviasi dan mingguan tren. Pisahkan kesalahan asumsi/jadwal, shortage, gangguan produksi dan keterlambatan mutu; perubahan kondisi awal tidak boleh menaikkan capaian secara semu.
03 · Ketersediaan material saat mulai produksi

Jadwal mulai produksi dengan seluruh material yang diperlukan tersedia dan released pada waktu kebutuhan ÷ seluruh jadwal mulai yang jatuh tempo × 100%. Definisi kelengkapan dan waktu acuan pencatatan dikunci per periode.

BOM (daftar bahan dan jumlah untuk menghasilkan produk)/kebutuhan disahkan, jadwal awal, stok/batch/status, kesiapan bahan dan bukti pengeluaran. PPIC serta SPV; Quality memvalidasi release.Review sebelum jadwal mulai dan mingguan. Catat shortage, ETA (perkiraan waktu tiba) usable, durasi keterlambatan, produk terdampak dan pemilik tindakan. Inbound belum release tidak dihitung siap.
04 · Produktivitas Warehouse

Produktivitas = volume penerimaan, penempatan atau pengambilan yang selesai dan lolos pemeriksaan ÷ jam kerja pada aktivitas yang sama; pantau juga akurasi pengambilan serta ketepatan waktu serah terima; rework dan lembur ditampilkan.

Log pekerjaan, volume selesai dan lolos pemeriksaan, jam kerja, rework serta lembur. SPV bersama koordinator area memverifikasi data dan kesetaraan aktivitas.Review mingguan tren produktivitas untuk jenis dan kompleksitas pekerjaan sebanding. Kenaikan output diterima bila mutu, akurasi dan keselamatan terjaga; utilisasi lokasi dipantau terpisah pada indikator P5.
05 · Umur dan risiko persediaan

Kuantitas serta nilai per kelompok umur/sisa masa simpan yang disepakati, termasuk slow moving, berlebih, obsolete dan berisiko expiry; tampilkan tindakan yang selesai dan yang terbuka.

Stok per SKU/lokasi/batch/status dan tanggal, histori movement, rencana kebutuhan. Inventory Control/PPIC; Accounting memvalidasi nilai, Quality menetapkan disposition.Review bulanan dan peringatan dini sesuai risiko. Manager menetapkan usulan pengurangan/realokasi sesuai mandat; penghapusan material perlu pemeriksaan dan persetujuan independen.
06 · Penyelesaian selisih stok

Waktu investigasi dan penyelesaian dihitung sejak selisih ditemukan hingga bukti penyelesaian diverifikasi. Rasio penyelesaian = kasus jatuh tempo yang selesai dengan bukti terverifikasi ÷ seluruh kasus jatuh tempo × 100%. Tampilkan juga seluruh kasus terbuka menurut umur sejak ditemukan, tingkat risiko dan pengulangan; bila tidak ada kasus jatuh tempo, rasio dilaporkan N/A.

Register selisih, investigasi, referensi approval, posting/read-back (pembacaan ulang data sumber) dan rekonsiliasi bisnis. Inventory Control mengelola register; SPV menjalankan tindakan proses; pemeriksa terpisah menilai efektivitas CAPA (tindakan korektif dan pencegahan masalah berulang) bila diperlukan.Review mingguan dan eskalasi segera untuk risiko yang berdampak besar. Penutupan membutuhkan koreksi yang sesuai penyebab serta bukti pemeriksaan; adjustment saldo saja tidak membuktikan akar masalah selesai. Target waktu mengikuti tingkat risiko dan delegasi.
07 · Efisiensi modal kerja

Gunakan hari persediaan atau perputaran berdasarkan nilai yang divalidasi Finance. Contoh DIO (rata-rata hari dana tertahan dalam persediaan) = rata-rata nilai persediaan ÷ HPP (biaya pokok barang yang terjual dalam perhitungan ini) periode × jumlah hari; basis penilaian, periode dan kategori harus sebanding.

Rata-rata nilai stok dan HPP dari Accounting/Finance, coverage SKU dan status excess dari PPIC. Jangan menjumlah kg/liter/pcs menjadi satu angka persediaan.Review bulanan bersama Finance. Nilai pengurangan excess dengan kesiapan bahan, stockout dan aging; penurunan stok tidak dinilai berhasil bila mengganggu layanan atau kontrol. Penyebut nol = N/A.

Indikator pendukung pelaksanaan

Ukuran berikut mendukung disiplin proses dan kesiapan tim untuk mencapai hasil utama.

Ukuran pendukung proses dan kesiapan tim
Ukuran dan cara menghitungSumber data dan PICReview dan tindak lanjut Manager
P1 · Keutuhan dan ketertelusuran barang

Baris sampel yang lengkap identitas batch, lokasi, status, kondisi dan dokumen movement ÷ seluruh baris sampel × 100%. Kehilangan tak terjelaskan, kerusakan dan pelepasan barang hold dicatat sebagai masalah yang perlu ditangani tersendiri meskipun persentase sampel tinggi.

Log penerimaan/perpindahan/pengeluaran, keputusan mutu, pemeriksaan kondisi simpan dan akses, serta bukti serah terima. PIC area dan Inventory Control; QA (pemastian mutu)/QC (pengawasan mutu) memverifikasi aspek mutu.Pemantauan harian masalah yang perlu ditangani dan review sampel mingguan. Amankan barang berisiko, tetapkan PIC investigasi dan eskalasi segera untuk kehilangan, kondisi simpan tidak aman atau pelanggaran status mutu.
P2 · Ketepatan pengambilan barang (pengambilan barang sesuai pesanan) dan penyerahan

Baris penyerahan dengan SKU, batch, status, jumlah dan tujuan benar pada pemeriksaan pertama ÷ seluruh baris yang diperiksa × 100%. Ukur juga penyerahan lengkap yang diakui penerima tepat waktu ÷ seluruh penyerahan jatuh tempo × 100%.

Pengambilan dan pemeriksaan barang sheet, permintaan awal, waktu janji yang disepakati sebelum jatuh tempo serta pengakuan penerima Logistics/Production. PIC FG (produk jadi)/RM (bahan baku)/Packaging berkoordinasi dengan SPV.Review harian pekerjaan yang belum selesai (pekerjaan yang belum selesai) dan mingguan tren kesalahan. Pisahkan keterlambatan kesiapan warehouse dari transportasi atau perubahan kebutuhan. Penyerahan parsial tetap terlihat; tanggal janji awal tidak ditimpa.
P3 · Ketepatan waktu transaksi

Transaksi fisik yang diposting dengan bukti lengkap dalam SLA (kesepakatan standar layanan dan waktu penyelesaian) yang disahkan ÷ seluruh transaksi fisik yang jatuh tempo posting × 100%. Laporkan jumlah dan umur pekerjaan yang belum selesai dari waktu kejadian fisik, termasuk movement yang belum masuk sistem.

Log receiving (penerimaan barang)/pengeluaran/transfer bernomor, bukti fisik dan timestamp Stockwiz. Admin menyusun antrean; PIC area mengonfirmasi kejadian fisik; Inventory Control merekonsiliasi kelengkapan.Review harian melalui laporan konsolidasi SPV. Prioritaskan pekerjaan yang belum selesai berisiko dan pembenahan serah terima. Gangguan sistem dicatat beserta kontrol sementara dan rekonsiliasinya.
P4 · Kesiapan SPV, PIC dan backup (petugas pengganti)

Tugas kritis dengan pelaksana dan backup yang telah lulus demonstrasi kompetensi ÷ seluruh tugas kritis yang dipetakan × 100%. Review kemampuan SPV menyusun rencana, memeriksa realisasi dan mengeskalasi hambatan dengan rekomendasi.

Matriks tugas/kompetensi, checklist praktik, catatan coaching (pembinaan) dan laporan shift. SPV memelihara bukti; Manager menilai perkembangan; HR (fungsi pengelolaan SDM) dan fungsi teknis mendukung penetapan kompetensi.Coaching mingguan dan evaluasi bulanan. Kehadiran pelatihan belum berarti kompeten. Tetapkan latihan lanjutan, pemeriksa dan tenggat untuk selisih; backup tetap mengikuti akses serta pemisahan tugas.
P5 · Utilisasi lokasi penyimpanan

Lokasi terpakai ÷ kapasitas lokasi aman yang ditetapkan × 100%, dipisahkan per zona dan jenis lokasi. Ukur terpisah dari produktivitas per jam kerja; kapasitas maksimum bukan target pengisian.

Peta bin/zona, kapasitas aman terverifikasi, inspeksi akses dan housekeeping. Koordinator area menyiapkan data; SPV meninjau bersama fungsi keselamatan dan Quality sesuai kebutuhan.Review mingguan ruang tersedia, kepadatan dan hambatan arus barang. Tetapkan rentang utilisasi setelah verifikasi kondisi awal; pertahankan akses kerja, pemisahan status dan ruang aman.
Aturan membaca hasil: tampilkan pembilang, penyebut, cakupan lokasi/SKU, periode, waktu pembaruan dan kelengkapan bukti bersama persentase. Penyebut nol ditulis N/A; data tidak lengkap ditandai belum dapat dinilai. Definisi, sampel, SLA dan target dikunci per periode; perubahan disetujui serta dicatat agar perbandingan tetap adil. Target produktivitas tidak mengurangi kontrol keselamatan, mutu atau integritas stok.

Scorecard digunakan pada review penugasan hari 30, 60 dan 90. Jadwal penilaian, peserta serta keputusan kelanjutan dijelaskan pada bagian HR.

Hasil layanan yang ditinjau bersama fungsi terkait

OSA (ketersediaan produk layak jual di rak), fill rate, OTIF (pesanan diterima tepat waktu dan lengkap), coverage dan dampak bisnis menunjukkan hasil rantai pasokan. Saya bertanggung jawab atas kontribusi PPIC dan warehouse; hasil akhir layanan ditinjau bersama Production, Logistics, Retail dan Keuangan. Penyebab kegagalan perencanaan dan pelaksanaan dilaporkan terpisah.

Ukuran layanan lintas fungsi dan pengaman persediaan
Indikator dan definisi Pengukuran / penanggung jawab Usulan evaluasi
On-shelf availability (OSA): observasi SKU–toko dengan barang layak jual di rak ÷ seluruh observasi assortment aktif yang wajib tersedia × 100%. Pemeriksaan rak pada jam tetap, dengan bukti; Retail. Sampel dan jam sama untuk perbandingan. Stockout (kekosongan stok) rate = 100% − OSA pada basis observasi yang sama. Usulan penurunan stockout relatif 20% dari kondisi awal uji coba pada hari 90. Contoh: 10% menjadi 8%, bukan turun 20 poin persentase. Validasi kelayakan setelah diagnosis.
DC (pusat penyimpanan dan pemenuhan produk jadi) unit fill rate: unit dipenuhi untuk order eligible ÷ unit diminta pada order eligible × 100%. Order cohort tetap, cut-off jelas, dan partial fulfillment dicatat; Logistics/DC. Order tidak diturunkan kuantitasnya untuk memperbaiki angka. Perbaikan terhadap kondisi awal disertai Pareto kekurangan; tingkat layanan final disahkan bersama kapasitas supply.
OTIF toko: order diterima tepat waktu dan lengkap ÷ order yang jatuh tempo pada periode × 100%. Sesuai waktu janji dan jumlah order awal; bukti penerimaan toko, bukan sekadar dispatch DC; Logistics. SLA per rute/toko ditetapkan setelah lead time (waktu tunggu pemenuhan) aktual diketahui; pantau order parsial dan terlambat.
Days of cover: on-hand layak jual ÷ demand harian; aging/expiry dipantau terpisah. Per SKU–lokasi; Planning dan Finance. Demand nol ditandai untuk review, bukan dipaksakan menjadi coverage normal. Tentukan batas coverage/nilai stok dan aging saat rapat awal program. Kenaikan stok harus dijelaskan oleh kebutuhan layanan, promosi, atau kebijakan yang disetujui.
Umur dan risiko persediaan: jumlah serta nilai stok menurut kelompok umur, sisa masa simpan dan status non-saleable; pisahkan stok lambat bergerak, rusak, ditahan dan kedaluwarsa.Inventory Control menyediakan data per SKU–lokasi–batch; Planning meninjau kebutuhan, Quality menetapkan status mutu dan Accounting memvalidasi nilai.Review bulanan serta peringatan dini sesuai SOP (prosedur kerja baku). Batas umur dan horizon peringatan disahkan berdasarkan karakter produk; tindak lanjut dicatat dengan PIC serta keputusan fungsi berwenang.
Penyelesaian akar masalah: tiket jatuh tempo yang ditutup dengan bukti perbaikan ÷ seluruh tiket jatuh tempo × 100%. Register tindakan dan pemeriksaan kejadian berulang; PPIC & Warehouse Manager bersama SPV terkait dan penanggung jawab proses. Tiga penyebab dominan memiliki tindakan terverifikasi pada hari 60; cek pengulangan hingga hari 90.

Estimasi penjualan yang berpotensi hilang menggunakan demand pembanding × durasi kosong × harga jual. Pisahkan asumsi substitusi dan perpindahan pembelian; angka tersebut bukan omzet yang otomatis pulih. Finance memvalidasi manfaat terhadap tambahan modal kerja serta biaya distribusi.

Bab 7 · Evaluasi Hasil / Business case untuk validasi Finance

7.2 Manfaat, biaya dan modal kerja

Perhitungan berikut adalah kerangka evaluasi program, bukan klaim penghematan atau permintaan anggaran yang sudah disetujui.

Jenis manfaat dan dasar evaluasi
KomponenDasar pengukuranPerlakuan evaluasi
Penjualan yang pulihTambahan unit terjual bersih yang dapat diatribusikan ke perbaikan layanan × margin kontribusi per unit yang divalidasi Finance.Bukan seluruh estimasi lost sales otomatis pulih. Koreksi promosi, musim, substitusi, retur dan perpindahan antar-kanal agar tambahan tidak dihitung ganda.
Biaya darurat dan expiryBiaya pengiriman darurat serta kerugian expiry/write-off sebelum–sesudah pada periode dan cakupan sebanding.Hanya biaya yang benar-benar dihindari; kenaikan biaya tetap terlihat. Finance memeriksa pengakuan, hubungan sebab dan tumpang tindih manfaat antar-SKU (kode unik jenis atau varian barang)/kasus.
Waktu administrasiVolume dokumen × waktu per proses; ukur jam kerja sebelum–sesudah dengan beban setara.Jam yang tersedia kembali adalah kapasitas tim. Tidak langsung dianggap penghematan kas/gaji tanpa pengurangan biaya nyata yang disetujui.
Modal kerjaPerubahan nilai rata-rata persediaan yang sebanding serta kebutuhan buffer/stock build-up yang disetujui.Penurunan stok dapat melepaskan dana, tetapi bukan laba. Kenaikan stok memerlukan pendanaan dan dapat menambah biaya simpan/expiry.
Biaya programPelatihan, tenaga tambahan/lembur, alat, integrasi, operasi sistem dan distribusi tambahan yang relevan.Pisahkan biaya satu kali dan bulanan; biaya implementasi yang dikapitalisasi/diamortisasi mengikuti Finance. Masukkan biaya modal/simpan yang disepakati sebelum keputusan investasi.
Lembar asumsi bulanan

Estimasi manfaat bersih uji coba

Seluruh input sengaja kosong. Isi dengan data aktual atau asumsi terdokumentasi dan tinjau bersama Finance; angka tidak tersimpan setelah halaman dimuat ulang. Model agregat memakai satu margin kontribusi rata-rata tertimbang untuk unit tambahan yang dihitung.

Kontribusi penjualan/bulanBelum diisi
Pengurangan biaya/bulanBelum diisi
Manfaat bersih model/bulanBelum diisi
Payback sederhanaBelum diisi
Kapasitas jam/bulanBelum diisi
Perubahan modal kerja*Belum diisi

Manfaat bersih = kontribusi penjualan tambahan + pengurangan biaya − biaya program bulanan.

Menunggu data dan validasi Finance.

*Positif = tambahan kebutuhan dana persediaan; negatif = potensi pelepasan dana. Tidak dimasukkan sebagai laba atau manfaat bulanan. Payback sederhana memakai biaya awal program dibagi manfaat bersih model; bukan proyeksi arus kas lengkap dan tidak memasukkan modal kerja. Pajak, depresiasi, nilai waktu uang, seasonality dan risiko perlu penilaian tersendiri bila relevan.

Cara validasi: Inventory Control menyediakan kondisi awal stok/selisih, Retail/Sales memeriksa tambahan penjualan, Logistics memeriksa biaya kirim, SPV (pengawas pelaksanaan kerja area) mengukur beban kerja, dan Finance memvalidasi margin/biaya/modal kerja. Manager membawa skenario konservatif, dasar dan optimistis dengan asumsi yang dicatat kepada Deputi COO (wakil pimpinan operasional); keputusan lebih lanjut mengikuti kewenangan COO.

Bab 8 · Kesiapan & Keputusan / Kesiapan memimpin

8.1 Pengalaman dan kompetensi pendukung

Pengalaman supervisi operasional, pengendalian persediaan, audit lintas fungsi, pembinaan, dan pengembangan sistem menjadi dasar kontribusi yang saya tawarkan. Penerapannya akan disesuaikan dengan skala, proses, dan kebutuhan warehouse perusahaan.

Keterkaitan pengalaman dengan tanggung jawab PPIC & Warehouse Manager
PengalamanRelevansi terhadap jabatanFokus penerapan
Pharmacy Manager / Apoteker Penanggung Jawab, Kimia Farma Lengkong: operasional harian, supervisi tenaga teknis, SOP (prosedur kerja baku), pengadaan/persediaan, serta validasi penjualan dan stok opname.Memimpin operasi, membagi pekerjaan, mengelola layanan dan persediaan, serta meninjau realisasi.Menyusun prioritas, membagi tanggung jawab, dan mengevaluasi hasil tim. Penerapan pada warehouse industri didukung pendalaman proses, kapasitas, dan risiko spesifik bersama tim.
Compliance Auditor PT Sensatia Botanicals: audit factory, head office, retail, dan pemasok; stock opname (penghitungan fisik persediaan) serta penelaahan pergerakan stok, kekosongan, waktu pemesanan dan parameter persediaan; evaluasi BPOM (otoritas pengawasan obat dan makanan Indonesia)/CPKB (pedoman pengendalian pembuatan kosmetik) serta koordinasi tindak lanjut.Memahami proses lintas fungsi, mutu, risiko, dan penyelesaian temuan bersama penanggung jawab proses.Menggunakan bukti untuk menentukan prioritas perbaikan dan memantau efektivitas tindakan. Audit independen atas area yang dikelola tetap dilakukan oleh pemeriksa terpisah.
Pengembangan aplikasi web audit, inspeksi retail, dokumentasi, dan pengendalian stok opname; Compliance Workspace.Menerjemahkan kebutuhan administrasi dan data menjadi alur yang tertelusur serta mendukung tindak lanjut.Menyusun kebutuhan sistem bersama pelaksana dan Systems, menguji alur, serta mengevaluasi manfaat berdasarkan data penggunaan dan hasil operasional.
Supermentor UKAI dan peer mentor: penyusunan modul, pendampingan, evaluasi kebutuhan belajar, serta umpan balik perkembangan.Mengembangkan kompetensi melalui penjelasan terstruktur, praktik, dan evaluasi pemahaman.Mendukung pembinaan SPV (pengawas pelaksanaan kerja area)/PIC (penanggung jawab pekerjaan) dan pelatihan staf melalui demonstrasi tugas, umpan balik, serta evaluasi kompetensi sesuai SOP perusahaan.
Ideas Box: Runner-Up Agustus dan Winner September 2026; inisiatif Monthly Product Focus & SA Incentive serta RxStock.Menghubungkan masalah operasional, persediaan, dan peluang perbaikan dengan usulan solusi.Mengembangkan usulan berbasis kebutuhan bisnis dan mengukur manfaat setelah implementasi. Pengakuan atas ide dan hasil operasional dilaporkan sebagai capaian yang terpisah.
BUKTI LAPANGAN

Dasar pengalaman dan pelajaran audit

Bukti kesiapan: membaca risiko stok dari toko sampai bahan kemas

Dalam audit toko dan warehouse, saya secara konsisten melakukan stock opname dan menelaah keterkaitan saldo fisik, riwayat pergerakan, waktu pemesanan, kekosongan produk, stok minimum dan buffer. Dua kasus berikut menjadi dasar pendekatan saya untuk menghubungkan kebutuhan toko dengan kesiapan produk jadi, produksi dan bahan pendukungnya.

PETA PENJELASAN

Bagaimana pengalaman audit menjadi rencana perbaikan

Dua titik pengamatan dipakai untuk merancang pemeriksaan dan tindak lanjut; keterkaitan penyebab perlu diuji.

Nomor adalah urutan langkah dalam bagan. Pilih langkah untuk membuka rincian.

  1. Kasus Mal Ratu Indah menunjukkan periode kekosongan produk; Warehouse A&B mencatat bahan kemas menipis. Keduanya adalah bukti risiko pada titik berbeda dalam rantai pasokan.

    Pelaksana
    Manager dan tim area mengumpulkan bukti kasus Retail, stok FG serta bahan kemas.
    Pengawas / keputusan
    Manager menilai prioritas berdasarkan bukti; pemilik data mengonfirmasi sumber.
    Bukti kerja
    Kronologi kekosongan, hasil audit, lokasi, SKU dan rentang waktu kasus.
    Jika ada masalah
    Keterkaitan sebab belum dinyatakan sebelum bahan, produk, jadwal dan kiriman cocok.
  2. Cocokkan identitas bahan–produk, satuan, kebutuhan produksi, tanggal PO, penerimaan dan pengiriman. Jangan menyimpulkan kekurangan bahan tertentu menyebabkan kekosongan toko sebelum hubungan ini terbukti.

    Pelaksana
    PPIC mencocokkan kebutuhan produksi; Warehouse menelusuri bahan; Stock Control menelusuri FG dan transfer; Retail menyediakan penjualan.
    Pengawas / keputusan
    PPIC SPV, Warehouse SPV dan Stock Control SPV memvalidasi bagian masing-masing.
    Bukti kerja
    Pemetaan bahan–produk, batch, UOM, order produksi, PO, penerimaan dan pengiriman.
    Jika ada masalah
    Data yang hilang dicatat sebagai pekerjaan terbuka dengan pemilik dan tenggat, lalu dibawa ke Manager jika menghambat kesimpulan.
  3. Warehouse memeriksa stok serta kesiapan bahan awal. Stock Control memeriksa produk jadi di Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat), DC PG dan DC JKT serta stok toko dan e-commerce yang terkait. PPIC dan Purchasing mengonfirmasi kebutuhan serta pasokan. Setiap kekurangan dicatat dengan tindakan, penanggung jawab, tanggal kebutuhan, perkiraan waktu pemenuhan dan batas pelaporan kepada pimpinan.

    Pelaksana
    Warehouse memvalidasi bahan; Stock Control memvalidasi produk jadi jaringan; PPIC/Purchasing menyusun tindakan pasokan.
    Pengawas / keputusan
    Manager menyepakati prioritas; SPV area mengawal tindakan; Quality menetapkan status mutu.
    Bukti kerja
    Daftar kekurangan, tindakan, penanggung jawab, tanggal kebutuhan, ETA dan batas eskalasi.
    Jika ada masalah
    Shortage bahan mengikuti Warehouse/PPIC/Purchasing; alokasi dan transfer FG mengikuti Stock Control bersama PPIC dan Retail.
  4. Periksa jejak penerimaan bahan, pengeluaran bahan, hasil produksi, penerimaan produk jadi, pengiriman dan pencatatan stok. Untuk kasus toko, Retail membuktikan pemulihan sampai penerimaan dan rak. Untuk pesanan e-commerce yang terkait, tim e-commerce memeriksa bukti pemenuhannya. Nilai hasil perbaikan dan pengulangan masalah memakai data pada periode yang sebanding; hubungan penyebab tetap harus dibuktikan.

    Pelaksana
    Koordinator area dan Admin membuktikan pergerakan; Logistics menyediakan bukti kirim; Retail mengonfirmasi terima dan refill.
    Pengawas / keputusan
    Stock Control SPV memvalidasi distribusi; PPIC SPV menilai pemulihan rencana; Manager meninjau manfaat.
    Bukti kerja
    Jejak transaksi hingga rak, saldo kebutuhan tersisa, tren pengulangan serta bukti hasil perbaikan.
    Jika ada masalah
    Pengiriman tanpa penerimaan belum dianggap pulih; kejadian berulang diteruskan ke investigasi/CAPA dengan pemeriksa yang ditetapkan.
Tindak lanjut audit · Langkah 1 dari 4

Amati dua titik

Kasus Mal Ratu Indah menunjukkan periode kekosongan produk; Warehouse A&B mencatat bahan kemas menipis. Keduanya adalah bukti risiko pada titik berbeda dalam rantai pasokan.

Pelaksana
Manager dan tim area mengumpulkan bukti kasus Retail, stok FG serta bahan kemas.
Pengawas / keputusan
Manager menilai prioritas berdasarkan bukti; pemilik data mengonfirmasi sumber.
Bukti kerja
Kronologi kekosongan, hasil audit, lokasi, SKU dan rentang waktu kasus.
Jika ada masalah
Keterkaitan sebab belum dinyatakan sebelum bahan, produk, jadwal dan kiriman cocok.

Ini adalah jembatan dari temuan ke rencana pelaksanaan, bukan klaim bahwa hubungan sebab-akibat atau penurunan stockout sudah terbukti.

Lihat arti istilah pada daftar A–Z →

Dua kasus audit sebagai dasar rencana perbaikan inventory
Kasus dan buktiAnalisis dan rekomendasi sayaRelevansi untuk peran Manager
Retail · Mal Ratu Indah

Materi audit mencatat Hydrating Body Wash Refill dan Calming Body Wash Refill habis sejak 22 Agustus; audit dilakukan 2 September dan produk tiba 4 September. Bukti mencakup kondisi display dan riwayat pergerakan stok.

Menyoroti perlunya evaluasi stok minimum berdasarkan lead time (waktu tunggu pemenuhan) serta pemantauan aktif ketersediaan, pergerakan dan kondisi stok. Merekomendasikan koordinasi Stock Control dengan Retail Operations untuk mengantisipasi kebutuhan toko.Menelusuri risiko layanan dari kondisi rak ke data stok dan waktu pasokan. Dalam penugasan gabungan, saya akan mengarahkan tim PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan) mengevaluasi parameter dan jadwal pemenuhan berdasarkan stok terverifikasi, kebutuhan toko, kemampuan produksi dan pasokan aktual.
Warehouse A&B · Kesiapan bahan kemas

Temuan mencatat bahan kemas Hydrating BW Refill tersisa 200 dan Calming BW Refill tersisa 4, dinilai di bawah stok minimum atau kebutuhan produksi dalam catatan audit. Kasus ditampilkan berstatus Closed.

Mengidentifikasi risiko kekurangan bahan kemas dan merekomendasikan pencatatan bahan yang habis atau menipis serta reminder kepada PPIC dan Purchasing. Akar penyebab ditetapkan setelah pemeriksaan kebutuhan, stok, pemesanan dan penerimaan bahan.Mendorong data stok kritis menjadi tindakan lintas fungsi sebelum mengganggu produksi. Sebagai Manager, saya akan mengarahkan SPV/PIC untuk memvalidasi stok yang siap digunakan (stok yang layak digunakan), satuan, kebutuhan dan tenggat, lalu menindaklanjuti respons tim PPIC dan Pengadaan.

Dua kasus menunjukkan perlunya pemantauan ketersediaan produk dan bahan kemas. Kuantitas harus disertai satuan, tanggal pengamatan dan kebutuhan pada periode yang sama. Status Closed perlu didukung verifikasi tindakan dan pemantauan pengulangan; dampak penjualan dinilai setelah data tersedia.

Pelajaran yang saya bawa: ketersediaan di toko membutuhkan informasi stok yang andal dan tindak lanjut di setiap titik pasokan. Dua kasus ini menunjukkan risiko di retail dan bahan kemas; hubungan sebab-akibat langsung antara keduanya masih memerlukan pencocokan tanggal, SKU, kebutuhan produksi, PO dan dokumen pengiriman.

Tindak lanjut dua kasus diterapkan melalui langkah 14 hari pertama dan rencana utama 90 hari: pilih SKU (kode unik jenis atau varian barang) prioritas, cocokkan stok serta kebutuhan, konfirmasi rencana pasokan, lalu verifikasi hasil sampai penerimaan toko. Contoh pengambilan keputusan tersedia pada skenario bahan kemas menipis.

Komitmen saya: mengubah temuan stok menjadi penugasan yang jelas, keputusan berbasis data, dan tindak lanjut yang diperiksa sampai hasil fisik serta pencatatannya sesuai. Pengalaman audit memberi dasar diagnosis; keberhasilan penugasan Manager saya buktikan melalui hasil operasi dan kemampuan tim menjalankan perbaikan secara konsisten.

Komitmen pengembangan saya: mendalami kapasitas warehouse industri, arus RM (bahan baku)/Packaging/FG (produk jadi)/B2B (penjualan kepada pelanggan bisnis), master/UOM (satuan barang, misalnya pcs atau kg) Stockwiz dan pengambilan keputusan supply bersama tim pada bulan pertama. Saya membawa pengalaman yang relevan sekaligus terbuka pada penilaian kompetensi dan pembinaan dari Deputi COO (wakil pimpinan operasional).

Bab 8 · Kesiapan & Keputusan / Pembahasan bersama HR, Deputi COO dan COO

8.2 Penugasan dan keputusan akhir

“Saya mengajukan kesempatan memimpin PPIC & Warehouse dengan mandat dan ukuran keberhasilan yang disepakati. Saya siap menunjukkan hasil operasi serta perkembangan tim melalui evaluasi berbasis bukti.”

Diskusi penutup diarahkan untuk menetapkan penugasan, dukungan dan mekanisme evaluasi pada tabel berikut. Rincian batas keputusan mengacu pada kewenangan dan koordinasi.

KEPUTUSAN YANG DIAJUKAN

Kesepakatan penugasan dan evaluasi

Usulan penugasan Manager dengan evaluasi 90 hari

Saya mengajukan kesempatan memimpin PPIC (perencanaan produksi dan pengendalian persediaan) & Warehouse melalui penugasan yang ditetapkan perusahaan, dengan mandat, dukungan serta ukuran keberhasilan tertulis. Evaluasi 90 hari digunakan untuk menilai hasil operasi dan kemampuan memimpin tim sejak tanggal efektif yang disepakati. Status jabatan, hak, kewajiban dan ketentuan penugasan ditetapkan bersama HR (fungsi pengelolaan SDM) serta pimpinan Operations sebelum pelaksanaan.

Kesepakatan penugasan yang diajukan untuk pengesahan
Hal yang disepakatiUsulan sayaHasil pengesahan yang diperlukan
Mandat kerja dan cakupan lokasiTetapkan cakupan lokasi dan tanggung jawab berdasarkan mandat peran serta struktur tim.Dokumen penugasan memuat tanggal efektif, area/lokasi, jalur pelaporan, tanggung jawab dan PIC (penanggung jawab pekerjaan). Hubungan dengan DC (pusat penyimpanan dan pemenuhan produk jadi), toko serta kanal lain dipetakan agar penilaian sesuai scope (ruang lingkup).
Delegasi keputusan dan eskalasiSahkan delegasi untuk menjalankan keputusan rutin dan jalur eskalasi sesuai matriks kewenangan.Referensi delegasi, batas keputusan/anggaran, approver akhir adjustment, jalur pengganti yang sah dan mekanisme eskalasi tercatat. Perencanaan berada dalam mandat Manager melalui tim PPIC; pembelian, transportasi, pelaksanaan manufaktur dan keputusan mutu tetap pada fungsi berwenang.
Tim, akses dan waktu pelaksanaanSPV (pengawas pelaksanaan kerja area) serta PIC/petugas pengganti (petugas pengganti) ditetapkan, waktu coaching (pembinaan) dan review tersedia, akses Stockwiz diberikan sesuai tugas, dan PIC lintas fungsi ditunjuk. Perbaikan awal menggunakan sistem serta register terkontrol yang tersedia.Daftar personel, akses dengan masa berlaku, pemeriksa terpisah, jadwal review dan tim pemberi dukungan. Biaya, alat, tenaga tambahan atau integrasi diajukan tersendiri berdasarkan beban kerja serta manfaat.
Dasar penilaianGunakan scorecard (ringkasan ukuran kinerja) tanggung jawab Manager dan hasil layanan bersama fungsi terkait. Sepakati cakupan, definisi, kualitas bukti dan kriteria keberhasilan sejak awal; kondisi awal (kondisi awal pembanding) serta target numerik disahkan pada review hari 30.Catatan kondisi awal, target, sumber data, pemeriksa dan periode. Dukungan yang belum tersedia, perubahan scope serta hambatan di luar kendali dicatat bersama tindakan dan dampaknya; perubahan target memiliki alasan serta persetujuan.
Review hari 30 dan 60Hari 30: tunjukkan diagnosis, kondisi awal, penugasan tim dan prioritas perbaikan. Hari 60: tunjukkan pelaksanaan, hasil uji coba, perkembangan SPV/PIC, selisih (selisih antara kebutuhan dan kondisi aktual) dan tindak lanjut. Risiko yang berdampak besar dilaporkan segera.Deputi COO (wakil pimpinan operasional) meninjau operasi dan dukungan lintas fungsi; HR meninjau kompetensi serta kesesuaian penugasan. Notulen memuat keputusan, penanggung jawab tindakan, dukungan dan tenggat.
Evaluasi hari 90 dan keputusan kelanjutanSampaikan capaian terhadap target yang disahkan, konsistensi hasil mingguan, kemampuan tim, manfaat terverifikasi serta risiko tersisa. Ajukan rekomendasi kelanjutan peran, prioritas kuartal berikutnya dan dukungan yang diperlukan.Deputi COO, COO dan HR mendokumentasikan penilaian berdasarkan kriteria yang disepakati, lalu memproses keputusan jabatan/kelanjutan sesuai kewenangan dan mekanisme perusahaan. Jika diperlukan pengembangan lanjutan, tetapkan kebutuhan pengembangan, dukungan, tenggat dan tanggal review berikutnya.

Paket bukti untuk evaluasi akhir

  • Hasil operasi: kondisi awal–target–realisasi, tren per minggu dan sampel bukti transaksi/count/serah terima yang diperiksa.
  • Hasil kepemimpinan: rencana serta laporan SPV, tindak lanjut coaching, kompetensi PIC/petugas pengganti dan contoh keputusan beserta hasilnya.
  • Perbaikan yang bertahan: penyebab masalah, implementasi, pemeriksaan efektivitas, pengulangan dan risiko yang masih terbuka.
  • Manfaat dan kebutuhan lanjutan: hasil layanan bersama penanggung jawab fungsi, manfaat biaya/penjualan yang diverifikasi bila tersedia, serta usulan sumber daya berdasarkan data.

Komitmen evaluasi saya: siap menerima penilaian berdasarkan mandat serta ukuran hasil yang disepakati, menunjukkan bukti secara terbuka kepada pihak berwenang, dan menindaklanjuti kebutuhan perbaikan dengan dukungan serta tenggat yang jelas. Keputusan promosi atau kelanjutan penugasan mengikuti hasil penilaian dan kebutuhan organisasi; periode 90 hari merupakan usulan kerangka evaluasi.

Lihat pemetaan tugas, modul sistem, bukti dan kriteria selesai.

  1. CPKB (pedoman pengendalian pembuatan kosmetik) 2020.pdf — PerBPOM Nomor 31 Tahun 2020: persyaratan personel, fasilitas, sanitasi, mutu, dokumentasi, penyimpanan, dan recall; dipetakan pada bagian CPKB dengan nomor klausul dan halaman PDF.
  2. Oracle — Inventory Optimization Calculations: hubungan demand, lead time (waktu tunggu pemenuhan), buffer, dan reorder point (titik pemesanan ulang); asumsi statistik perlu diuji pada pola demand aktual.
  3. SAP — Running Replenishment (pengisian ulang stok) Planning: perencanaan replenishment dan parameter persediaan per lokasi.
  4. Microsoft Learn — Demand forecasting overview: penggunaan histori, penyesuaian forecast, dan penanganan outlier.
Referensi pembacaan

Daftar istilah dan singkatan

Gunakan bagian ini untuk mencari kepanjangan serta arti istilah yang digunakan dalam materi.

Daftar istilah A–Z: BOM, ETA, FEFO, dan singkatan lainnya
ABC dan XYZ (klasifikasi persediaan)
ABC mengelompokkan prioritas kontribusi nilai; XYZ mengelompokkan kestabilan permintaan. Hurufnya adalah label kelompok, bukan kepanjangan bahasa Inggris yang perlu dibuat. Batas kelas ditetapkan dari data dan kebijakan perusahaan.
Adjustment, write-off, dan audit trail
Adjustment adalah penyesuaian catatan stok; write-off adalah penghapusan nilai persediaan sesuai persetujuan; audit trail adalah rekam jejak tindakan dan perubahan yang dapat ditelusuri.
API (Application Programming Interface)
Antarmuka pertukaran data antarsistem.
APJ (Apoteker Penanggung Jawab)
Apoteker dengan tanggung jawab sesuai penugasan.
Available
Stok yang diluluskan dan dapat dialokasikan setelah memperhitungkan reservasi.
B2B (Business-to-Business)
Business-to-business, yaitu kanal penjualan kepada pelanggan bisnis.
Batch / lot dan traceability
Batch / lot adalah identitas kelompok bahan atau produk yang ditetapkan dalam proses terkait. Traceability adalah kemampuan menelusuri asal, penerimaan, pemakaian, perpindahan hingga tujuan pengiriman berdasarkan bukti. Contoh: penelusuran batch FG harus menghubungkan catatan produksi, bahan terkait, lokasi stok, dan pengiriman.
BKB (Bukti Keluar Barang)
Dokumen barang keluar; nama form mengikuti perusahaan.
BOM (Bill of Materials)
Daftar kebutuhan bahan baku dan bahan kemas, termasuk jumlah serta satuannya, untuk membuat produk sesuai versi yang disetujui. Contoh: produksi 1.000 unit memerlukan 1.000 botol; perencanaan juga memperhitungkan hasil produksi, kehilangan standar, stok layak dan pasokan terkonfirmasi.
BPB (Bukti Penerimaan Barang)
Dokumen barang diterima; nama form mengikuti perusahaan.
BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)
Otoritas pengawasan obat dan makanan Indonesia.
CAPA (Corrective and Preventive Action)
Tindakan korektif dan preventif untuk mengatasi akar masalah serta mencegah kejadian berulang, dengan pemeriksaan efektivitas.
CoA (Certificate of Analysis)
Sertifikat hasil analisis bahan atau produk.
COO (Chief Operating Officer)
Pimpinan operasional perusahaan.
CPKB
Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik.
Custody, movement, dan handover
Custody adalah penguasaan serta penjagaan barang; movement adalah pergerakan stok; serah terima adalah serah terima tanggung jawab beserta bukti.
JKT
Singkatan Jakarta; DC JKT adalah lokasi distribusi Jakarta.
PG
Singkatan Padang Galak; DC PG adalah lokasi distribusi Padang Galak.
Lokasi stok produk jadi
Stok toko dan e-commerce adalah stok untuk layanan toko serta pesanan online. DC PG dan DC JKT adalah lokasi distribusi. Stockroom Jasri (Warehouse FG Pusat) adalah Warehouse pusat produk jadi. Semua lokasi fisik memiliki ID yang berbeda. Stok atau alokasi e-commerce yang memakai barang dari lokasi tersebut tidak ditambahkan lagi sebagai stok fisik baru.
DIO (Days Inventory Outstanding)
Rata-rata hari dana tertahan dalam persediaan.
DO (Delivery Order)
Dokumen perintah atau rincian pengiriman.
ERP (Enterprise Resource Planning)
Sistem terpadu proses dan data perusahaan.
ETA (Estimated Time of Arrival)
Perkiraan tanggal atau waktu kedatangan bahan maupun kiriman. Digunakan untuk mengecek kesiapan pasokan terhadap jadwal kebutuhan; perkiraan ini perlu dikonfirmasi dan diperbarui bila berubah.
Expiry date, shelf life, dan remaining shelf life
Expiry date adalah tanggal kedaluwarsa; shelf life adalah masa simpan yang ditetapkan; remaining shelf life adalah sisa masa simpan pada tanggal pemeriksaan. Contoh: produk kedaluwarsa 31 Desember diperiksa 30 September memiliki sisa sekitar tiga bulan. Bandingkan sisa masa simpan dengan persyaratan tujuan sebelum alokasi atau kirim.
FEFO — First Expired, First Out
Barang dengan tanggal kedaluwarsa paling dekat dikeluarkan lebih dahulu, meskipun diterima belakangan. Contoh: batch A diterima Januari dan kedaluwarsa Desember; batch B diterima Februari dan kedaluwarsa Oktober. Dahulukan batch B. Tetap periksa status release, kondisi barang, serta minimum sisa masa simpan yang dipersyaratkan tujuan. Barang hold, reject, atau kedaluwarsa tidak boleh dianggap siap pakai.
FG (Finished Goods)
Produk jadi yang telah selesai diproduksi. Ketersediaannya untuk dikirim tetap mengikuti status pelulusan mutu dan alokasi stok.
FIFO — First In, First Out
Barang yang masuk lebih dahulu dikeluarkan lebih dahulu. Contoh: dua batch memiliki kedaluwarsa sama, maka dahulukan batch yang diterima lebih awal sesuai SOP. FIFO membantu mencegah stok lama tertinggal. Pada penyerahan bahan awal, LO.011 rev 01 menetapkan FIFO untuk bahan kemas dan FEFO untuk bahan baku. Untuk produk jadi, ikuti LO.013/LO.014 dan persyaratan mutu tujuan.
Fill rate
Proporsi kebutuhan atau pesanan yang berhasil dipenuhi. Dasar pengukuran, misalnya unit atau baris pesanan, perlu ditetapkan agar hasil dapat dibandingkan.
GMP (Good Manufacturing Practice)
Praktik pembuatan yang baik.
Manufaktur
Proses mengolah bahan menjadi produk sesuai instruksi produksi, dengan pencatatan pemakaian bahan, hasil dan penyimpangan oleh Production.
Material issue
Pengeluaran dan penyerahan bahan dari Warehouse ke Production berdasarkan order produksi yang sah. Jumlah, satuan, batch, status mutu, pencatatan stok dan bukti serah terima harus sesuai sebelum manufaktur dimulai.
HPP (Harga Pokok Penjualan)
Biaya pokok barang yang terjual dalam perhitungan ini.
HR (Human Resources)
Fungsi pengelolaan SDM.
HTTPS (Hypertext Transfer Protocol Secure)
Koneksi web terenkripsi.
IP (Inventory Position)
Posisi persediaan untuk perhitungan pengisian.
IT (Information Technology)
Teknologi informasi; fungsi yang mendukung sistem, akses dan perangkat kerja.
JDIH (Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum)
Portal dokumentasi dan informasi peraturan untuk menelusuri naskah hukum resmi.
K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
Pengendalian keselamatan personel dan tempat kerja.
Kondisi awal dan uji coba
Kondisi awal merupakan data acuan sebelum perbaikan. Uji coba dilakukan pada cakupan terbatas untuk menilai hasil dan risiko sebelum perluasan.
KPI (Key Performance Indicator)
Indikator kinerja utama untuk menilai hasil terhadap target, misalnya akurasi stok atau kepatuhan jadwal produksi.
Lead time
Waktu dari keputusan/order pengisian sampai barang layak jual tersedia.
LIFO — Last In, First Out
Barang yang masuk terakhir dikeluarkan lebih dahulu. Contoh: barang yang baru ditumpuk di bagian paling atas diambil sebelum barang lama di bawahnya. Pahami istilah ini sebagai pembanding; jangan menjadikannya aturan rotasi umum untuk bahan atau produk yang memiliki kedaluwarsa karena stok lama dapat tertahan. Metode aliran fisik barang berbeda dari metode penilaian biaya persediaan; penilaian biaya mengikuti kebijakan Finance/Accounting.
Minimum stock, safety stock, dan reorder point
Minimum stock adalah batas minimum yang ditetapkan kebijakan; safety stock / buffer adalah cadangan untuk menghadapi ketidakpastian; reorder point adalah tingkat stok yang memicu pemesanan. Ketiganya perlu didefinisikan agar tidak tertukar.
MOQ (Minimum Order Quantity)
Jumlah minimum pemesanan.
MPS — Master Production Schedule
Jadwal induk produksi yang menjabarkan produk apa, jumlahnya, dan periode rencana pembuatannya. PPIC menyusunnya dari kebutuhan jaringan dan riwayat penjualan, lalu menguji kesiapan bahan serta kapasitas bersama fungsi terkait sebelum rencana diterbitkan sesuai mandat.
MRP — Material Requirements Planning
Perencanaan kebutuhan bahan berdasarkan rencana produksi, BOM, stok layak, penerimaan terkonfirmasi, dan lead time. Hasilnya menunjukkan bahan apa, berapa banyak, serta kapan dibutuhkan. PPIC menyusun kebutuhan; Procurement/Purchasing memproses pembelian sesuai mandat. Penyebutan MRP tidak berarti halaman ini sudah menjalankan mesin MRP otomatis.
MVP (Minimum Viable Product)
Versi awal dengan fungsi inti untuk diuji.
OSA (On-Shelf Availability)
Ketersediaan produk layak jual di rak toko saat diperiksa; digunakan untuk menilai apakah pelanggan dapat menemukan produk yang seharusnya tersedia.
OTIF (On Time In Full)
Ukuran pesanan yang diterima tepat waktu dan lengkap sesuai jumlah yang disepakati.
Overstock dan shortage
Overstock adalah stok yang melebihi kebutuhan atau target yang disepakati; shortage adalah kekurangan terhadap kebutuhan pada waktu tertentu. Contoh: jumlah bahan cukup secara total tetapi sebagian belum release dapat tetap menyebabkan shortage bahan siap pakai untuk jadwal produksi.
PCS (Pieces)
Satuan jumlah buah atau unit barang. Konversi dengan kemasan, dus atau satuan lain mengikuti data induk barang.
PIC (Person in Charge)
Personel yang ditunjuk sebagai penanggung jawab pekerjaan atau tindak lanjut, dengan hasil dan tenggat yang jelas.
Picking, packing, dispatch, dan put away
Pengambilan barang adalah pengambilan sesuai pesanan; packing adalah pengemasan; dispatch adalah pemberangkatan/penyerahan untuk pengiriman; put away adalah penempatan barang ke lokasi simpan.
PJT (Penanggung Jawab Teknis)
Personel penanggung jawab teknis sesuai penetapan perusahaan.
PM (Packaging Material)
Bahan kemas untuk produk, misalnya botol, tutup, label dan karton.
PO (Purchase Order)
Pesanan pembelian resmi kepada pemasok, berisi barang, jumlah, harga dan ketentuan pengiriman yang disetujui. Berbeda dari PR, yaitu permintaan pembelian internal.
POD (Proof of Delivery)
Bukti penerimaan kiriman.
POS (Point of Sale)
Sistem transaksi penjualan toko.
PPIC & Warehouse Manager
Manajer PPIC & Warehouse: memimpin perencanaan produksi, kebutuhan material, parameter persediaan serta penjagaan barang dan pelaksanaan Warehouse sebagai satu fungsi.
PPIC (Production Planning and Inventory Control)
Perencanaan produksi dan pengendalian persediaan; menyelaraskan kebutuhan produk, jadwal produksi dan kesiapan bahan berdasarkan data yang terverifikasi.
PR — Purchase Requisition
Permintaan pembelian internal yang memuat item, kuantitas, satuan, alasan, dan tanggal kebutuhan. Contoh: PPIC menghitung kekurangan 2.000 botol dan mengajukan kebutuhan kepada Procurement/Purchasing. PR merupakan pengajuan internal; PO adalah pesanan pembelian kepada pemasok yang diterbitkan oleh pihak berwenang.
Procurement / Purchasing
Fungsi pengadaan atau pembelian yang memproses kebutuhan, berkoordinasi dengan pemasok dan menerbitkan pesanan sesuai kewenangan.
QA (Quality Assurance)
Pemastian mutu melalui pengendalian sistem, prosedur dan bukti agar proses memenuhi persyaratan mutu.
QC (Quality Control)
Pengawasan mutu melalui pemeriksaan atau pengujian bahan dan produk sesuai persyaratan yang ditetapkan.
Quality
Fungsi mutu. Keputusan penerimaan, penahanan, pelulusan dan penolakan mutu mengikuti kewenangan yang ditetapkan perusahaan.
Quarantine, hold, release, dan reject
Quarantine adalah status karantina sambil menunggu keputusan/pemeriksaan; hold berarti ditahan; release berarti diluluskan sesuai kewenangan; reject berarti ditolak. Warehouse memisahkan dan mencatat status tersebut. Stok fisik yang masih ditahan tidak otomatis menjadi stok tersedia; keputusan mutu mengikuti fungsi Quality.
RACI (Responsible, Accountable, Consulted, Informed)
Pembagian pelaksana, penanggung jawab akhir, pihak yang dikonsultasikan, dan pihak yang diinformasikan.
Replenishment
Pengisian ulang stok berdasarkan kebutuhan dan kebijakan persediaan.
RM (Raw Material)
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.
ROP (Reorder Point)
Titik stok yang memicu pemesanan ulang.
SDM (Sumber Daya Manusia)
Personel dan kompetensi kerja.
SKU (Stock Keeping Unit)
Kode untuk satu jenis/varian produk.
SLA (Service Level Agreement)
Kesepakatan standar layanan dan waktu penyelesaian.
Slow moving, non-moving, dan dead stock
Slow moving adalah stok dengan pergerakan lambat; non-moving adalah stok tanpa pergerakan selama periode pemantauan; dead stock adalah stok yang dinilai tidak lagi memiliki penggunaan/permintaan yang layak menurut kriteria perusahaan. Batas waktunya perlu ditetapkan, bukan diasumsikan sama untuk semua SKU. Tinjau penyebab, umur, expiry, peluang pemakaian/transfer, dan keputusan tindak lanjut.
SOP (Standard Operating Procedure)
Prosedur kerja baku.
SPV (Supervisor)
Peran yang mengoordinasikan, memantau dan memeriksa pelaksanaan pekerjaan area serta merangkum laporan hasil kerja.
Stock opname, cycle count, dan recount
Stock opname adalah penghitungan fisik persediaan pada cakupan dan waktu yang ditetapkan; cycle count adalah penghitungan berkala atas sebagian item/lokasi secara bergiliran; recount adalah penghitungan ulang untuk memverifikasi hasil. Contoh: hitung item kritis setiap minggu sesuai program count, lalu lakukan recount independen bila ditemukan selisih.
Stock variance dan rekonsiliasi stok
Stock variance adalah selisih antara hasil fisik dan catatan pada waktu acuan pencatatan, satuan, lokasi, batch, dan status yang sama. Rekonsiliasi adalah pencocokan serta penjelasan selisih berdasarkan bukti. Contoh: fisik 95 pcs dan sistem 100 pcs berarti selisih minus 5 pcs; telusuri transaksi dan recount sebelum mengajukan adjustment sesuai otorisasi.
Stockout
Kondisi produk yang seharusnya tersedia tetapi tidak tersedia saat dibutuhkan.
UAT (User Acceptance Testing)
Uji penerimaan oleh pengguna sebelum operasional.
UI (User Interface)
Tampilan dan kontrol yang dipakai pengguna.
UKAI (Uji Kompetensi Apoteker Indonesia)
Uji kompetensi profesi apoteker; disebut dalam pengalaman pendampingan belajar penyusun.
UOM (Unit of Measure)
Satuan pengukuran barang, misalnya buah, kilogram atau liter. Samakan satuan dan konversinya saat menghitung kebutuhan, menerima barang dan mencatat stok.
Usable stock, on-hand, reserved, dan in-transit
Stok yang siap digunakan adalah stok yang layak digunakan; on-hand adalah stok yang ada di lokasi; reserved adalah stok yang telah dialokasikan; in-transit adalah barang dalam perjalanan. Status mutu dan reservasi menentukan stok yang benar-benar boleh dipakai.
UTC (Coordinated Universal Time)
Acuan waktu standar penyimpanan sistem.
WIP (Work in Progress)
Barang atau produksi dalam proses.
WITA (Waktu Indonesia Tengah)
Zona waktu operasional Bali, UTC+8.
WMS (Warehouse Management System)
Sistem pengelolaan kegiatan Warehouse.