Sensatia Program kerja · 90 hari
Usulan untuk pembahasan Revisi
Usulan program kerja dan ruang lingkup tanggung jawab

Warehouse & Inventory Manager

Usulan program 90 hari untuk memperkuat keandalan stok, kesiapan produksi, dan pemenuhan pesanan pada warehouse bahan awal, produk jadi, serta B2B.

Disampaikan kepada HR, Deputi COO, dan CO Founder & COO
Keandalan stokKesiapan produksiPemenuhan pesanan
01Validasi stok dan penyebab kekosongan
02Stabilkan pasokan stockroom dan DC
03Tetapkan replenishment per SKU–toko
04Ukur hasil dan cegah masalah berulang
Istilah utama dalam program
SKU
Kode untuk satu jenis/varian produk.
Stockout
Kondisi produk yang seharusnya tersedia tetapi tidak tersedia saat dibutuhkan.
Replenishment
Pengisian ulang stok berdasarkan kebutuhan dan kebijakan persediaan.
Lead time
Waktu dari keputusan/order pengisian sampai barang layak jual tersedia.
FEFO
Barang dengan expiry paling awal dikeluarkan lebih dahulu, sesuai status mutunya.
Available
Stok yang diluluskan dan dapat dialokasikan setelah memperhitungkan reservasi.
CPKB
Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik.
RACI
Pembagian pelaksana, penanggung jawab akhir, pihak yang dikonsultasikan, dan pihak yang diinformasikan.
SPV dan PIC
SPV adalah Supervisor; PIC adalah penanggung jawab pekerjaan atau area sesuai penetapan perusahaan.
RM, PM, dan FG
Raw Material (bahan baku), Packaging Material (bahan kemas), dan Finished Goods (produk jadi).
B2B
Business-to-business, yaitu kanal penjualan kepada pelanggan bisnis.
CAPA
Tindakan korektif dan preventif untuk mengatasi akar masalah serta mencegah kejadian berulang, dengan pemeriksaan efektivitas.
Kondisi awal dan uji coba
Kondisi awal merupakan data acuan sebelum perbaikan. Uji coba dilakukan pada cakupan terbatas untuk menilai hasil dan risiko sebelum perluasan.
Ringkasan untuk pengambilan keputusan

Usulan mandat dan hasil 90 hari

Disampaikan oleh Yasa Karyada kepada HR, Deputi COO, dan CO Founder & COO.

01 · Masalah bisnis

Kekosongan produk di toko perlu diselesaikan dari kebutuhan toko hingga akurasi stok dan kesiapan bahan serta produk jadi. Evaluasi awal akan mengukur penyebab, dampak layanan, biaya darurat, dan risiko persediaan.

02 · Mandat dan prioritas

Saya mengusulkan kepemimpinan operasional warehouse bahan awal, produk jadi, dan B2B melalui Warehouse Supervisor serta koordinator/PIC, sesuai cakupan yang disahkan.

  • Memvalidasi stok fisik dan Stockwiz, serta menyelesaikan pencatatan tertunda.
  • Memulihkan aliran barang bersama fungsi produksi, mutu, komersial, dan distribusi.
  • Menyelaraskan tanggung jawab dan pembinaan, serta tindakan korektif dan preventif.

Pelaporan melalui Deputi COO, dengan eskalasi kepada CO Founder & COO sesuai kewenangan. HR mendukung organisasi, kompetensi, dan personel.

03 · Hasil dan ukuran keberhasilan

Hari 30: kondisi awal dan pembagian tanggung jawab. Hari 60: hasil uji coba dan perbaikan penyebab dominan. Hari 90: evaluasi manfaat serta keputusan perluasan.

Ukuran utama mencakup akurasi stok, ketersediaan rak, pemenuhan pesanan, pengulangan masalah, umur persediaan, dan manfaat bersih. Sasaran penurunan relatif stok kosong 20% pada uji coba masih memerlukan validasi kelayakan setelah evaluasi kondisi awal.

04 · Persetujuan yang diperlukan

Mandat dan delegasi; PIC serta petugas pengganti termasuk B2B; akses Stockwiz; waktu tim lintas fungsi; serta uji coba dan evaluasi berkala.

Tambahan personel, biaya, atau sistem diajukan dengan analisis kebutuhan dan manfaat. Perbaikan awal berjalan tanpa menunggu aplikasi baru.

Program prioritas bisnis

Diagnosis kekosongan stok retail

Tujuan: meningkatkan ketersediaan produk yang layak jual di rak toko, dengan pengendalian modal kerja, kapasitas, dan risiko kedaluwarsa.

Kekosongan di toko merupakan gejala yang perlu ditelusuri. Penyebabnya dapat berada pada stok fisik, informasi sistem, perencanaan kebutuhan, ketersediaan produk jadi, alokasi DC, pengiriman, atau pengisian rak. Langkah pertama saya adalah membuktikan titik kegagalan untuk setiap kasus sebelum menetapkan tindakan.

Produksi + QC release→Stockroom produk jadi→Distribution center→Backroom toko→Rak penjualan
Prinsip diagnosis: telusuri kasus dari rak ke hulu; perbaiki pasokan dari hulu ke rak. Periksa dahulu apakah stockroom dan DC merupakan lokasi terpisah atau fungsi di lokasi yang sama agar stok dan kebutuhan transfer tidak dihitung dua kali.

Peta penyebab dan tindakan korektif

Rak kosong, stok ada di backroom toko

Bukti

Hitung rak dan backroom; cek waktu penerimaan, jadwal refill, kapasitas display, dan PIC per shift.

Tindakan / pemilik

Retail melakukan refill sebelum jam ramai dan pemeriksaan rak SKU prioritas. Store Manager memimpin; Inventory Control memverifikasi pencatatan.

Sistem menunjukkan stok, barang layak jual tidak tersedia

Bukti

Blind count; cek tester, sampel, rusak, retur, kehilangan, salah lokasi, serta penjualan atau transfer yang belum tercatat.

Tindakan / pemilik

Inventory Control dan toko merekonsiliasi dengan bukti; pisahkan status non-saleable; lakukan adjustment sesuai otorisasi dan tutup penyebab selisih.

Toko kosong, DC punya stok available

Bukti

Cek parameter minimum, permintaan toko, persetujuan, cut-off, alokasi kanal, backlog picking, dan kapasitas angkut.

Tindakan / pemilik

Planning dan Retail memperbaiki replenishment; DC dan Logistics menyepakati jadwal serta SLA order-to-receipt. Pantau pesanan terlambat setiap hari.

DC kosong, stockroom punya produk yang sudah release

Bukti

Cek transfer stockroom–DC, status reservasi, jumlah tersedia bersih, usia antrean, dan bukti penerimaan DC.

Tindakan / pemilik

Warehouse Manager menjadwalkan transfer produk prioritas dan rekonsiliasi antar-lokasi; Logistics memastikan kapasitas dan serah terima.

Produk ada tetapi masih quarantine / blocked

Bukti

Cek waktu FG receipt, kelengkapan dokumen batch, alasan hold, dan antrean pemeriksaan QA/QC.

Tindakan / pemilik

Warehouse dan QA/QC menuntaskan dokumen dan penyebab hold. Pelepasan kualitas tetap kewenangan QA/QC; stok hold tidak dihitung sebagai stok siap jual.

Produk jadi habis di stockroom dan DC

Bukti

Cek forecast, promosi, jadwal produksi, kapasitas, ketersediaan bahan/kemasan, yield, dan keterlambatan release.

Tindakan / pemilik

PPIC menyusun recovery plan bersama Production, Procurement, dan QA/QC; Warehouse menyediakan saldo tervalidasi dan prioritas shortage per SKU.

Toko tertentu habis, toko lain berlebih

Bukti

Bandingkan laju penjualan, days of cover, musim/promosi, lead time, umur stok, dan parameter tiap SKU–toko.

Tindakan / pemilik

Retail dan Planning menyeimbangkan alokasi; transfer antartoko hanya jika donor tetap aman, umur simpan cukup, dan biaya pengiriman layak.

Seluruh penyebab di atas merupakan hipotesis pemeriksaan, bukan temuan audit perusahaan. Struktur personel dalam dokumen awal juga perlu dicocokkan dengan bagan organisasi dan uraian tugas terbaru.

Eksekusi hari 1–14

Eksekusi 14 hari pertama

Mulai dengan tim kecil lintas fungsi dan data yang tersedia. Gunakan register terkontrol terlebih dahulu apabila dashboard sistem belum tersedia.

  1. Hari 1–2 · Selaraskan mandat dan bentuk tim kerja

    Konfirmasi pelaporan Warehouse & Inventory Manager kepada Deputi COO dalam rantai Operations di bawah CO Founder & COO. Bahas mandat bersama kedua atasan tersebut dan HR; tetapkan Deputi COO sebagai jalur koordinasi/eskalasi operasional serta PIC lintas fungsi. Sepakati kewenangan transfer, perubahan parameter stok, persetujuan sumber daya dan eskalasi pasokan sesuai delegasi.

    Output: mandat satu halaman, daftar PIC, batas kewenangan, dan jadwal rapat singkat harian.

  2. Hari 1–3 · Identifikasi produk dan toko paling terdampak

    Gunakan data penjualan harian 8–12 minggu sebagai titik awal, disertai riwayat stok kosong, daftar produk aktif per toko, stok per lokasi/status, pesanan terbuka, dan promosi. Riwayat yang lebih panjang digunakan untuk menilai pola musiman. Cakupan awal yang diusulkan adalah 3–5 toko dan 20–30 SKU, dipilih berdasarkan frekuensi kekosongan, kontribusi penjualan, serta perbedaan jarak dan waktu pemenuhan.

    Output: daftar prioritas SKU–toko dan kondisi awal yang menggunakan periode, jam pemeriksaan, serta definisi stockout yang konsisten.

  3. Hari 3–7 · Verifikasi fisik dan telusuri kasus sampai sumbernya

    Kunjungi stockroom, DC, dan toko uji coba. Hitung SKU prioritas, cek batch/expiry/status, cocokkan dengan sistem, dan telusuri sedikitnya 10 kejadian stockout terbaru menggunakan waktu order, picking, dispatch, penerimaan, serta refill rak. Ukur lead time aktual sampai produk layak jual tersedia di toko.

    Output: daftar selisih stok, peta proses aktual, Pareto penyebab, dan tiket tindakan dengan PIC serta tenggat.

  4. Hari 3–10 · Pulihkan ketersediaan produk yang kritis

    Isi rak dari backroom; prioritaskan transfer dari stok available; tuntaskan transaksi dan penerimaan tertunda. Pertimbangkan redistribusi antartoko melalui persetujuan Retail. Jika seluruh jaringan kekurangan, minta recovery plan PPIC beserta ETA yang realistis dan lakukan alokasi berdasarkan kebutuhan serta kebijakan kanal yang disepakati.

    Output: shortage register harian berisi kebutuhan, sumber pemenuhan, kuantitas, ETA, penyebab, pemilik tindakan, dan bukti penyelesaian.

  5. Hari 7–14 · Tetapkan aturan uji coba dan mulai evaluasi

    Susun parameter per SKU–toko: demand harian, lead time, interval review, buffer, target stock, ukuran kemasan, dan kapasitas. Simulasikan dengan data historis, jalankan pada uji coba, lalu tinjau setiap minggu bersama Retail dan Planning.

    Output: master parameter berversi, SOP replenishment uji coba, kondisi awal KPI, dan laporan minggu kedua kepada Deputi COO untuk review serta eskalasi kepada CO Founder & COO bila diperlukan.

Kebutuhan data awal

  • Penjualan POS per tanggal, SKU, dan toko; retur, promosi, hari buka, serta kejadian stok kosong.
  • Saldo fisik/sistem stockroom, DC, backroom, dan rak; reserved, quarantine, damaged, tester, batch, dan expiry.
  • Order/transfer beserta requested quantity, fulfilled quantity, ETA, actual receipt, dan backlog.
  • Master SKU, unit konversi, pack size, assortment toko, kapasitas, jadwal kirim, dan kalender produksi.

Disiplin operasi selama pemulihan

  • Daily review 15 menit untuk SKU kritis: jumlah kurang, pemilik tindakan, sumber barang, dan ETA.
  • Setiap pengiriman memakai referensi transfer yang sama di pengirim dan penerima; stok in-transit tidak dianggap stok fisik toko.
  • Kasus yang berisiko kosong sebelum penerimaan berikutnya dieskalasikan pada hari yang sama ke pemilik proses.
  • Kasus ditutup setelah barang siap dijual dan penyebab ditindaklanjuti; koreksi saldo saja belum cukup.
Rencana kontribusi 90 hari

Tahapan program 30–60–90 hari

Keberhasilan dinilai dari ketersediaan di toko dan konsistensi proses. Perluasan dilakukan setelah hasil uji coba serta dampak persediaannya ditinjau.

1–30 hari

Validasi dan pemulihan

  • Konfirmasi mandat, PIC, akses data, dan SLA awal.
  • Lakukan langkah hari 1–14 serta pemulihan SKU kritis.
  • Verifikasi stok stockroom, DC, dan toko uji coba.
  • Pemeriksaan lapangan CPKB bersama QA: status, kondisi simpan, sanitasi, alat ukur, dan dokumentasi.
  • Tentukan kondisi awal, Pareto penyebab, dan parameter SKU–toko.
  • Output hari 30: diagnosis, master parameter, recovery register, gap register CPKB, SOP awal, dan bukti pelatihan.
31–60 hari

Jalankan dan perbaiki uji coba

  • Jalankan review/order terjadwal dan dashboard pengecualian.
  • Perbaiki tiga penyebab dominan berdasarkan bukti.
  • Terapkan cycle count, SLA transfer, dan disiplin refill.
  • Verifikasi tindakan CPKB dan lakukan mock recall bersama QA/Penanggung Jawab Teknis serta Logistics.
  • Review stockout, fill rate, days of cover, dan aging mingguan.
  • Output hari 60: evaluasi uji coba, parameter yang dikalibrasi, bukti tindakan korektif, dan hasil uji traceability/recall.
61–90 hari

Evaluasi dan perluas bertahap

  • Bandingkan hasil dengan kondisi awal dan toko pembanding bila tersedia.
  • Validasi bahwa perbaikan tidak memindahkan shortage atau menumpuk stok.
  • Sahkan SOP, pemilik KPI, dan pelatihan toko/DC berikutnya.
  • Tinjau efektivitas tindakan CPKB dengan QA dan pemeriksa independen; masukkan warehouse ke program audit CPKB perusahaan.
  • Perluas sesuai kesiapan pasokan, data, dan kapasitas tim.
  • Output hari 90: laporan manfaat, status tindakan CPKB, risiko tersisa, dan roadmap kuartal berikutnya.
Usulan gerbang perluasan: data uji coba andal, tindakan utama berjalan, stockout menunjukkan penurunan yang konsisten, dan stok/aging berada dalam batas yang disepakati. Jika syarat belum terpenuhi, lanjutkan perbaikan uji coba dengan penanggung jawab dan tenggat baru.
Mandat jabatan

Mandat dan batas peran

Peran ini menghubungkan pengendalian persediaan dengan kebutuhan produksi dan distribusi sehari-hari.

Fakta dari baganUsulan ruang lingkup proses
“
Memastikan material dan produk diterima, disimpan, dipindahkan, dihitung, dan dicatat secara akurat, aman, dapat ditelusuri, serta tersedia pada saat dibutuhkan.
Usulan mandat untuk dibahas bersama HR, Deputi COO, dan CO Founder & COO

Cakupan proses end-to-end yang diusulkan

Receiving→Put Away→Storage→Material Issue→FG Receipt→Allocation
Fungsi yang tercantum pada baganRaw Material, Packaging Material, Finished Goods, Receiving & Put Away, Stock Keeper, Admin, Inventory Control, dan Cycle Count.
Cakupan area dan batas kewenanganMencakup gudang bahan baku, bahan kemas, produk jadi/stockroom, warehouse B2B, dan area produk jadi terkait. ID lokasi, PIC B2B, otorisasi transaksi, QC release, serta hubungan dengan DC, retail dan e-commerce dipetakan ke mandat dan struktur yang disahkan.
Enam domain utama

Enam fungsi utama warehouse

Bagan menetapkan fungsi organisasi. Rincian operasional berikut merupakan usulan awal untuk penyelarasan uraian tugas, kewenangan, dan SOP.

01

Receiving & Put Away

Mengendalikan titik masuk seluruh material.

  • Kesesuaian PO dan dokumen pengiriman
  • Kuantitas, kondisi, batch, dan expiry
  • Status received, quarantine, rejected, atau available
  • Ketepatan Goods Receipt dan lokasi put away
Bagan: I Komang Rai Wiguna · Stock Keeper · Warehouse Admin
02

Raw Material Warehouse

Menjaga bahan produksi tersedia dan tertelusur.

  • FIFO / FEFO dan kondisi penyimpanan
  • Pemisahan approved, quarantine, rejected, expired
  • Material issue dan return dari Production
  • Investigasi selisih konsumsi bahan
Bagan: I Made Ariata · Raw Material Staff
03

Packaging Material

Mengendalikan material kemasan dan risiko salah produk.

  • Botol, tutup, label, box, dan karton
  • Spesifikasi, kode, dan status material
  • Issue serta return dari proses packing
  • Rusak, obsolete, dan material sensitif
Bagan: I Wayan Astina Putra · Packaging Material Staff
04

Finished Goods

Menjaga produk jadi siap dialokasikan dan dikirim.

  • FG receipt setelah status kualitas jelas
  • Lokasi berdasarkan SKU, batch, dan expiry
  • Blocked, return, damaged, dan expired stock
  • Traceability ke kanal tujuan
Bagan: Finished Goods Warehouse · PIC belum tercantum
05

Inventory Control

Menjaga satu sumber angka stok yang dapat dipercaya.

  • Rekonsiliasi fisik, sistem, dan lokasi
  • Negative stock dan transaksi terlambat
  • Root-cause variance berulang
  • Governance atas stock adjustment
Bagan: I Komang Sriada Wardika
06

Stock / Cycle Count

Membangun mekanisme verifikasi yang disiplin.

  • Jadwal cycle count berbasis risiko
  • Blind count dan independensi penghitung
  • Recount dan investigasi variance
  • Pelaporan penyebab dan corrective action
Bagan: PIC belum tercantum · bukan posisi yang sama dengan Stock Keeper
Arahan kerja awal kepada tim

Penegasan struktur dan uraian tugas pada hari pertama

Setiap fungsi memiliki tugas, hasil kerja, tenggat, dan jalur koordinasi yang jelas. Penugasan berikut merupakan rancangan awal untuk disepakati saat rapat awal program.

Pada hari pertama penugasan, saya akan menyelaraskan prioritas bersama Warehouse Supervisor dan koordinator/PIC, serta menegaskan tanggung jawab, batas kewenangan, dan mekanisme pelaporan setiap area. Pelaksanaan harian dalam cakupan warehouse dikoordinasikan melalui Warehouse Supervisor. Koordinator/PIC mengarahkan pekerjaan di areanya; staf menjalankan tugas sesuai kompetensi, penugasan, dan SOP.

Kesimpulan pemeriksaan struktur: bagan menempatkan satu Warehouse Supervisor sebagai bawahan langsung Warehouse & Inventory Manager. Supervisor membawahi enam fungsi: Raw Material Warehouse, Packaging Material, Finished Goods Warehouse, Receiving & Put Away, Inventory Control, dan Stock / Cycle Count. Stock Keeper serta Warehouse Admin berada di bawah Receiving & Put Away; Raw Material Staff dan Packaging Material Staff berada di bawah koordinator areanya masing-masing.

CO Founder & COO · OperationsArah strategis Operations dan keputusan yang menjadi kewenangannya

Deputi COOAtasan langsung Warehouse & Inventory Manager; koordinasi dan eskalasi operasional

Warehouse & Inventory ManagerArah, prioritas, sumber daya, dan keputusan sesuai mandat

Warehouse Supervisor · I Ketut Mayun S.APenanggung jawab pelaksanaan harian enam fungsi warehouse

Garis pelaporan ke atas: Warehouse & Inventory Manager → Deputi COO → CO Founder & COO. Pembahasan mandat dan program dilakukan bersama HR serta kedua atasan tersebut. HR mendukung struktur, uraian tugas, penempatan, kompetensi dan kebutuhan personel; keputusan operasional/strategis serta delegasi kewenangan mengikuti rantai Operations.

Penegasan jabatan: sebutan Coordinator tercantum untuk Raw Material dan Packaging Material. Receiving, Finished Goods, Inventory Control, serta Cycle Count diperlakukan sebagai fungsi dengan PIC sesuai penetapan perusahaan; tidak otomatis menjadi jabatan koordinator baru. PIC sementara FG/Cycle Count diusulkan SPV dan disahkan Manager sesuai kewenangan serta mekanisme HR, termasuk backup dan pemeriksa terpisah.

Pemisahan uraian tugas dan kewenangan sejak hari pertama
Tingkat tanggung jawabKeputusan dan tugas utamaBatas serta hasil wajib
ManagerMenetapkan prioritas warehouse, sasaran awal dan pemilik proses dalam delegasi yang disahkan Deputi COO/CO Founder & COO. Menyelaraskan uraian tugas serta kebutuhan personel bersama HR.Menerima laporan SPV dan melaporkan hasil, risiko, CAPA serta kebutuhan keputusan kepada Deputi COO. Konflik lintas divisi, anggaran dan keputusan di luar mandat diteruskan melalui Deputi COO kepada CO Founder & COO sesuai kewenangan; pelulusan mutu tetap fungsi berwenang.
Warehouse SupervisorMengubah prioritas Manager menjadi rencana lintas area: siapa, pekerjaan, jumlah, waktu, urutan, dan pemeriksa. Mengatur kapasitas/shift, memeriksa hasil koordinator/PIC, serta memastikan serah terima dan tindak lanjut.Boleh membagi pekerjaan dan mengatur ulang prioritas di dalam mandat. Perubahan personel antararea yang berdampak pada kompetensi, overtime, biaya, atau SOP mengikuti persetujuan. Wajib menyerahkan satu laporan operasional konsolidasi, bukan hanya meneruskan laporan area.
Koordinator / PIC areaMembagi tugas dalam area sesuai personel yang ditetapkan, memeriksa kesiapan barang/lokasi/dokumen, mengawasi pelaksanaan SOP, mengonfirmasi realisasi, dan memberi peringatan sebelum kendala mengganggu area lain.Tidak memindahkan prioritas lintas area atau menjanjikan ETA di luar kendalinya tanpa SPV. Tidak meluluskan mutu atau mengesahkan adjustment sendiri. Menyerahkan laporan area yang sudah diperiksa, disertai bukti dan pekerjaan terbuka.
Staf / pelaksanaMelakukan penerimaan, penempatan, pengambilan, penyerahan, pencatatan, atau penghitungan sesuai pembagian tugas, akses, dan kompetensi; mencatat realisasi serta melaporkan ketidaksesuaian.Tidak mengubah jumlah, batch, label asli, status mutu, atau tujuan tanpa dasar dan otorisasi. Menyerahkan barang/dokumen yang benar kepada pemeriksa atau penerima yang ditetapkan.
Agenda pengarahan dan hasil akhir hari pertama
  1. Awal shift · pengarahan bersama

    Sampaikan struktur, perbedaan tanggung jawab Manager–SPV–koordinator/PIC–staf, prioritas keselamatan dan status mutu, serta jalur eskalasi. Cocokkan pekerjaan yang selama ini dijalankan dengan uraian tugas/SOP berlaku; petakan tugas tumpang tindih dan pekerjaan tanpa pemilik.

  2. Setelah pengarahan · pemeriksaan lapangan per area

    SPV mendampingi koordinator/PIC menunjukkan batas area, personel, arus barang/dokumen, stok berstatus khusus, pekerjaan terbuka, dan risiko mendesak. Mulai dari barang kritis yang datanya sudah tersedia; pemeriksaan menyeluruh dilanjutkan pada hari 1–7.

  3. Sebelum batas transaksi/pengiriman · penugasan tertulis

    SPV menyepakati tugas setiap area beserta PIC, backup, pemeriksa, tenggat, dokumen sumber, dan penerima serah terima. Manager memutuskan prioritas lintas fungsi dan penunjukan sementara sesuai mandat. Form/lembar arahan mencatat nomor versi, tanggal efektif, serta pengakuan pemahaman dari PIC.

  4. Akhir shift · review hasil dan rencana besok

    Setiap PIC menyerahkan ringkasan kondisi awal: pekerjaan selesai/belum, risiko kritis, tiga hambatan utama, serta bantuan yang dibutuhkan. SPV memeriksa dan menggabungkannya menjadi prioritas besok; Manager meninjau masalah yang perlu keputusan. Pendalaman data tetap berlanjut sampai hari 3 dan kondisi awal disusun pada bulan pertama.

Hari pertama dianggap selesai apabila: setiap area memiliki pemimpin/pelaksana/pemeriksa yang jelas, batas tugas dipahami, PIC sementara dan backup ditetapkan sesuai kewenangan, risiko mendesak ditangani, serta rencana kerja shift berikutnya disepakati. Penyelarasan uraian tugas formal dengan HR dan SOP mutu ditindaklanjuti; instruksi hari pertama tidak menggantikan otorisasi perusahaan yang berlaku.

Struktur koordinasi berdasarkan dokumen restrukturisasi
Posisi / fungsi PIC dalam bagan Atasan dalam bagan
Warehouse Supervisor I Ketut Mayun S.A Warehouse & Inventory Manager
Raw Material Warehouse I Made Ariata · Coordinator, didukung Raw Material Staff Warehouse Supervisor
Packaging Material I Wayan Astina Putra · Coordinator, didukung Packaging Material Staff Warehouse Supervisor
Finished Goods Warehouse / stockroom Belum tercantum; SPV mengusulkan PIC sementara untuk pengesahan sesuai mandat pada hari 1 Warehouse Supervisor
Receiving & Put Away I Komang Rai Wiguna Warehouse Supervisor
Stock Keeper I Wayan De Setiawan Receiving & Put Away
Warehouse Admin Ni Komang Melayanti Receiving & Put Away
Inventory Control I Komang Sriada Wardika Warehouse Supervisor
Stock / Cycle Count Belum tercantum; SPV mengusulkan petugas dan pemeriksa independen untuk penetapan sesuai mandat Warehouse Supervisor

Sumber: 10. Restrukturisasi PerDivisi.docx (acuan internal, tidak dipublikasikan), bagan Operations, serta informasi awal mengenai cakupan operasional. Jalur atasan: Deputi COO kemudian CO Founder & COO. Penempatan, kecukupan personel, cakupan DC dan delegasi dikonfirmasi bersama HR serta kedua atasan; Logistics & Distribution merupakan fungsi terpisah dalam bagan.

01 · Warehouse SupervisorI Ketut Mayun S.A · Koordinator eksekusi seluruh fungsi warehouse
Cakupan area
Koordinasi gudang bahan baku, bahan kemas, produk jadi, serta warehouse B2B dan area terkait dalam mandat. Daftarkan ID lokasi, PIC, personel dan serah terima tiap area; pemetaan PIC B2B disahkan sesuai struktur perusahaan. Tambahan area tidak otomatis menambah posisi pada bagan.
Mandat hari pertama
Pimpin briefing seluruh PIC dan cocokkan penugasan dengan bagan. Petakan personel, backup, dan pemeriksa; ajukan PIC sementara FG/Cycle Count kepada Manager. Susun satu rencana kerja enam fungsi berdasarkan kebutuhan produksi, receiving, dan transfer produk kritis; tentukan PIC, jumlah, waktu, serta titik pemeriksaan. Akhir shift, serahkan laporan konsolidasi rencana versus realisasi, backlog berumur, risiko shortage, dan keputusan yang diperlukan.
Pengawasan area
Periksa kesiapan dan hasil setiap koordinator/PIC, selesaikan benturan jadwal lintas area, serta pastikan pergerakan fisik terhubung ke bukti dan posting. SPV bertanggung jawab atas koordinasi keseluruhan; verifikasi stok oleh Inventory Control dan hitung independen tetap dilakukan petugas yang ditetapkan.
Kontrol CPKB
Pastikan peta status/lokasi, jadwal sanitasi, pengendalian hama, pemantauan kondisi simpan, daftar alat ukur beserta kalibrasi, dan matriks pelatihan tersedia. Tinjau penyimpangan per shift bersama QA/QC; bukti penutupan diverifikasi sebelum area/barang kembali digunakan. Acuan: 3.2, 5.3, Bab VI, dan 11.1.
Hari 1–7
Petakan personel, shift, lokasi, kapasitas, dan pekerjaan tertunda. Ajukan PIC serta backup yang belum tersedia untuk pengesahan sesuai kewenangan, terutama Finished Goods dan Cycle Count. Susun prioritas harian dari shortage produk/bahan, jadwal produksi, dan pengiriman; lakukan pemeriksaan lapangan kondisi penyimpanan serta keselamatan.
Hari 8–30
Jalankan daily briefing, jadwal receiving/issue/transfer, dan pemeriksaan penyelesaian transaksi. Uji titik serah terima antarfungsi, atur ulang beban kerja, dan tutup hambatan utama bersama Manager. Dokumentasikan SOP kerja yang benar-benar dijalankan.
Rutinitas dan output
Rencana kerja per shift berisi pekerjaan, PIC, jumlah, dan tenggat; laporan akhir shift berisi rencana versus realisasi, backlog, shortage, serta kendala. Setiap Jumat serahkan ringkasan kapasitas, keterlambatan, dan tindakan korektif kepada Manager.
Eskalasi
Laporkan hari yang sama jika shortage mengancam produksi atau toko, kapasitas tidak cukup, atau transaksi kritis belum selesai. Risiko keselamatan/pelepasan barang tidak sesuai status segera dihentikan pada titik terkait dan dilaporkan. Supervisor tidak mengesahkan sendiri adjustment yang diajukan timnya tanpa otorisasi yang berlaku.
02 · Receiving & Put AwayI Komang Rai Wiguna · Titik kendali barang masuk
Mandat hari pertama
Pimpin pekerjaan Stock Keeper dan Warehouse Admin dalam ruang lingkup yang ditetapkan. Daftar barang akan datang, barang sudah diterima namun belum put away/posted, dokumen kurang, serta barang bermasalah. Bagi pekerjaan pemeriksaan, penempatan, dan pencatatan dengan petugas/pemeriksa terpisah; laporkan status receipt–put away–posting serta backlog kepada SPV pada akhir shift.
Batas penugasan
Receiving mengoordinasikan pemeriksaan dan serah terima; Stock Keeper menjalankan penanganan fisik, Admin mencatat berdasarkan bukti yang sah. Atur urutan penerimaan dalam rencana SPV; perubahan jadwal yang memengaruhi area lain dieskalasikan. Bukan pemberi pelulusan mutu, persetujuan pembayaran, atau otorisasi adjustment.
Kontrol CPKB
Periksa CoA bahan baku, identitas pemasok, dokumen, label, jumlah, serta keutuhan wadah; karantina bahan awal saat datang sampai diluluskan. Jaga area bongkar muat terlindung dari cuaca dan bersihkan wadah bila perlu. Sampling dilakukan Pengawasan Mutu atau personel terlatih yang diberi delegasi. Acuan: 7.1.2, 11.1.3, dan 11.2.1.
Hari 1–7
Daftar seluruh barang sudah datang tetapi belum diterima di sistem atau belum ditempatkan. Cocokkan PO/transfer, SKU, unit, jumlah, kondisi, batch, expiry, dan dokumen. Petakan area receiving/quarantine serta waktu aktual dari kedatangan sampai put away.
Hari 8–30
Terapkan checklist penerimaan dan identitas status/lokasi; selesaikan backlog dengan Warehouse Admin serta QA/QC. Koordinasikan jadwal kedatangan dengan Procurement/Logistics melalui Supervisor. Barang quarantine ditempatkan di lokasi khusus dan tidak dialokasikan sebagai available.
Rutinitas dan output
Receiving register harian: referensi dokumen, jumlah diterima, selisih, status kualitas, lokasi, waktu datang/receipt/put away, dan PIC. Serahkan dokumen tervalidasi kepada Admin sesuai cut-off serta daftar pengecualian yang belum terselesaikan.
Eskalasi
Laporkan selisih, kerusakan, dokumen tidak lengkap, barang salah, atau penerimaan yang tertunda melewati SLA kepada Supervisor. Ketidaksesuaian kualitas diteruskan ke QA/QC; penerimaan administratif tidak menggantikan quality release.
03 · Stock KeeperI Wayan De Setiawan · Penjagaan barang dan ketertiban lokasi
Mandat hari pertama
Konfirmasi batas lokasi dan barang yang menjadi tanggung jawab dengan PIC Receiving; cocokkan penugasan fisik dengan koordinator area agar tidak terjadi dua pemberi instruksi untuk pekerjaan yang sama. Identifikasi lokasi salah, label tidak jelas, wadah rusak, dan perpindahan tanpa bukti; serahkan daftar pengecualian serta dokumen pergerakan kepada Receiving/Admin sebelum akhir shift.
Batas penugasan
Bertanggung jawab atas penanganan fisik dan ketertiban lokasi sesuai penugasan; instruksi operasional melalui Receiving. Untuk pekerjaan di RM/Packaging/FG, penjadwalan dan pemeriksa disepakati SPV dengan PIC area terkait. Tidak mengesahkan hitungan sendiri, mengubah status mutu, atau melakukan koreksi saldo tanpa otorisasi.
Kontrol CPKB
Periksa kebersihan, wadah tertutup, label asli, status, dan urutan FIFO/FEFO. Catat kondisi simpan sesuai SOP; laporkan penyimpangan suhu/kelembapan dan amankan barang terdampak untuk penilaian mutu. Pisahkan bahan sanitasi/pestisida serta bahan berbahaya sesuai sifatnya. Acuan: 6.2.4, 7.1.2.4, 11.1.2, 11.1.6, dan 11.2.2.
Hari 1–7
Petakan bin/rak dan cek kecocokan label SKU, batch, status, serta expiry. Daftar barang tanpa identitas, salah lokasi, dan campuran status. Dampingi verifikasi stok tanpa menjadi satu-satunya petugas yang mengesahkan hitungan atas barang yang dijaga.
Hari 8–30
Rapikan lokasi melalui perpindahan yang terdokumentasi; terapkan FEFO sesuai status release. Pastikan setiap pengambilan/perpindahan memakai referensi, jumlah, asal, tujuan, waktu, dan bukti serah terima.
Rutinitas dan output
Checklist lokasi serta kondisi penyimpanan per shift; log pergerakan barang yang diserahkan ke Receiving/Admin. Periksa barang rusak, mendekati expiry, dan tidak ditemukan; cocokkan pekerjaan fisik dengan dokumen sebelum penutupan shift.
Eskalasi
Laporkan barang tidak ditemukan, perpindahan tanpa dokumen, kerusakan, atau label/status tidak jelas ke Receiving dan Supervisor. Jangan memindahkan, mengeluarkan, atau mengubah saldo barang untuk menyamakan angka tanpa prosedur yang disetujui.
04 · Warehouse AdminNi Komang Melayanti · Kelengkapan dokumen dan transaksi sistem
Mandat hari pertama
Konfirmasi cakupan transaksi yang ditangani di semua area kepada Receiving/SPV. Cocokkan dokumen fisik dengan posting pada waktu snapshot yang disepakati bersama Inventory Control. Buat daftar transaksi belum posted, dokumen kurang, dan transfer belum diterima, lengkap dengan umur serta PIC penyelesaiannya; serahkan ke Receiving untuk laporan SPV.
Batas penugasan
Melakukan posting sesuai hak akses dan bukti tervalidasi, bukan mengesahkan sendiri penerimaan fisik atau keputusan mutu. Permintaan transaksi lintas area dikonsolidasikan melalui Receiving/SPV; Inventory Control memeriksa konsistensi angka tanpa mengambil alih otorisasi transaksi Admin.
Kontrol CPKB
Pelihara kartu stok per batch, bukti pelulusan/penolakan, serta catatan distribusi dengan tanggal, referensi, tujuan, batch, jumlah, dan petugas. Gunakan dokumen berlaku; koreksi tetap menyisakan catatan semula, identitas pengubah, dan tanggal. Susun retensi bersama QA serta hak akses, backup, dan validasi sistem bersama Systems. Acuan: Bab IX, 11.2.2.1, serta Anak Lampiran XI.1–XI.3.
Hari 1–7
Inventarisasi receiving, issue, return, FG receipt, dan transfer yang belum tercatat. Cocokkan referensi transaksi dengan bukti fisik; cek unit konversi, lokasi, batch, serta transaksi ganda. Susun backlog berdasarkan umur dan dampaknya pada saldo available.
Hari 8–30
Jalankan pencatatan sesuai cut-off yang disepakati dan arsipkan bukti per referensi. Cocokkan status transfer pengirim/penerima bersama Inventory Control. Ajukan koreksi master data melalui pemilik sistem; jangan membuat perubahan master tanpa otorisasi.
Rutinitas dan output
Transaction register dengan nomor dokumen, jenis, SKU, jumlah, lokasi, waktu fisik, waktu posting, dan petugas. Pada akhir shift serahkan daftar transaksi belum posted, dokumen kurang, serta transfer belum diterima; transaksi terbuka tetap tampil dalam backlog.
Eskalasi
Laporkan sistem gagal, dokumen tidak valid, transaksi duplikat, atau posting berisiko salah saldo kepada Receiving/Supervisor dan Systems. Saat sistem tidak tersedia gunakan log sementara bernomor; lakukan rekonsiliasi setelah pulih untuk mencegah posting ganda.
05 · Raw Material Warehouse CoordinatorI Made Ariata · Membawahi Raw Material Staff
Mandat hari pertama
Tetapkan pembagian lokasi dan pekerjaan Raw Material Staff. Cocokkan bahan prioritas dengan jadwal produksi terdekat, lalu laporkan usable stock, gap, status hold, expiry/retest, serta kesiapan issue. Berikan komitmen waktu hanya untuk pekerjaan yang dapat dipenuhi; kebutuhan ETA pemasok/produksi dikonfirmasi melalui SPV dan PPIC.
Koordinator dan staf
Koordinator menelaah kebutuhan, membagi pekerjaan, memeriksa SKU/batch/jumlah serta bukti issue/return, dan mengesahkan laporan area. Staf melaksanakan penempatan, penyiapan, penyerahan, pengembalian, dan catatan realisasi sesuai SOP. Koordinator tidak sekaligus menjadi satu-satunya pelaksana dan pemeriksa transaksi berisiko; bila personel terbatas, SPV menetapkan pemeriksa silang.
Kontrol CPKB
Pastikan kondisi simpan mengikuti label, CoA, dan spesifikasi yang disahkan Pengawasan Mutu. Issue hanya bahan diluluskan; jaga identitas batch dan kebersihan/penutupan wadah. Laporkan approaching expiry/retest kepada QA/QC melalui daftar peringatan yang disepakati. Contoh SOP pada Anak Lampiran VII.2 memakai pemberitahuan 3 bulan sebelum expiry; horizon operasional disahkan dalam SOP perusahaan. Acuan: 7.1.2–7.1.3, 9.2.1, dan 11.1.1.
Hari 1–7
Validasi bahan prioritas per lokasi, batch, expiry, dan status QC. Bersama PPIC bandingkan stok usable dengan kebutuhan produksi horizon awal 1–2 minggu dan inbound terkonfirmasi. Daftar kekurangan, bahan hold, serta return produksi yang belum direkonsiliasi.
Hari 8–30
Siapkan material berdasarkan permintaan resmi dan jadwal produksi; pastikan SKU/batch/unit sesuai serta hanya approved stock yang dikeluarkan. Rekonsiliasi issue dan return, dokumentasikan sisa atau kerusakan, dan tinjau lokasi serta kondisi penyimpanan sesuai spesifikasi.
Penutupan issue/return
Koordinator memeriksa realisasi staf, Production mengakui jumlah diterima/dikembalikan, dan Admin melengkapi bukti serta posting Stockwiz. Bahan kembali, wadah terbuka, atau identitas/kondisi yang diragukan melalui pemeriksaan kelayakan sesuai SOP dan QA/QC; tidak otomatis menjadi stok available. Inventory Control memverifikasi rekonsiliasi dan selisih ditindaklanjuti.
Rutinitas dan output
Material readiness report: kebutuhan produksi, usable stock, gap, ETA, dan PIC tindak lanjut. Log issue/return dengan nomor batch produksi; daftar aging/expiry dan kendala penyimpanan ditinjau setiap minggu.
Eskalasi
Shortage yang mengancam jadwal produksi segera dilaporkan ke Supervisor untuk koordinasi PPIC/Procurement. Bahan hold atau tidak sesuai kualitas dikoordinasikan dengan QA/QC; perubahan bahan atau batch mengikuti persetujuan fungsi terkait.
06 · Packaging Material CoordinatorI Wayan Astina Putra · Membawahi Packaging Material Staff
Mandat hari pertama
Bagi pekerjaan Packaging Material Staff menurut lokasi dan order packing. Cocokkan komponen botol/tutup/label/box/karton untuk produk prioritas dengan kebutuhan terdekat; tunjukkan komponen pembatas, salah versi, rusak, atau hold. Serahkan laporan kesiapan kemasan per produk dan kekurangan yang menghambat FG kepada SPV.
Koordinator dan staf
Koordinator mengendalikan kesiapan set kemasan, kebenaran kode/versi, pembagian tugas, pemeriksaan issue/return, dan laporan area. Staf menyiapkan serta menyerahkan komponen berdasarkan permintaan sah, menjaga pemisahan label, dan mencatat realisasi/sisa. Perubahan spesifikasi/artwork bukan keputusan koordinator; penyimpangan diajukan melalui SPV kepada QA dan pemilik spesifikasi.
Kontrol CPKB
Pisahkan label/bahan kemas cetak per identitas dan versi agar tidak campur baur. Sesuaikan penyimpanan dengan sifat kemasan dan lindungi dari debu. Sisa kemasan yang sudah diberi kode batch direkonsiliasi, dicatat, dan dikarantina menunggu keputusan Pengawasan Mutu. Acuan: 4.12.3, 7.7, 9.2.1, dan 11.1.2.2.
Hari 1–7
Verifikasi botol, tutup, label, box, dan karton untuk produk prioritas. Cocokkan kode, spesifikasi/versi artwork yang disetujui, unit konversi, dan jumlah dengan kebutuhan packing PPIC. Pisahkan material lama, rusak, atau obsolete dan identifikasi paket produk yang terhambat oleh satu komponen kemasan.
Hari 8–30
Siapkan kelengkapan kemasan per order packing; lakukan pemeriksaan kode/versi sebelum issue. Catat return dan material rusak berdasarkan bukti; koordinasikan ketidakcocokan spesifikasi dengan QA/QC dan pemilik spesifikasi melalui Supervisor.
Rutinitas dan output
Packaging readiness report per produk/order: kebutuhan tiap komponen, stok approved, kekurangan, ETA, dan jumlah produk yang dapat dikemas. Rekonsiliasi issue/return serta daftar risiko obsolete setiap minggu.
Eskalasi
Laporkan komponen kurang yang menghambat penyelesaian produk jadi, ketidakcocokan label/artwork, atau kerusakan. Penggantian komponen/label memerlukan persetujuan pemilik spesifikasi dan QA/QC, termasuk fungsi Regulatory bila terkait.
07 · Finished Goods Warehouse / StockroomPIC ditetapkan pada hari 1 · Prioritas pemulihan stockout retail
Produk jadi dan B2B
Cakup FG/stockroom, warehouse produk B2B, reservasi per order/customer, pemenuhan parsial, batch/shelf life dan dokumen serah terima. Pisahkan lokasi fisik dari alokasi kanal agar stok yang sama tidak dihitung dua kali. Tentukan batas tugas PIC FG dan PIC B2B melalui penetapan Manager/SPV sesuai mandat; kebutuhan komersial tetap milik Sales, pengangkutan sesuai fungsi Logistics.
Penugasan PIC B2B
Setelah PIC dan scope lokasi disahkan, validasi order/alokasi dari Sales B2B; periksa reservasi, batch, remaining shelf life, kesiapan picking/checking serta dokumen kirim. Laporkan order belum dipenuhi, kuantitas parsial/backorder, barang siap kirim, receipt/POD tertunda dan retur kepada SPV. Penyelesaian memerlukan bukti serah terima serta posting sumber; pembatalan/perubahan order dan pelepasan reservasi mengikuti keputusan Sales serta prosedur Stockwiz.
Mandat hari pertama
Setelah penunjukan PIC sesuai kewenangan, daftar produk prioritas yang siap kirim, belum release, reserved, atau menunggu transfer. Cocokkan kebutuhan transfer yang disetujui dengan stok per batch dan kesiapan dokumen. Serahkan available-to-transfer, pekerjaan transfer terbuka, penerima, serta kendala kepada SPV sebelum cut-off pengiriman.
Batas penugasan
PIC mengendalikan lokasi, status, penyiapan, pemeriksaan, dan serah terima FG sesuai alokasi. Tugas picking dan pemeriksa dispatch ditetapkan SPV dari personel yang tersedia; bagan tidak menunjukkan jabatan staf FG tersendiri. PIC tidak menentukan prioritas kanal, mengubah release, atau menjanjikan ETA transport tanpa konfirmasi Logistics.
Kontrol CPKB
Produk jadi boleh diterima sebagai karantina dengan catatan penyerahan bila area karantina berada di gudang. Distribusi hanya setelah pelulusan Pengawasan Mutu. Retur/recall diamankan terpisah dan tidak otomatis kembali menjadi available; simpan riwayat batch serta tujuan pengiriman untuk penelusuran. Acuan: 7.8, 8.3, 11.1.2.4, dan 13.2.
Hari 1–7
Validasi SKU produk jadi yang sering kosong di toko. Pisahkan released, quarantine, blocked, damaged, retur, serta reserved stock. Cocokkan fisik dan sistem; daftar barang siap kirim yang belum ditransfer ke DC serta produk belum release beserta penyebabnya.
Hari 8–30
Siapkan transfer berdasarkan alokasi yang disetujui, FEFO, dan remaining shelf life. Lakukan pemeriksaan SKU/batch/jumlah/tujuan sebelum dispatch. Koordinasikan readiness dengan DC/Logistics dan pastikan transfer ditutup melalui bukti penerimaan, bukan hanya bukti keluar gudang.
Rutinitas dan output
Laporan available-to-transfer per SKU/batch: on-hand released, reservasi, stok bersih siap alokasi, shortage, dan next release ETA. Transfer register mencatat jumlah rencana/realisasi, referensi, tujuan, dispatch, ETA, actual receipt, serta selisih.
Eskalasi
Laporkan SKU kritis yang tidak dapat memenuhi kebutuhan, barang hold, backlog transfer, atau risiko expiry kepada Supervisor/Manager. PPIC dan QA/QC menetapkan ETA supply/release; Logistics menangani pengiriman sesuai mandat, tanpa dianggap otomatis sebagai bawahan warehouse.
08 · Inventory ControlI Komang Sriada Wardika · Validasi saldo dan analisis pengecualian
Verifikasi akhir koreksi
Setelah Admin memposting dan Systems/integrasi membaca ulang data, periksa dokumen asal, SKU/batch/UOM, saldo lokasi asal dan tujuan, cutoff serta movement terkait. Catat sign-off bisnis dan versi snapshot. Hasil teknis belum dianggap penyelesaian apabila substansinya tidak cocok; kasus tetap terbuka. Untuk kasus mutu tanpa perubahan saldo, alasan read-back tidak relevan disahkan pemeriksa sesuai mandat.
Mandat hari pertama
Tetapkan satu waktu snapshot laporan dengan Admin dan PIC area. Susun daftar saldo negatif, salah status/lokasi/batch, transfer terbuka, serta SKU kritis yang memerlukan verifikasi. Pisahkan dugaan masalah data dari shortage fisik; sampaikan hasil dan usulan prioritas count kepada SPV, dengan salinan temuan kritis kepada Manager.
Batas penugasan
Memvalidasi dan menginvestigasi persediaan; tidak otomatis menjadi atasan Admin, Stock Keeper, atau petugas Cycle Count. Koordinasi jadwal dan tindakan melalui SPV. Koreksi saldo diajukan dengan bukti kepada pemberi otorisasi; penanggung jawab operasional tidak sekaligus mengesahkan investigasi atas dirinya sendiri.
Kontrol CPKB
Uji kesesuaian status sistem dengan bukti keputusan mutu dan saldo per batch. Pastikan barang ditolak, expired, rusak, retur yang belum diluluskan, serta recall tidak masuk stok layak alokasi. Rekonsiliasi pergerakan batch untuk simulasi recall bersama QA/Penanggung Jawab Teknis. Acuan: 9.1, 11.2.2, 8.3, dan 13.2.3–13.2.5.
Hari 1–7
Rekonsiliasi SKU prioritas di stockroom dan lokasi warehouse; bandingkan data DC/toko bersama PIC masing-masing. Identifikasi negative stock, salah status/lokasi/unit, transfer terbuka, serta selisih fisik. Tetapkan waktu snapshot data agar laporan memakai basis yang sama.
Hari 8–30
Susun daftar stok available/reserved/hold, register variance, dan dashboard shortage bersama Planning. Periksa usulan adjustment dengan dokumen dan hasil recount; ajukan ke pemberi otorisasi. Bantu pengujian parameter uji coba tanpa mengambil alih keputusan demand atau alokasi komersial.
Rutinitas dan output
Daily exception report berisi saldo tidak wajar, SKU berisiko kosong, transaksi terlambat, serta transfer belum selesai. Laporan mingguan memuat inventory accuracy, nilai selisih, Pareto penyebab, umur kasus, dan efektivitas perbaikan.
Eskalasi
Selisih material, stok hilang, pola transaksi berulang, atau data yang tidak andal dilaporkan ke Supervisor dan Manager. Temuan yang melibatkan pemilik proses dapat diteruskan langsung kepada Manager; koreksi disertai bukti dan persetujuan yang terpisah dari pembuat transaksi.
09 · Stock / Cycle CountPIC ditetapkan pada hari 1 · Verifikasi fisik independen
Mandat hari pertama
Setelah petugas ditetapkan, sepakati dengan SPV dan Inventory Control daftar hitung prioritas, petugas/pemeriksa berbeda, serta snapshot dan pengendalian transaksi. Lakukan hitung awal sesuai kapasitas pada barang paling berisiko; serahkan count sheet, hasil recount bila diperlukan, dan selisih yang perlu investigasi sebelum akhir shift.
Batas penugasan
Melapor secara operasional kepada SPV; menyerahkan hasil kepada Inventory Control untuk rekonsiliasi/investigasi. Petugas hitung tidak mengubah saldo agar sesuai hasil dan tidak menghitung barang yang dijaganya tanpa pemeriksa terpisah. Manager menerima eskalasi langsung bila independensi hitungan terganggu.
Kontrol CPKB
Periksa jumlah sekaligus identitas/status batch, expiry, kondisi wadah, dan posisi barang saat count; dokumentasikan pengecualian tanpa mengubah label asli. Segera laporkan barang non-saleable yang masih berstatus available. Cycle count adalah kontrol internal yang mendukung ketertelusuran, bukan pengganti audit seluruh aspek CPKB pada Bab X.
Hari 1–7
Susun jadwal hitung SKU kritis, nilai tinggi, rawan selisih, dan batch mendekati expiry. Tetapkan petugas yang tidak menghitung sendiri area penjagaannya tanpa pemeriksa terpisah. Sepakati snapshot/cut-off dan kendali transaksi selama penghitungan area terkait.
Hari 8–30
Lakukan blind count tanpa menunjukkan saldo sistem kepada penghitung; cocokkan SKU, unit, batch, status, dan lokasi. Selisih dihitung ulang oleh petugas berbeda. Serahkan hasil ke Inventory Control untuk investigasi, lalu verifikasi kembali setelah koreksi yang disetujui.
Rutinitas dan output
Count sheet bertanggal dengan penghitung/pemeriksa, snapshot, lokasi, batch, jumlah fisik, recount, dan bukti. Laporan mingguan mencatat rencana versus realisasi count, selisih, kasus belum selesai, serta kejadian berulang.
Eskalasi
Barang tidak ditemukan, transaksi tanpa dokumen selama count, atau tekanan untuk menyamakan angka dilaporkan kepada Manager. Jika tim kecil, gunakan pemeriksa silang dan review Manager; penghitungan fisik tidak memberi kewenangan melakukan adjustment sendiri.

Arahan pelaksanaan hari pertama

  1. Jelaskan tujuan bersama: saldo dapat dipercaya, bahan siap produksi, dan produk jadi siap memenuhi kebutuhan retail.
  2. SPV mengusulkan PIC/backup yang belum tersedia; penetapannya mengikuti kewenangan Manager dan mekanisme HR. Gunakan satu register pekerjaan/tindakan untuk seluruh tim.
  3. Minta ringkasan kondisi awal dan risiko mendesak pada akhir hari pertama; pendalaman backlog, tiga hambatan utama, dan kebutuhan bantuan dituntaskan pada hari 3.
  4. Supervisor menyusun rencana terpadu serta prioritas minggu pertama; saya meninjau dan menyepakati tindakan lintas fungsi.

Standar laporan operasional

Setiap laporan mencantumkan tanggal/jam snapshot, SKU, lokasi, batch/status bila relevan, kebutuhan/rencana, realisasi, gap, penyebab, PIC, tenggat/ETA, dan referensi bukti. Gunakan nomor kasus untuk menghubungkan temuan dengan tindak lanjut.

Pisahkan stok released, reserved, quarantine, serta in-transit. Hindari mencampur saldo dari waktu berbeda atau menjumlahkan stok kirim dan stok terima yang merupakan barang yang sama.

Setiap PIC bertanggung jawab atas kebenaran laporan areanya; Supervisor memeriksa kelengkapan; Inventory Control memvalidasi konsistensi angka.

Ritme koordinasi dan serah terima
Waktu Peserta / pemimpin Keputusan dan hasil kerja
Awal shift · briefing 10–15 menit Supervisor dan PIC fungsi Tetapkan prioritas, beban kerja, shortage, jadwal kedatangan/issue/transfer, PIC, serta tenggat hari itu.
Sebelum cut-off order/dispatch Supervisor, FG, Admin, Inventory Control; DC/Logistics sesuai kebutuhan Konfirmasi stok released, reservasi, kesiapan dokumen, jumlah yang dapat dipenuhi, dan ETA; shortage diteruskan ke Manager untuk koordinasi.
Akhir shift / serah terima PIC keluar/masuk shift dan Supervisor Cocokkan realisasi fisik dan posting; serahkan backlog, status hold, lokasi barang, dokumen, serta tindakan terbuka. Penerima mengakui serah terima.
Mingguan · review 30–45 menit Manager, Supervisor, dan PIC; undang pemilik masalah lintas fungsi Tinjau KPI, tiga hambatan terbesar, hasil tindakan, kebutuhan sumber daya, dan prioritas minggu berikutnya; catat pemilik keputusan.
Hari 7, 14, dan 30 Manager dan Supervisor; ringkasan kepada Deputi COO, dengan CO Founder & COO sesuai kebutuhan keputusan; HR/Planning/Logistics sesuai topik Hari 7: peta area/PIC dan backlog. Hari 14: stok kritis tervalidasi dan serah terima berjalan. Hari 30: kondisi awal, SOP awal, dan rencana perbaikan per fungsi disepakati.
Jalur eskalasi: kendala rutin disampaikan PIC kepada Supervisor; kendala lintas fungsi, shortage kritis, dan kebutuhan otorisasi diteruskan kepada saya pada hari yang sama. Masalah keselamatan, kualitas, atau integritas data dapat dilaporkan langsung tanpa menunggu rapat. Jika tenggat berisiko terlewati, PIC melapor sebelum jatuh tempo dengan penyebab, dampak, dan usulan tindakan.

Standar penutupan tugas: tugas selesai setelah hasil fisik, catatan sistem, dan bukti serah terima sesuai, serta diperiksa pihak yang ditunjuk. Ukuran awal setiap fungsi adalah kelengkapan hasil kerja dan keandalan data; target produktivitas/numerik ditetapkan setelah evaluasi kondisi awal, beban kerja, dan kapasitas personel diketahui.

Kepemimpinan dan pengembangan tim

Membangun SPV dan PIC yang mampu mengambil tanggung jawab

Hasil operasi dicapai melalui pembagian mandat, supervisi yang konsisten, pengembangan kompetensi, dan tindak lanjut yang adil.

Saya memberikan arah dan batas keputusan kepada SPV, lalu menilai hasil koordinasinya. Koordinator/PIC memimpin area dan staf menjalankan pekerjaan sesuai kompetensi. Temuan dibahas sebagai bahan perbaikan dengan bukti; risiko keselamatan, mutu atau integritas tetap dapat dieskalasikan langsung.

Rencana pembinaan 30–60–90 hari
FokusTindakan kepemimpinanBukti dan ukuran perkembangan
Hari 1–7 · kesepahamanPertemuan dengan SPV dan tiap PIC untuk mendengar kondisi aktual, mencocokkan uraian tugas, mengenali kapasitas serta menetapkan pekerjaan/pemeriksa/backup. Hambatan proses, kapasitas, dan kompetensi ditelaah sebelum penilaian kinerja ditetapkan.Lembar mandat per area, matriks kompetensi awal dan daftar hambatan. Setiap PIC dapat menjelaskan tanggung jawab, batas keputusan dan penerima serah terima.
Hari 8–30 · pembinaan SPVPembinaan mingguan usulan 30 menit: prioritas, kapasitas, delegasi, kualitas laporan dan keputusan yang perlu eskalasi. SPV membawa analisis serta usulan, bukan hanya meneruskan laporan staf.Catatan pembinaan, tindakan SPV/PIC dan review berikutnya. Evaluasi mencakup kesesuaian rencana dan realisasi, ketepatan eskalasi, serta penyelesaian masalah lintas area; target ditetapkan setelah evaluasi kondisi awal.
Hari 31–60 · kompetensi PIC/stafLatihan praktik receiving, status mutu, FEFO, UOM, serah terima, posting dan count. PIC melatih staf, SPV mengobservasi, QA/Systems membantu kompetensi khusus. Cross-training mengikuti akses serta batas independensi.Checklist demonstrasi tugas, hasil evaluasi dan otorisasi petugas yang lulus. Backup dapat menjalankan tugas kritis dengan benar; tidak sekadar tercatat hadir pelatihan.
Hari 61–90 · delegasi dan evaluasiPerluas delegasi setelah kompetensi/bukti cukup; review beban kerja, hasil area dan kebutuhan pengembangan bersama SPV. Ajukan kebutuhan personel kepada Deputi COO dengan dukungan HR dan data kapasitas.Matriks kompetensi diperbarui, backup teruji, hasil tindakan konsisten dan rencana pengembangan berikutnya. Tidak menurunkan kontrol mutu atau pemisahan tugas demi kecepatan.
Akuntabilitas dan pengakuanBerikan umpan balik spesifik berdasarkan kejadian/bukti; hargai pelaporan dini, ketepatan serah terima dan perbaikan yang bertahan. Bila masalah berulang, bedakan akar proses, kemampuan, beban dan perilaku; pembinaan formal mengikuti HR.Kesepakatan tindakan, dukungan yang diberikan, tenggat dan review. Isu disiplin/etik ditangani melalui prosedur perusahaan, dengan kerahasiaan serta kesempatan klarifikasi.
Transisi peran saya: dalam penugasan sebagai Manager, saya akan bertanggung jawab atas operasi dan hasil tim sesuai mandat yang disahkan. Pengalaman audit digunakan untuk memperkuat keputusan serta kontrol; audit independen atas area yang saya kelola tetap dilakukan pemeriksa yang ditunjuk terpisah. Saya tidak menjadi satu-satunya pihak yang menilai efektivitas pekerjaan sendiri.

Laporan kepada Deputi COO: hasil layanan/stok, perkembangan SPV/PIC, risiko dan CAPA, kapasitas serta keputusan yang dibutuhkan. HR dilibatkan pada uraian tugas, pelatihan, penempatan dan pembinaan; eskalasi strategis/sumber daya ke CO Founder & COO mengikuti kewenangan.

Mandat dan koordinasi

Kewenangan dan koordinasi

Warehouse & Inventory Manager memimpin integritas stok dan koordinasi perbaikan. Keputusan produksi, kualitas, komersial, dan modal kerja memerlukan pemilik fungsi terkait.

Usulan penanggung jawab — disahkan saat rapat awal program
Keputusan / proses Penanggung jawab akhir Pelaksana dan koordinasi
Arahan, pelaporan dan eskalasi OperationsDeputi COO; diteruskan kepada CO Founder & COO untuk keputusan sesuai kewenangannyaWarehouse & Inventory Manager menyampaikan hasil, risiko, CAPA, kebutuhan sumber daya dan permohonan keputusan. HR mendukung aspek organisasi/personel bersama atasan Operations, bukan menggantikan jalur pelaporan.
Akurasi stok dan operasi stockroom Warehouse & Inventory Manager Warehouse Supervisor, Admin, Stock Keeper, dan Inventory Control; cycle count independen serta status/batch/location discipline.
Forecast dan parameter replenishment Head of Planning / PPIC jika mandat mencakup retail; jika tidak, manajemen menunjuk satu pemilik planning retail Planning mengolah demand dan parameter; Retail memvalidasi promosi/assortment; Warehouse memvalidasi stok dan lead time; Finance meninjau dampak modal kerja.
Alokasi antar-kanal saat supply terbatas Pimpinan Commercial yang ditunjuk manajemen Planning, Retail, dan pemilik kanal menetapkan prioritas; Warehouse/DC mengeksekusi keputusan alokasi yang tercatat.
Pemenuhan dan pengiriman DC–toko Head of Logistics / Distribution DC melakukan picking/dispatch; Logistics memastikan transport dan ETA; toko mengonfirmasi penerimaan. Garis pelaporan DC perlu dikonfirmasi.
Ketersediaan di rak dan disiplin stok toko Head of Retail Store Manager memimpin penerimaan, refill, POS posting, pencatatan non-saleable, dan pemeriksaan rak.
Recovery supply dan QC release PPIC untuk rencana supply; Head of QA/QC untuk keputusan kualitas Production dan Procurement menyelesaikan hambatan supply; QA/QC menangani inspeksi/release; Warehouse menyediakan data shortage dan status barang.

Ritme pengendalian

  • Harian: SKU kritis, ETA, backlog, stockout baru, dan bukti refill/receipt.
  • Mingguan: Pareto penyebab, performa uji coba, lead time aktual, pengisian ulang, serta tindak lanjut lintas fungsi.
  • Bulanan: demand–supply review, promosi, kapasitas, aging, modal kerja, dan keputusan perubahan parameter.

Dukungan HR, Deputi COO, dan CO Founder & COO

  • Uraian tugas dan garis pelaporan yang jelas, termasuk hubungan warehouse dengan DC dan Retail.
  • Akses data POS/persediaan serta waktu PIC lintas fungsi untuk uji coba dan review.
  • Pelatihan tim tentang status stok, transfer, cycle count, FEFO, dan parameter replenishment.
  • Deputi COO menjadi jalur koordinasi dan eskalasi lintas fungsi. CO Founder & COO meninjau keputusan strategis/sumber daya sesuai kewenangannya. HR mendukung kebutuhan personel; tambahan orang, sistem dan biaya diajukan dengan bukti kebutuhan serta manfaat.
Kolaborasi lintas fungsi

Hubungan kerja lintas fungsi

Keberhasilan peran ini membutuhkan definisi serah terima, kualitas data, dan otorisasi yang jelas di antara fungsi terkait.

Warehouse &
Inventory Manager
ProcurementPO, jadwal kedatangan, kekurangan atau kelebihan penerimaan, dan ketidaksesuaian pemasok.
QA / QCIncoming inspection, quarantine, release, rejection, dan traceability.
PPICRencana produksi, kebutuhan bahan, kapasitas, dan ketersediaan stok.
ProductionMaterial issue, return, waste, hasil produksi, dan selisih pemakaian.
Logistics & DistributionAllocation, picking, shipping, transfer, dan serah terima.
Finance & SystemsValuasi, adjustment, write-off, hak akses, master lokasi, dan audit trail.
Pengendalian mutu warehouse

Persyaratan CPKB dan bukti pelaksanaan

Ketersediaan produk harus berasal dari persediaan yang telah diluluskan, disimpan sesuai persyaratan, dan dapat ditelusuri. Pemulihan stockout tetap mengikuti pengendalian mutu.

Acuan utama adalah CPKB 2020.pdf, PerBPOM Nomor 31 Tahun 2020, terutama Bab III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, dan XIII. Peraturan ini mengubah PerBPOM Nomor 25 Tahun 2019 dan tercatat berlaku pada JDIH BPOM saat penelusuran 14 Oktober 2026.

Nomor halaman di bawah adalah urutan halaman PDF (1–263), bukan nomor cetak di dalam dokumen. Matriks ini memetakan persyaratan ke rancangan kerja; status pemenuhan aktual ditentukan setelah pemeriksaan lapangan dan pemeriksaan bukti bersama fungsi mutu.

Cakupan penerapan: persyaratan CPKB dipetakan langsung ke gudang dalam kegiatan industri kosmetika. Untuk DC dan toko, kendali kondisi simpan, status produk, dan traceability diteruskan melalui SOP serta kesepakatan serah terima dengan Logistics/Retail; cakupan fasilitas dan sertifikasinya dikonfirmasi dengan QA/Regulatory. Dokumen ini tidak menyatakan seluruh toko atau DC wajib memiliki sertifikat CPKB.

Matriks persyaratan, tindakan awal, dan bukti pemenuhan

Personel, kewenangan, dan pelatihan1.2.1; 3.1.3–3.1.4; 3.2. PDF hlm. 8, 12–14.

Penerapan / PIC

Manager menyusun uraian tugas/PIC bersama HR untuk pengesahan sesuai delegasi Deputi COO/CO Founder & COO. Supervisor menilai kecukupan tim/kompetensi; QA melatih status mutu, hygiene, FIFO/FEFO dan traceability. Personel bahan berbahaya mendapat pelatihan khusus.

Bukti

Bagan/uraian tugas berlaku; matriks kompetensi; catatan materi, peserta, instruktur, tanggal, serta evaluasi efektivitas. Kewenangan pelulusan/penolakan ditetapkan fungsi Pengawasan Mutu.

Kapasitas, zonasi, dan status persediaan4.12; 11.1.1; 11.1.4. PDF hlm. 19–20, 60–63.

Penerapan / PIC

Supervisor dan PIC area memetakan kapasitas serta pemisahan karantina, diluluskan, ditolak, retur, dan recall. Sediakan ruang/lemari sampel pertinggal produk jadi dalam koordinasi QA/QC.

Bukti

Layout, label status, daftar akses, dan uji bahwa barang belum diluluskan tidak dapat di-issue/dikirim. CPKB mengenal pemisahan fisik atau sistem; bila mengandalkan sistem, keandalan blokir dan dokumentasinya harus diperiksa.

Kondisi simpan dan alat ukur4.12.2; 5.3; 9.2; 11.1.2. PDF hlm. 20, 22, 56–57, 61–62.

Penerapan / PIC

QA menetapkan kondisi sesuai spesifikasi/label/CoA; Supervisor dan Stock Keeper memantau suhu/kelembapan sesuai SOP, lokasi sensor, dan kebutuhan bahan/produk. Maintenance memastikan alat ukur dirawat dan dikalibrasi.

Bukti

Daftar persyaratan per SKU, log pemantauan, daftar alat serta status kalibrasi, catatan penyimpangan dan penilaian dampak mutu. Batas suhu maupun kelembapan tidak ditetapkan seragam tanpa dasar spesifikasi.

Sanitasi, higiene, dan pengendalian hamaBab VI; 6.1.3–6.1.6; 6.2.4; 11.1.2. PDF hlm. 22–26, 62.

Penerapan / PIC

Supervisor menetapkan jadwal, metode, dan petugas pembersihan; Stock Keeper memeriksa kebersihan/hama. Larang makan, minum, dan merokok di gudang; pisahkan bahan sanitasi dan pestisida dari bahan/produk.

Bukti

SOP dan log pembersihan, pemeriksaan hama/tindak lanjut, tempat penyimpanan bahan sanitasi, pelatihan higiene, serta pakaian kerja sesuai tugas. Penanganan personel sakit/luka mengikuti QA dan HR dengan menjaga kerahasiaan data kesehatan.

Receiving dan karantina bahan awal7.1.2; 11.1.3; 11.2.1. PDF hlm. 28–30, 63–65.

Penerapan / PIC

Receiving memeriksa pemasok, surat pesanan/pengiriman, CoA bahan baku, jumlah, label, dan kondisi kemasan. Admin memberi identitas intern serta mencatat receipt; QC menangani sampling/keputusan mutu.

Bukti

Checklist, dokumen/CoA sesuai batch, receiving register, label karantina, bukti release/reject, serta area bongkar muat terlindung cuaca. Sampling oleh personel terlatih dengan delegasi yang jelas.

Bahan berbahaya dan area sampling4.12.1; 11.1.5–11.1.6. PDF hlm. 20, 63–64.

Penerapan / PIC

RM Coordinator dan Supervisor memetakan bahan mudah terbakar/eksplosif serta kebutuhan ruang khusus dan pengamanan. QA/QC menetapkan pengambilan sampel yang mencegah kontaminasi; petugas warehouse tidak membuka wadah tanpa kewenangan/prosedur.

Bukti

Daftar bahan dan persyaratan penyimpanan, area terpisah, penampung kebocoran/pengamanan sesuai risiko, pembatasan akses bila diperlukan, serta prosedur dan catatan sampling.

Label dan bahan kemas cetak4.12.3; 7.7; 11.1.2.2. PDF hlm. 20, 35–37, 62.

Penerapan / PIC

Packaging Coordinator memisahkan identitas/versi label, menjaga kemasan dari debu, serta merekonsiliasi sisa berkode batch. Sisa tersebut menunggu keputusan Pengawasan Mutu sebelum digunakan kembali.

Bukti

Master spesifikasi/artwork disetujui, identitas lokasi, catatan issue/return dan sisa berkode, status karantina, serta keputusan disposition. Anak Lampiran VII.14 adalah contoh SOP untuk disesuaikan.

Pelulusan produk jadi sebelum distribusi3.1.3; 7.8; 11.1.2.4. PDF hlm. 12–13, 37, 63.

Penerapan / PIC

FG PIC menerima produk dengan status yang jelas. Admin mencatat karantina bila belum release; pengeluaran ke distribusi hanya memakai bukti pelulusan Pengawasan Mutu. Manager tidak mengambil alih keputusan mutu karena shortage.

Bukti

Catatan penyerahan FG, tanda tangan/stempel atau bukti release sistem, status stok, dan pemeriksaan sebelum dispatch. Anak Lampiran VII.18 menjadi contoh penyusunan SOP FG.

FIFO/FEFO, integritas wadah, dan expiry7.1.2.4; 11.2.2.2–11.2.2.4. PDF hlm. 30, 65.

Penerapan / PIC

PIC area dan Stock Keeper memilih batch sesuai urutan expiry/penerimaan dan status. Barang expired, rusak, atau tidak digunakan ditandai dan dikeluarkan dari stok layak pakai/jual; penggantian wadah/label asli perlu persetujuan Pengawasan Mutu.

Bukti

Pick/issue list per batch, expiry register, alasan serta otorisasi penyimpangan sesuai SOP, status non-saleable, dan bukti disposition. Penandaan internal tidak boleh menghilangkan identitas asli.

Pencatatan dan sistem elektronik9.1; 9.1.1–9.1.5; 11.2.2.1. PDF hlm. 54–55, 65–66.

Penerapan / PIC

Admin dan Inventory Control menjaga riwayat penerimaan/pengeluaran per batch. QA mengendalikan SOP serta retensi; Systems menyiapkan validasi, keamanan akses, backup, dan kebijakan operasional dokumentasi elektronik.

Bukti

Dokumen berlaku/disahkan; koreksi menyisakan informasi asli, tanggal, dan identitas pengubah; catatan dapat ditelusuri. CPKB menyebut catatan pembuatan minimal 1 tahun setelah expiry; retensi tiap jenis catatan warehouse ditetapkan dalam kebijakan yang menjaga riwayat batch tersebut.

Retur, penolakan, dan pemusnahan7.1.3; 8.3; 11.1.1. PDF hlm. 30–31, 53–54, 60–61.

Penerapan / PIC

FG/Receiving mengidentifikasi dan memisahkan retur; Admin mencatat asal, alasan, batch, dan jumlah. Pengawasan Mutu menentukan evaluasi serta disposition; Warehouse mengeksekusi retur ke pemasok/pemusnahan berdasarkan keputusan dan SOP yang disetujui.

Bukti

Return/reject register, status hold, evaluasi mutu, keputusan tertulis, rekonsiliasi saldo, serta berita acara bila dimusnahkan. Retur tidak otomatis dicampur dengan stok diluluskan meskipun kemasan tampak baik.

Distribusi, recall, dan audit internalBab X; 13.2.1–13.2.6; Anak Lampiran XI.3. PDF hlm. 59–60, 71–72, 248.

Penerapan / PIC

Admin/FG/Logistics menjaga batch–jumlah–tujuan; Inventory Control merekonsiliasi. Penanggung Jawab Teknis mengoordinasikan recall; Warehouse mengamankan barang. QA/manajemen menetapkan audit dan tindak lanjut dengan pemeriksa independen dari area yang dinilai.

Bukti

Catatan distribusi, kontak tujuan, laporan mock recall beserta rekonsiliasi, area recall aman, serta laporan audit dan tindakan korektif. Bab X menetapkan audit seluruh aspek minimal setahun sekali; review uji coba dan cycle count mendukung, tetapi tidak menggantikannya.

Prioritas hari 1–7

  • Pemeriksaan lapangan bersama QA: zonasi/status, kebersihan, hama, kondisi simpan, dan perlindungan receiving/dispatch.
  • Uji sampel transaksi: barang belum release tidak bisa dialokasikan; expired/retur/recall tidak menjadi available.
  • Inventarisasi alat ukur, bukti kalibrasi, SOP berlaku, kompetensi petugas, serta catatan per batch.
  • Amankan barang yang identitas/statusnya tidak jelas atau kondisi simpannya menyimpang; keputusan mutu oleh fungsi berwenang.

Output hari 14–30

  • Gap register berisi klausul, temuan aktual, dampak, tindakan sementara, PIC, tenggat, dan bukti verifikasi.
  • SOP awal receiving–storage–issue/transfer, pemantauan lingkungan, sanitasi/hama, retur, dokumentasi, dan dukungan recall.
  • Pelatihan per fungsi dengan evaluasi praktik; daftar PIC/backup dan otorisasi yang disahkan.
  • Uji penelusuran satu batch: penerimaan/produksi → saldo → transfer → DC/toko; rekonsiliasi jumlah bersama QA dan Logistics.
Penanganan penyimpangan: petugas menghentikan penggunaan/pengiriman barang terdampak, memberi status hold, dan melapor kepada Supervisor serta QA/QC. Catat lokasi, batch, jumlah, waktu/durasi, kondisi aktual, dan tindakan sementara. Pengawasan Mutu menilai dampak serta menentukan release/reject; Manager memastikan tindakan perbaikan dan bukti penutupannya.

Suhu dan kelembapan: butir 11.1.2 memberi contoh kategori suhu ruang maksimal 30°C, ruang terkendali maksimal 25°C, dan dingin 2–8°C. Pemilihan kategori serta batas kelembapan mengikuti kebutuhan/spesifikasi bahan dan produk. Frekuensi pencatatan, titik pemantauan, alarm, dan respons penyimpangan dijabarkan dalam SOP; kategori penyimpanan ditetapkan sesuai kebutuhan masing-masing bahan atau produk.

Indikator pengendalian mutu yang ditambahkan: kelengkapan bukti release sebelum dispatch, kelengkapan catatan batch–tujuan, pelaksanaan pemantauan lingkungan dan sanitasi sesuai SOP, kepatuhan status kalibrasi, efektivitas pelatihan, serta penutupan penyimpangan dengan bukti. Tujuannya adalah seluruh pengiriman memiliki otorisasi mutu yang sah dan tidak ada barang hold/non-saleable yang dikirim sebagai produk tersedia.

Anak lampiran yang diberi label “Contoh” digunakan sebagai bahan penyusunan SOP/form perusahaan, bukan disalin sebagai ketentuan angka yang otomatis berlaku. Cycle count, target penurunan stockout, jadwal briefing, dan buffer persediaan merupakan rancangan kontrol operasional program ini, bukan angka wajib CPKB.

Kebijakan persediaan toko

Kebijakan pengisian stok toko

Parameter dibuat per SKU–toko sesuai penjualan, pola permintaan, lead time, frekuensi kirim, kapasitas, dan umur simpan.

Bedakan tiga angka: safety stock adalah buffer ketidakpastian; reorder point adalah titik pemicu pemesanan; target stock adalah tingkat persediaan yang dituju setelah pengisian. Istilah “stok minimum” harus didefinisikan agar ketiganya tidak tertukar.

1. Ukur kebutuhan dan lead time

Hitung demand harian (d) setelah meninjau hari stockout, promosi, dan pola musim. Penjualan nol saat barang kosong bukan bukti demand nol. Estimasi kebutuhan yang tidak terpenuhi memakai hari sebanding ketika stok tersedia atau toko pembanding, dengan asumsi dicatat.

Lead time (L) dihitung dari keputusan/order pengisian sampai produk tersedia layak jual, termasuk persetujuan, antrean gudang, angkut, penerimaan, dan refill. Interval review (R) adalah jarak antar-review/order. Gunakan basis hari yang konsisten.

2. Kelompokkan prioritas persediaan

ABC digunakan untuk prioritas kontribusi nilai penjualan; XYZ untuk kestabilan permintaan. Keduanya dilengkapi flag produk utama, promosi, produk baru, dan lead time panjang. Klasifikasi berlaku per lokasi bila pola toko berbeda.

SKU prioritas mendapat pemeriksaan dan layanan lebih ketat. Slow mover memakai buffer serta lot lebih kecil; produk baru menggunakan analog dan review lebih sering. Parameter disesuaikan dengan karakteristik setiap toko.

3. Continuous review: pemicu order

ROP = d × L + safety stock selama L

Jika posisi persediaan sudah mencapai atau di bawah ROP, buat order sesuai kebijakan lot/target. Pendekatan ini membutuhkan pembaruan posisi stok yang andal dan pemantauan berkelanjutan.

4. Periodic review: order pada jadwal tetap

S = d × (L + R) + safety stock selama L + RQ = max(0, S − inventory position)

Untuk toko dengan jadwal kirim tetap, review tiap R hari dan pesan sampai target S. Proteksi mencakup lead time serta interval review. Buffer untuk L + R perlu dikalibrasi tersendiri, bukan otomatis memakai buffer ROP.

Inventory position (IP) = on-hand layak jual + open inbound terkonfirmasi − committed demand yang belum dipenuhi. Jangan mengurangi reservasi dua kali apabila saldo sumber sudah net of reservation. Inbound terlambat/di luar horizon proteksi dicatat terpisah dan memicu eskalasi; ETA serta jumlahnya harus dapat dipercaya.

Menetapkan safety stock: pada uji coba, gunakan buffer hari yang disepakati berdasarkan fluktuasi demand dan ketidakpastian pengiriman. Ini parameter sementara. Setelah data cukup, kalibrasi dengan variasi demand/lead time dan tingkat layanan yang disepakati, lalu uji terhadap kejadian nyata. Target probabilitas tidak stockout tidak sama dengan persentase unit order yang terpenuhi.

Simulasi periodic review

Kebutuhan pengisian per SKU–toko

Angka ilustratif, bukan data Sensatia. Inbound diasumsikan terkonfirmasi, layak dialokasikan, dan tiba dalam horizon proteksi. Kapasitas, expiry, serta jadwal kedatangan perlu diperiksa sebelum order.

Target stock52unit · S
Inventory position16unit · IP
Usulan order36unit · sesuai pack size
Cakupan on-hand2,5hari

S = 4 × (3 + 7) + 12 = 52 · IP = 10 + 6 − 0 = 16 · Q = 36 unit

Contoh perhitungan dan pertimbangan lapangan

Contoh ilustratif · satu SKU di satu toko

Demand 4 unit/hari; lead time 3 hari; review tiap 7 hari; buffer sementara 12 unit untuk horizon 10 hari. On-hand layak jual 10 unit; inbound terkonfirmasi 6 unit tiba dalam horizon; committed demand 0.

S = 4 × (3 + 7) + 12 = 52 unit
IP = 10 + 6 − 0 = 16 unit
Q = 52 − 16 = 36 unit

Dengan pack size 6, usulan pengisian adalah 36 unit, setelah kapasitas toko dan expiry dicek. Namun on-hand hanya mencukupi 2,5 hari, sedangkan lead time 3 hari: tim tetap perlu mempercepat inbound atau mengatur pasokan sementara. Jumlah order yang benar belum tentu memulihkan kekosongan tepat waktu.

Angka ini bukan data Sensatia atau rekomendasi final. Jika kapasitas/umur simpan membatasi Q, naikkan frekuensi kirim atau tinjau assortment melalui persetujuan Retail; catat gap kebutuhan yang belum terpenuhi.

Kontrol tambahan: lakukan pembulatan pack size dengan mengecek kapasitas; terapkan FEFO dan batas remaining shelf life; kebutuhan display menjadi batas minimum yang disepakati, bukan tambahan otomatis yang menggandakan demand. Review parameter bulanan serta sebelum promosi, perubahan jadwal kirim, dan lonjakan penjualan.

Pengaman CPKB pada pengisian ulang: on-hand untuk perhitungan stok layak alokasi hanya mencakup produk yang diluluskan dan sesuai kondisi simpan. Quarantine, reject, expired, damaged, recall, dan retur yang belum diluluskan tidak menjadi available. Inbound terkonfirmasi yang masih menunggu release dilaporkan sebagai rencana pasokan bersyarat dengan ETA mutu, bukan dianggap siap memenuhi shortage. Percepatan pengiriman tidak menghapus persyaratan pelulusan.

Dasar konsep: Oracle — Inventory Optimization Calculations untuk safety stock dan reorder point; SAP — Running Replenishment Planning untuk replenishment per lokasi serta kendala ruang dan umur simpan. Rancangan uji coba dan contoh di atas merupakan usulan penerapan untuk diskusi.

Hasil yang terukur

KPI dan evaluasi hasil

Definisi, sumber data, frekuensi, serta penanggung jawab KPI disepakati pada 30 hari pertama. Target berikut merupakan usulan awal; penetapan akhirnya mengikuti evaluasi kondisi awal, kapasitas pasokan, dan kesiapan tim.

Ukuran utama dan pengaman persediaan
Indikator dan definisi Pengukuran / pemilik Usulan evaluasi
On-shelf availability (OSA): observasi SKU–toko dengan barang layak jual di rak ÷ seluruh observasi assortment aktif yang wajib tersedia × 100%. Pemeriksaan rak pada jam tetap, dengan bukti; Retail. Sampel dan jam sama untuk perbandingan. Stockout rate = 100% − OSA pada basis observasi yang sama. Usulan penurunan stockout relatif 20% dari kondisi awal uji coba pada hari 90. Contoh: 10% menjadi 8%, bukan turun 20 poin persentase. Validasi kelayakan setelah diagnosis.
DC unit fill rate: unit dipenuhi untuk order eligible ÷ unit diminta pada order eligible × 100%. Order cohort tetap, cut-off jelas, dan partial fulfillment dicatat; Logistics/DC. Order tidak diturunkan kuantitasnya untuk memperbaiki angka. Perbaikan terhadap kondisi awal disertai Pareto kekurangan; tingkat layanan final disahkan bersama kapasitas supply.
OTIF toko: order diterima tepat waktu dan lengkap ÷ order yang jatuh tempo pada periode × 100%. Sesuai waktu janji dan jumlah order awal; bukti receipt toko, bukan sekadar dispatch DC; Logistics. SLA per rute/toko ditetapkan setelah lead time aktual diketahui; pantau order parsial dan terlambat.
Inventory record accuracy: baris SKU–lokasi–batch yang sesuai hitungan fisik ÷ seluruh baris yang dihitung × 100%. Blind count dengan toleransi disepakati; Inventory Control. Laporkan juga besar selisih unit/nilai agar selisih besar tidak tersamar. SKU uji coba tervalidasi pada hari 30; selisih memiliki bukti investigasi dan otorisasi penyelesaian.
Days of cover: on-hand layak jual ÷ demand harian; aging/expiry dipantau terpisah. Per SKU–lokasi; Planning dan Finance. Demand nol ditandai untuk review, bukan dipaksakan menjadi coverage normal. Tentukan batas coverage/nilai stok dan aging saat rapat awal program. Kenaikan stok harus dijelaskan oleh kebutuhan layanan, promosi, atau kebijakan yang disetujui.
Penyelesaian akar masalah: tiket jatuh tempo yang ditutup dengan bukti perbaikan ÷ seluruh tiket jatuh tempo × 100%. Register tindakan dan pemeriksaan kejadian berulang; Warehouse Manager dengan pemilik proses. Tiga penyebab dominan memiliki tindakan terverifikasi pada hari 60; cek pengulangan hingga hari 90.

Estimasi penjualan yang berpotensi hilang menggunakan demand pembanding × durasi kosong × harga jual. Pisahkan asumsi substitusi dan perpindahan pembelian; angka tersebut bukan omzet yang otomatis pulih. Finance memvalidasi manfaat terhadap tambahan modal kerja serta biaya distribusi.

Indikator operasional pendukung
Inventory accuracyKesesuaian fisik, sistem, batch, dan lokasi.Target berdasarkan kondisi awal
Transaction timelinessKetepatan waktu pencatatan receiving, issue, transfer, dan FG receipt.Target berdasarkan kondisi awal
Picking & issue accuracyKetepatan SKU, batch, jumlah, dan tujuan.Target berdasarkan kondisi awal
Variance closureKecepatan investigasi serta penyelesaian akar masalah.Target berdasarkan kondisi awal
Stock agingPengendalian slow-moving, obsolete, expired, dan blocked stock.Target berdasarkan kondisi awal
Space utilizationPemanfaatan kapasitas tanpa mengorbankan keselamatan dan akses.Target berdasarkan kondisi awal
Production serviceKetersediaan material tepat waktu bagi proses produksi.Target berdasarkan kondisi awal
Issue recurrenceEfektivitas tindakan perbaikan dalam mencegah masalah berulang.Target berdasarkan kondisi awal
Pendekatan kepemimpinan yang saya usulkan: menjalankan peran sebagai pemilik operasi warehouse dan inventory dengan memanfaatkan pengalaman compliance untuk membangun kontrol yang kuat, praktis, proporsional, dan mudah dijalankan oleh tim.
Business case untuk validasi Finance

Manfaat layanan dengan biaya dan modal kerja yang terkendali

Perhitungan berikut adalah kerangka evaluasi program, bukan klaim penghematan atau permintaan anggaran yang sudah disetujui.

Jenis manfaat dan dasar evaluasi
KomponenDasar pengukuranPerlakuan evaluasi
Penjualan yang pulihTambahan unit terjual bersih yang dapat diatribusikan ke perbaikan layanan × margin kontribusi per unit yang divalidasi Finance.Bukan seluruh estimasi lost sales otomatis pulih. Koreksi promosi, musim, substitusi, retur dan perpindahan antar-kanal agar tambahan tidak dihitung ganda.
Biaya darurat dan expiryBiaya pengiriman darurat serta kerugian expiry/write-off sebelum–sesudah pada periode dan cakupan sebanding.Hanya biaya yang benar-benar dihindari; kenaikan biaya tetap terlihat. Finance memeriksa pengakuan, hubungan sebab dan tumpang tindih manfaat antar-SKU/kasus.
Waktu administrasiVolume dokumen × waktu per proses; ukur jam kerja sebelum–sesudah dengan beban setara.Jam yang tersedia kembali adalah kapasitas tim. Tidak langsung dianggap penghematan kas/gaji tanpa pengurangan biaya nyata yang disetujui.
Modal kerjaPerubahan nilai rata-rata persediaan yang sebanding serta kebutuhan buffer/stock build-up yang disetujui.Penurunan stok dapat melepaskan dana, tetapi bukan laba. Kenaikan stok memerlukan pendanaan dan dapat menambah biaya simpan/expiry.
Biaya programPelatihan, tenaga tambahan/lembur, alat, integrasi, operasi sistem dan distribusi tambahan yang relevan.Pisahkan biaya satu kali dan bulanan; biaya implementasi yang dikapitalisasi/diamortisasi mengikuti Finance. Masukkan biaya modal/simpan yang disepakati sebelum keputusan investasi.
Lembar asumsi bulanan

Estimasi manfaat bersih uji coba

Seluruh input sengaja kosong. Isi dengan data aktual atau asumsi terdokumentasi dan tinjau bersama Finance; angka tidak tersimpan setelah halaman dimuat ulang. Model agregat memakai satu margin kontribusi rata-rata tertimbang untuk unit tambahan yang dihitung.

Kontribusi penjualan/bulanBelum diisi
Pengurangan biaya/bulanBelum diisi
Manfaat bersih model/bulanBelum diisi
Payback sederhanaBelum diisi
Kapasitas jam/bulanBelum diisi
Perubahan modal kerja*Belum diisi

Manfaat bersih = kontribusi penjualan tambahan + pengurangan biaya − biaya program bulanan.

Menunggu data dan validasi Finance.

*Positif = tambahan kebutuhan dana persediaan; negatif = potensi pelepasan dana. Tidak dimasukkan sebagai laba atau manfaat bulanan. Payback sederhana memakai biaya awal program dibagi manfaat bersih model; bukan proyeksi arus kas lengkap dan tidak memasukkan modal kerja. Pajak, depresiasi, nilai waktu uang, seasonality dan risiko perlu penilaian tersendiri bila relevan.

Cara validasi: Inventory Control menyediakan kondisi awal stok/selisih, Retail/Sales memeriksa tambahan penjualan, Logistics memeriksa biaya kirim, SPV mengukur beban kerja, dan Finance memvalidasi margin/biaya/modal kerja. Manager membawa skenario konservatif, dasar dan optimistis dengan asumsi yang dicatat kepada Deputi COO; keputusan lebih lanjut mengikuti kewenangan CO Founder & COO.

Nilai tambah yang saya bawa

Kontrol operasional utama

Pengalaman di internal audit dan pengembangan sistem dapat diterapkan untuk membangun kontrol yang praktis, proporsional, serta mendukung kecepatan operasi.

1

Pemisahan tugas

Penerimaan, pencatatan, penghitungan, persetujuan adjustment, dan pelepasan stok tidak dikendalikan satu orang.

Prioritas
2

Ketertiban status dan lokasi

Barang available, quarantine, rejected, blocked, damaged, dan expired dipisahkan secara fisik serta sistem.

Prioritas
3

Ketepatan pencatatan transaksi

Setiap pergerakan fisik terhubung ke bukti dan transaksi Stockwiz pada cut-off yang disepakati; backlog, pengecualian dan gangguan sistem tetap terlihat serta direkonsiliasi.

Core
4

Pengendalian koreksi stok

Setiap penyesuaian memiliki alasan, bukti, investigasi, otorisasi, dan audit trail.

Prioritas
5

Ketertelusuran batch dan kedaluwarsa

Setiap penerimaan, penyimpanan, issue, produk jadi, dan pengiriman dapat ditelusuri sampai batch.

Core
6

Penghitungan berkala independen

Penghitungan didesain independen dan menghasilkan tindakan perbaikan, bukan sekadar koreksi angka.

Core
Fokus manajemen risiko

Risiko dan prioritas pengendalian

Daftar awal untuk penyusunan control matrix dan prioritas peningkatan proses warehouse serta inventory.

RisikoDampakPrioritas awal
Pergerakan fisik tanpa transaksi sistemSaldo stok tidak andal dan berpotensi menyebabkan kesalahan alokasi.Tinggi
Stok quarantine bercampur dengan availableMaterial atau produk yang belum dirilis berpotensi digunakan atau dikirim.Tinggi
Adjustment tanpa investigasi memadaiAkar masalah tidak terselesaikan dan risiko penyimpangan meningkat.Tinggi
Batch atau expiry tidak akuratTraceability, FEFO, recall, dan kepatuhan dapat terganggu.Tinggi
Cycle count tidak independenKesalahan berulang hanya dikoreksi tanpa tindakan perbaikan.Sedang
Batas tanggung jawab DC belum jelasTransfer, kepemilikan proses, dan rekonsiliasi antar-lokasi menjadi lemah.Sedang
Keputusan saat kondisi tidak ideal

Rencana menghadapi hambatan utama

Prioritas tetap keselamatan, mutu, keandalan data, kebutuhan pelanggan dan keterbukaan eskalasi. Tabel ini merupakan skenario antisipasi, bukan temuan bahwa hambatan tersebut sudah terjadi.

Kondisi pemicu, tindakan sementara, dan jalur keputusan
Kondisi pemicuKeputusan dan cara kerja sementaraPenanggung jawab, eskalasi, dan kriteria penyelesaian
Supply tidak cukup sampai penerimaan berikutnyaValidasi eligible stock dan kebutuhan; minta recovery PPIC, konfirmasi ETA serta alokasi Sales/Retail. Pertimbangkan redistribusi sesuai biaya/expiry; hindari menjanjikan jumlah/tanggal yang belum dikonfirmasi.SPV menyajikan gap, Manager mengoordinasikan pemilik fungsi. Konflik prioritas ke Deputi COO, keputusan strategis ke CO Founder & COO. Tutup setelah supply/alternatif terbukti memenuhi kebutuhan dan sisa gap tercatat.
Saldo/snapshot Stockwiz diragukan atau terlambatBatasi scope keputusan yang terkena dampak; gunakan snapshot valid terakhir bertanggal dan verifikasi fisik terarah. Nomori log transaksi sementara; pencatatan sementara wajib direkonsiliasi dengan sumber resmi.Inventory Control, Admin dan Systems, dikoordinasikan SPV. Setelah pulih, rekonsiliasi semua movement dan referensi untuk mencegah posting ganda; Manager memutuskan risiko residual dalam mandat.
Personel kurang / petugas kunci absenSPV memprioritaskan pekerjaan kritis, memakai backup yang kompeten dan menjadwalkan ulang pekerjaan berisiko rendah. Pemeriksa silang tetap tersedia; beban tambahan/lembur tidak diasumsikan otomatis disetujui.Manager mengajukan kebutuhan kapasitas kepada Deputi COO bersama data volume/waktu; HR mendukung penempatan/pelatihan. Review setelah backlog terkendali dan backup terbukti mampu.
Integrasi/aplikasi baru belum tersediaJalankan Stockwiz yang ada ditambah register tugas, count, exception dan CAPA terkontrol. Tetapkan nomor referensi, hak akses, versi dan lokasi bukti; prioritaskan disiplin serah terima sebelum otomasi.SPV/Inventory Control menjaga proses; Systems memvalidasi rencana integrasi. Migrasi hanya setelah mapping, uji akses, rekonsiliasi dan acceptance test disetujui pemilik proses/QA.
Barang hold, penyimpangan mutu atau kondisi simpanAmankan scope barang, hentikan penggunaan/pengiriman terdampak sesuai SOP dan lapor QA/QC. Perbarui rencana supply dengan stok eligible; tekanan layanan tidak menggantikan pelulusan mutu.QA/QC memutuskan dampak/disposition, PJT mengoordinasikan recall bila diperlukan. Manager melapor risiko signifikan ke Deputi COO; pelepasan sesuai keputusan fungsi berwenang dan bukti.
Konflik target / tindakan tidak berjalan atau berulangSPV menunjukkan fakta, dampak dan pilihan. Manager menyepakati pemilik keputusan; bedakan kekurangan proses, kompetensi dan perilaku. Kasus sistemik/berisiko masuk CAPA dan evaluasi efektivitas.Konflik lintas fungsi ke Deputi COO; perubahan mandat/biaya sesuai delegasi. HR mendukung pembinaan formal bila relevan. Ketidakefektifan membuka kembali tindakan dengan tenggat/bukti baru.

Paket eskalasi yang saya bawa: kondisi dan bukti, pelanggan/order/produksi terdampak, dampak waktu/nilai, pilihan beserta konsekuensinya, rekomendasi, pemilik tindakan, serta batas waktu keputusan. Setiap keputusan dicatat dan ditinjau kembali; tidak menunggu rapat bila risiko membutuhkan tindakan segera.

Kesiapan memimpin

Pengalaman dan kompetensi pendukung

Pengalaman supervisi operasional, pengendalian persediaan, audit lintas fungsi, pembinaan, dan pengembangan sistem menjadi dasar kontribusi yang saya tawarkan. Penerapannya akan disesuaikan dengan skala, proses, dan kebutuhan warehouse perusahaan.

Keterkaitan pengalaman dengan tanggung jawab Warehouse & Inventory Manager
PengalamanRelevansi terhadap jabatanFokus penerapan
Pharmacy Manager / Apoteker Penanggung Jawab, Kimia Farma Lengkong: operasional harian, supervisi tenaga teknis, SOP, pengadaan/persediaan, serta validasi penjualan dan stok opname.Memimpin operasi, membagi pekerjaan, mengelola layanan dan persediaan, serta meninjau realisasi.Menyusun prioritas, membagi tanggung jawab, dan mengevaluasi hasil tim. Penerapan pada warehouse industri didukung pendalaman proses, kapasitas, dan risiko spesifik bersama tim.
Compliance Auditor PT Sensatia Botanicals: audit factory, head office, retail, dan pemasok; evaluasi BPOM/CPKB serta koordinasi tindak lanjut.Memahami proses lintas fungsi, mutu, risiko, dan penyelesaian temuan bersama pemilik proses.Menggunakan bukti untuk menentukan prioritas perbaikan dan memantau efektivitas tindakan. Audit independen atas area yang dikelola tetap dilakukan oleh pemeriksa terpisah.
Pengembangan aplikasi web audit, inspeksi retail, dokumentasi, dan pengendalian stok opname; Compliance Workspace.Menerjemahkan kebutuhan administrasi dan data menjadi alur yang tertelusur serta mendukung tindak lanjut.Menyusun kebutuhan sistem bersama pelaksana dan Systems, menguji alur, serta mengevaluasi manfaat berdasarkan data penggunaan dan hasil operasional.
Supermentor UKAI dan peer mentor: penyusunan modul, pendampingan, evaluasi kebutuhan belajar, serta umpan balik perkembangan.Mengembangkan kompetensi melalui penjelasan terstruktur, praktik, dan evaluasi pemahaman.Mendukung pembinaan SPV/PIC dan pelatihan staf melalui demonstrasi tugas, umpan balik, serta evaluasi kompetensi sesuai SOP perusahaan.
Ideas Box: Runner-Up Agustus dan Winner September 2026; inisiatif Monthly Product Focus & SA Incentive serta RxStock.Menghubungkan masalah operasional, persediaan, dan peluang perbaikan dengan usulan solusi.Mengembangkan usulan berbasis kebutuhan bisnis dan mengukur manfaat setelah implementasi. Pengakuan atas ide dan hasil operasional dilaporkan sebagai capaian yang terpisah.

Komitmen pengembangan saya: mendalami kapasitas warehouse industri, arus RM/Packaging/FG/B2B, master/UOM Stockwiz dan pengambilan keputusan supply bersama tim pada bulan pertama. Saya membawa pengalaman yang relevan sekaligus terbuka pada penilaian kompetensi dan pembinaan dari Deputi COO.

Ringkasan pengalaman mengacu pada riwayat profesional Yasa Karyada yang diperbarui 8 Oktober 2026. Dokumen pendukung tersedia untuk pembahasan sesuai ketentuan kerahasiaan perusahaan.

Pembahasan bersama HR dan atasan Operations

Komitmen dan dukungan HR, Deputi COO, serta CO Founder & COO

“Saya siap mengambil tanggung jawab atas hasil warehouse bahan awal, produk jadi dan B2B melalui tim yang terarah, data persediaan yang dapat dipercaya, serta koordinasi lintas fungsi. Prioritas 90 hari saya adalah memvalidasi kondisi, mempertegas tanggung jawab SPV/PIC, memulihkan aliran barang prioritas dan membuktikan perbaikan melalui uji coba. Saya akan melaporkan hasil, risiko dan kebutuhan keputusan kepada Deputi COO, dengan eskalasi kepada CO Founder & COO sesuai mandat. Pengalaman supervisi operasi, compliance, audit, pembinaan dan pengembangan sistem saya gunakan untuk mendukung pelaksanaan. Keberhasilan dinilai dari layanan, keandalan stok, kemampuan tim dan manfaat bisnis yang dapat diverifikasi; aplikasi menjadi alat pendukungnya.”

Keputusan yang saya harapkan dari diskusi bersama HR, Deputi COO, dan CO Founder & COO: pengesahan mandat, garis pelaporan, delegasi persetujuan, kebutuhan personel, dukungan PIC lintas fungsi, akses data dan pelaksanaan uji coba. Saya menyampaikan laporan pelaksanaan kepada Deputi COO; keputusan di luar kewenangan diteruskan kepada CO Founder & COO melalui jalur tersebut. HR mendukung aspek organisasi, uraian tugas, kompetensi dan penempatan.

Dokumen ini merupakan usulan program kerja. Struktur dan nama PIC warehouse telah dicocokkan dengan bagan Operations dalam 10. Restrukturisasi PerDivisi.docx. Seluruh data operasional bersumber dari Stockwiz berdasarkan informasi awal mengenai proses operasional; metode akses, mapping, kondisi lapangan, penempatan PIC terkini, dan parameter operasional dikonfirmasi saat rapat awal program. Keterkaitan uraian tugas, modul, bukti dan kriteria selesai tersedia pada matriks uraian tugas → sistem. Rancangan ini disertai simulasi ilustratif dan belum terhubung secara operasional dengan Stockwiz.

  1. CPKB 2020.pdf — PerBPOM Nomor 31 Tahun 2020: persyaratan personel, fasilitas, sanitasi, mutu, dokumentasi, penyimpanan, dan recall; dipetakan pada bagian CPKB dengan nomor klausul dan halaman PDF.
  2. Oracle — Inventory Optimization Calculations: hubungan demand, lead time, buffer, dan reorder point; asumsi statistik perlu diuji pada pola demand aktual.
  3. SAP — Running Replenishment Planning: perencanaan replenishment dan parameter persediaan per lokasi.
  4. Microsoft Learn — Demand forecasting overview: penggunaan histori, penyesuaian forecast, dan penanganan outlier.